Rabu, 11 Mei 2011

STRATEGI INKUIRI

“ Pembelajaran Inquiry “
Metode inquiry salah satu strategi pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mendapatkan jawabannya sendiri. Metode pembelajaran ini dalam penyampaian bahan pelajarannya tak dalam bentuk final dan tak langsung. Artinya, dalam metode inquiry peserta didik sendiri diberi peluang untuk mencari, meneliti dan memecahkan jawaban, menggunakan teknik pemecahan masalah.
Pendekatan dan strategi pembelajaran saat ini diharapkan lebih menekankan agar siswa dipandang sebagai subjek belajar. Konsep ini bertujuan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah , siswa ‘bekerja’ dan mengalami, bukan berupa transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Salah satunya, adalah metode inquiry. Pendidikan tak lagi berpusat pada lembaga atau pengajar yang hanya mencetak lulusan kurang berkualitas, tapi berpusat pada peserta didik.
Pengertian inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukan. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003). Inkuiri sebenarnya merupakan prosedur yang biasa dilakukan oleh ilmuwan dan orang dewasa yang memiliki motivasi tinggi dalam upaya memahami fenomena alam, memperjelas pemahaman, dan menerapkannnya dalam kehidupan sehari-hari (Hebrank, 2000; Budnitz, 2003; Chiapetta & Adams, 2004).
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, mengevaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya. (Depdikbud, 1997; NRC, 2000). Sebagai strategi pembelajaran, inkuiri dapat diimplementasikan secara terpadu dengan strategi lain sehingga dapat membantu pengembangan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan melakukan kegiatan inkuiri oleh siswa.
2. Tingkatan inkuiri
Ada tiga tingkatan inkuiri berdasarkan variasi bentuk keterlibatannya dan intensistas keterlibatan siswa, yaitu:
a. Inkuiri tingkat pertama
Inkuiri tingkat pertama merupakan kegiatan inkuiri di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan yang intensif dari guru. Inkuiri tipe ini, tergolong kategori inkuiri terbimbing ( guided Inquiry ) menurut kriteria Bonnstetter, (2000); Marten-Hansen, (2002), dan Oliver-Hoyo, et al (2004). Sedangkan Orlich, et al (1998) menyebutnya sebagai pembelajaran penemuan (discovery learning) karena siswa dibimbing secara hati-hati untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapkan kepadanya.
Dalam inkuiri terbimbing kegiatan belajar harus dikelola dengan baik oleh guru dan luaran pembelajaran sudah dapat diprediksikan sejak awal. Inkuiri jenis ini cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran mengenai konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasar dalam bidang ilmu tertentu. Orlich, et al (1998) menyatakan ada beberapa karakteristik dari inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan yaitu: (1) siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi, (2) sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau obyek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai, (3) guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas, (4) tiap-tiap siswa berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas, (5) kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran, (6) biasanya sejumlah generalisasi tertentu akan diperoleh dari siswa, (7) guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam kelas.
b. Inkuiri Bebas
Inkuiri tingkat kedua dan ketiga menurut Callahan et al , (1992) dan Bonnstetter, (2000) dapat dikategorikan sebagai inkuiri bebas (unguided Inquiry) menurut definisi Orlich, et al (1998). Dalam inkuiri bebas, siswa difasilitasi untuk dapat mengidentifikasi masalah dan merancang proses penyelidikan. Siswa dimotivasi untuk mengemukakan gagasannya dan merancang cara untuk menguji gagasan tersebut. Untuk itu siswa diberi motivasi untuk melatih keterampilan berpikir kritis seperti mencari informasi, menganalisis argumen dan data, membangun dan mensintesis ide-ide baru, memanfaatkan ide-ide awalnya untuk memecahkan masalah serta menggeneralisasikan data. Guru berperan dalam mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan tentatif yang menjadikan kegiatan belajar lebih menyerupai kegiatan penelitian seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Beberapa karakteristik yang menandai kegiatan inkuiri bebas ialah: (1) siswa mengembangkan kemampuannya dalam melakukan observasi khusus untuk membuat inferensi, (2) sasaran belajar adalah proses pengamatan kejadian, obyek dan data yang kemudian mengarahkan pada perangkat generalisasi yang sesuai, (3) guru hanya mengontrol ketersediaan materi dan menyarankan materi inisiasi, (4) dari materi yang tersedia siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa bimbingan guru, (5) ketersediaan materi di dalam kelas menjadi penting agar kelas dapat berfungsi sebagai laboratorium, (6) kebermaknaan didapatkan oleh siswa melalui observasi dan inferensi serta melalui interaksi dengan siswa lain, (7) guru tidak membatasi generalisasi yang dibuat oleh siswa, dan (8) guru mendorong siswa untuk mengkomunikasikan generalisasi yang dibuat sehingga dapat bermanfaat bagi semua siswa dalam kelas.
3. Langkah-langkah pembelajaran dalam inkuiri
Langkah pembelajaran inkuri, merupakan suatu siklus yang dimulai dari:
1. Observasi atau pengamatan terhadap berbagai fenomena alam
2. Mengajukan pertanyaan tentang fenomena yang dihadapi
3. Mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban
4. Mengumpulkan data yang terkait dengan pertanyaan yang diajukan
5. Merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data.

4. Sasaran Pembelajaran inkuiri
Sasaran pembelajaran yang dapat dicapai dengan penerapan inkuiri adalah:
Sasaran kognitif
1. Memahami bidang khusus dari materi pelajaran
2. Mengembangkan keterampilan proses sains
3. Mengembangkan kemampuan bertanya, memecahkan masalah dan melakukan percobaan
4. Menerapkan pengetahuan dalam situasi baru yang berbeda.
5. Mengevaluasi dan mensintesis informasi, ide dan masalah baru
6. Memperkuat keterampilan berpikir kritis
Sasaran afektif
1. Mengembangkan minat terhadap pelajaran dan bidang ilmu
1. Memperoleh apresiasi untuk pertimbangan moral dan etika yang relevan dengan bidang ilmu tertentu.
2. Meningkatkan intelektual dan integritas
3. Mendapatkan kemampuan untuk belajar dan menerapkan materi pengetahuan.
Sumber :
http://sholehsmart.blogspot.com
Strategi Pembelajaran
Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).
Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing model pembelajaran tersebut.
A. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.
Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :
1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus)
3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
B. Bermain Peran (Role Playing)
Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.
Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian
Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.
Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.
C. Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)
Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.
Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:
1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
2. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
3. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
4. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
5. Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
6. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
7. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.
D. Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas).
Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); (2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).
Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu: (1) mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan (3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) corrective technique yaitu semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas).
Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.
E. Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:


1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
2. Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.
4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.
Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.
Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai beriku:
1. Pendahuluan; yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
2. Tujuan Pembelajaran; berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta didik, setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.
3. Tes Awal; yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui kemampuan awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah perlu untuk mempelajari atau tidak modul tersebut.
4. Pengalaman Belajar; yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang dicapainya.
5. Sumber Belajar; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik.
6. Tes Akhir; instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul
Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.
F. Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis,
Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b) melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan hipotesis.
3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa, terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b) menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.
4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan; dan (b) merumuskan kesimpulan
5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi
Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.
Sumber :
http : akhmadsudrajat.wordpress.com.

MEDIA PEMBELAJARAN

RESUME BUKU “ MEDIA PEMBELAJARAN ”
OLEH : Prof.Dr.H.Asnawir & Drs.M.Basyirudin Usman, M.Pd
( Jakarta : Ciputat Pers, 2002 )
BAB I
KOMUNIKASI DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
Masalah pengajaran merupakan masalah yang cukup komplek.Banyak factor yang mempengaruhi pengajaran, salah satunya adalah guru. Guru merupakan komponen pengajaran yang memegang peranan penting, karena keberhasilah pengajaran sangat ditentukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyampai materi kepada siswa.Keberhasilan guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada kelancaran interaksi komunikasinya terhadap siswa. Ketidaklancaran komunikasi akan membawa akibat terhadap pesan yang diberikan guru. Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbol-simbol komunikasi berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan oleh penerima pesan. Adakalanya proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami hambatan.Hambatan dalam komunikasi misalnya :
a) Vervalisme, guru hanya berkata-kata, sedang murid dalam kondisi yang pasif
b) Perhatian murid yang bercabang
c) Kekacauan penafsiran
d) Tidak ada respon dari murid
e) Kurang perhatian murid karena guru sanagt monoton
f) Keadaan lingkungan fisik yang sangat mengganggu
Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (isi/materi ajar) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran.
Perkembangan ilmu dan teknologi semakin mendorong usaha-usaha ke arah pembaharuan dalam memanfaatkan hasil-hasil teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam melaksanakan tugasnya, guru (pengajar) dituntut untuk dapat menggunakan alat atau bahan pendukung proses pembelajaran, dari alat yang sederhana sampai alat yang canggih (sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman). Bahkan mungkin lebih dari itu, guru diharapkan mampu mengembangkan keterampilan membuat media pembelajarannya sendiri. Oleh karena itu, guru (pengajar) harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran.




BAB II
SIGNIFIKASI PENGGUNAAN MEDIA
1.Pengertian Media
Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’ (Arsyad, 2002; Sadiman, dkk., 1990). Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan (software) dan/atau alat (hardware).
Association of Education and Communication Technology (AECT) memberikan pengertian tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi.Dan Menurut National Education Association -NEA (dalam Sadiman, dkk., 1990), media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik yang tercetak maupun audio visual beserta peralatannya.
Berdasarkan defenisi-defenisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk meyampaikan isi materi ajar dari sumber belajar ke pebelajar (individu atau kelompok), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat pebelajar sedemikian rupa sehingga proses belajar (di dalam/di luar kelas) menjadi lebih efektif.
2.Urgensi Penggunaan Media
Pada hakikatnya, proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Dan dalam komunikasi biasanya sering terjadi penyimpangan - penyimpangan sehingga menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif dan efisien. Penyimpangan – penyimpangan ini biasanya disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan siswa, dan kurangnya minat dari siswa. Untuk mengatasi hal ini, maka penggunaan media secara terintegrasi tentu menjadi sangat penting dilakukan dalam proses komunikasi.Karena penggunaan media dalam proses belajar memiliki nilai-nilai praktis , antaralain:
a) Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa
b) Media dapat mengatasi ruang kelas
c) Media dapat memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dan lingkungan
d) Media menghasilkan keseragaman pengamatan
e) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit dan realistis
f) Media dapat membangkitkan minat dan keinginan siswa
g) Media dapat member pengalaman yang integral dari suatu yang konkrit dan abstrak
h) Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar
3.Kriteria Pemilihan Media
Ada beberapa criteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, antara lain yaitu :
a) Media yang akan dipilih hendaknya selaras dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
b) Media yang akan dipilih hendaknya sesuai dengan materi yang akan disampaikan
c) Media yang akan dipilih hendaknya sesuai dengan kondisi siswa yang akan diajar
d) Media yang akan dipilih hendaknya sesuai dengan ketersediaan media di sekolah
e) Media yang akan dipilih hendaknya tepat dan berhasil guna bagi siswa
f) Media yang akan dipilih hendaknya seimbang antara pengeluaran biaya dan hasil yang akan dicapai

BAB III
MEDIA DAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
1.Guru dan Media Pembelajaran
Guru merupakan komponen yang sangat berperan dalam penentuan penggunaan media yang efektif dalam proses pembelajaran. Semakin majunya perkembangan masyarakat dan teknologi ,semakin menuntut guru untuk memiliki pengetahuan yang cukup tentang media pembelajaran. Menurut Oemar (1985 )Pengetahuan tentang media yang harus dimiliki seoarang guru ialah :
a) Pengetahuan tentang media sebagai alat komunikasi yang efektif dalam belajar mengajar
b) Pengetahuan tentang media sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan
c) Pengetahuan tentang media dan hubungannya dengan metode mengaajar
d) Pengetahuan tentang nilai dan manfaat media pengajaran
e) Pengetahuan tentang penggunaan media dalam proses belajar mengajar
f) Pengetahuan tentang cara pemilihan dan penggunaan media
g) Pengetahuan tentang jenis alat dan teknik media pengajaran
h) Pengetahuan tentang usaha inovasi dalam media pengajaran
2.Prinsip Pemanfaatan Media Pembelajaran
Media pembelajaran digunakan sebagai upaya dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, oleh karena itu harus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya, antaralain yaitu :
a) Media Pengajaran hendaknya dipandang sebagai bagian yang integral dari suatu system pegajaran, bkn hanya sbagai alat bantu yang dianggap perlu ketika dibutuhkan.
b) Media Pengajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalm usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar.
c) Guru hendaknya dapat menguasai teknik-teknik penggunaan suatu media Pengajaran
d) Penggunaan media Pengajaran harus diorganisir secara sistematis
e) Jika suatu pembelajaran memerlukan lebih dari satu media, guru dapat menggunakan multy media yang memperlancar proses belajar mengajar
3.Fungsi Media Pembelajaran
Pada awalnya, media hanya berfungsi sebagai alat bantu/ sarana dalam kegiatan belajar mengajar, namun ada beberapa kegunaan /fungsi lainnya, yaitu :
a) Media membantu memudahkan belajar bagi siswa dan memudahkan mengajar bagi guru.
b) Media memberikan pengalaman yang lebih nyata “yang abstrak bisa jadi konkrit “
c) Media dapat menarik perhatian dan minat belajar siswa lebih besar
d) Media dapat mengaktifkan semua indra murid sehingga kelemahan satu indra dapat diimbangi oleh kekuatan indra lain.
e) Media dapat membnaagkitkan dunia teori dalam nyata / realita

BAB IV
KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK MEDIA PEMBELAJARAN
1.Klasifikasi media dan ciri-ciri khusus
Ada beberapa klasifikasi media menurut Rudi Bretz, antara lain yaitu :
a) Media audio visual gerak
b) Media audio visusal diam
c) Media audio semi gerak
d) Media visual gerak
e) Media visual diam
f) Media visual semi gerak
g) Media audio
h) Media cetak
Sedangkan menurut Oemar Hamalik, klasifikasi media, antara lain :
a) Alat-alat visual seperti: filmstrip, transparansi, microcprojection, papan tulis,gambar,ilustrasi,chart,grafik,poster dan peta
b) Alat –alat auditif,seperti : radio,tape recorder, dan transkripsi electric.
c) Alat-alat visual-auditif, seperti : peta electric, koleksi diorama,tv,dll
d) Alat dramatisasi, sosiodrama, atau sandiwara
Adapun cirri-ciri khusus masing –masing media tersebut diatas berbeda antara satu dengan yang lain. Kita dapat mengetahui cirri-ciri masing-masing media dari :
a) Tinjauan ekonomis
b) Lingkup sasaran
c) Kemudahan control
d) Kemampuan membangkitkan kemampuan indra

BAB V
MEDIA GRAFIS
1.Pengertian Media grafis
Media grafis merupakan media visual yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber pesan kepada penerima, dimana pesan dituangkan dalam bentuk symbol komunikasi visual.
2.Macam-macam media grafis
Media grafis memiliki jenis yang bermacam-macam, antara lain yaitu:
a) bagan ( chart ) e) Karikatur / kartun
b) grafik (graph ) f) Gambar / foto
c) diagram g) Gambar sederhana berupa garis dan lingkaran
d) Poster h) Komik

BAB VI
MEDIA VISUAL DUA DIMENSI
Media visual dua dimensi adalah media yang bersifat elektronik yang diproyeksikan dan terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (shoftware) yang dalam penggunaannya diperlukan aliran listrik.
1.Overhead Proyektor ( OHP )
OHP merupakan alat yang terdiri atas beberapa bagian-bagian,antara lain yaitu:
a) Projection head disertai lensa pemotret
b) Lampu halogen
c) Lensa cekung / pemantul cahaya ke lensa
d) Transparansi /sejenis plastic yg digunakan untuk menyajikan materi
e) Rol film / transparansi yang dapat digulung sehingga pemakai dpn menggunakan berulang kali.
Keuntungan penggunaan OHP, antaralain :
a) Materi menjadi lebih konkrit
b) Mengatasi batas ruang dan waktu
c) Mengatasi kelemahan panca indra
d) Siswa dapat terkontrol saat OHP digunakan
e) Sangat efektif dan praktis
Cara penggunaan OHP :
a) Hubungkan OHP dan tegangan listrik d) Atur posisi lensa
b) Tekan tombol ON/OFF ke posisi ON e) Atur tombol pengatur fokus
c) Letakkan transparansi ke posisi yang benar f) OFF kan jika ingin mematikan

2.Slide
Slide merupakan gambar trnsparan yang diproyeksikan oleh cahaya melalui proyektor. Biasanya berukuran 2x2 atau 3x4 cm dengan bahan yang terdiri atas :
a) Ethched glass , dapat ditulis dengan tinta atau pensil
b) Coated glass, membuat gambar secara terperinci
c) Sensitized glass , biasa digunakan untuk slide
Adapun cara penggunaan slide yaitu :
a) Gambar sketsa materi pada kertas ukuran 2x2 cm
b) Letakkan sketsa dibawah sehelai set plastic
c) Gunakan tinta agar diperoleh gambaran pada plastic
d) Pertebal gambar dengan tinta berwarna khusus untuk slide
e) Letakkan gambar diantara 2 plastik, kemudian akan tercipta sebuah gambar pada salah satu plastic tersebut
f) Beri bingkai pada pinggiran slide
g) Proyeksikan slide yang telah digambar
3.Film Strip
Filmstrip is a roll in 35 mm positive, film which has sprocket holes in both margins and contain a sequence of picture. Film strip merupakan kumpulan slide yang memuat sejumlah gambar dalam satu gulung roll/ film.Teknik penggunaan film strip sama dengan penggunaan slide. Proses umum yang biasa dilakukan dalam pemakaian film strip yaitu :
a) Penyusunan pelajaran dalam satu materi pokok
b) Persiapan kelas atau kondisi siswa
c) Penyajian film strip

BAB VII
MEDIA AUDIO
1.Radio
Radio adalah peralatan elektronik yang dapat menyajikan berita yang actual. Radio berperan sebagai media dalam proses yang edukatif.Keuntungan radio sebagai mediapendidikan antara lain yaitu :
a) Murah dan praktis
b) Merangsang partisipasi aktif pendengar & membantu siswa untuk lebih konsentrasi
c) Mengembangkan daya imaginasi dan kreatifitas anak didik
d) Memberi pengalaman dan dapat mengatasi ruang dan waktu
2.Kelemahan radio sebagai media pembelajaran
Selain memiliki kelebihan, ada beberapa kelemahan yang dimiliki radio, antaralain:
a) Komunikasi hanya satu arah
b) Program radio telah disentralisir sehingga guru perlu mengatur jadwal siaran dengan materi pelajaran yang akan dibahas.

BAB VIII
MEDIA AUDIO VISUAL GERAK
1.Film bersuara
Film bersuara yaitu alat audio visual yang digunakan sebagai penerangan atau pengajaran.Penggunaan film bersuara sebagai media pembelajaran memiliki beberapa kelebihan, antara lain yaitu:
a) Film dapat menggambarkan suatu proses
b) Gambar bersifat 3 dimensi
c) Suara yang timbul menggambarkan realita
d) Dpat menggambarkan teori sains dan animasi
Adapun kelemmahan penggunaan film bersuara yaitu:
a) Tidak dapat diselingi ketika film sedang berlangsung
b) Audien tidak dapat mengikuti dengan baik jika film terlalu cepat
c) Biaya yang digunakan relative mahal
Ada beberapa teknik dalam pembuatan film, antara lain sebagai berikut :
a) Direct Photography, yaitu merekam objek sebagaimana sesungguhnya
b) Slow motion photography, yaitu merubah kecepatan gerak gambar
c) Lapse photography, yaitu teknik menggerakkan gambar yang terlalu lamban dan lama, misalnya : tumbuhnya tanaman, mekarnya bunga, dan lain-lain
d) Animated photography, yaitu teknik menjelaskan sesuatu yang abstrak menjadi konkrit, misalnya :menjelaskan aliran listrik
e) Photomicrography , yaitu teknik memperbesar objek yang terlalu kecil , missal : sel
f) Telescopic photography, yaitu teknik mempergunakan lensa yang dapat menangkap objek yang terlalu jauh
g) Film mography, yaitu teknik dengan jalan memotret gambar biasa, satu demi satu ,sehingga seolah-olah gambar itu bergerak sendiri.
2.Langkah penggunaan film
a) Persiapan materi dan film yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
b) Persiapan kelas, yaitu persiapan siswa agar mereka dapat mendapat jawaban yang timbul pada film
c) Penyajian film
3. TV
Televisi adalah alat elektronik yang pada dasarnya sama dengan gambar hidup dan suara.Penggunaan tv sebagai salah satu media pembelajaran memiliki beberapa keunggulan:
a) Bersifat langsung dan nyata
b) Memperluas tinjauan kelas
c) Dapat menciptakan kembali sejarah masa lampau
d) Banyak mempergunakan sumber masyarakat dan menarik minat anak

BAB IX
DRAMATISASI, DEMONSTRASI , DAN LINGKUNGAN SEBAGAI MEDIA
1.Dramatisasi
Dramatisasi merupakan teknik pengajaran yang bersifat ekspresi.Keuntungan dramatisasi yaitu :
a) Dapat menyalurkan ekspresi anak dalam kegiatan yang menyenangkan
b) Mendorong aktivitas,inisiatif dan kretifitas
c) Membantu meningkatkan rasa percaya diri
d) Memupuk kerjasama antar satu dengan yang lain
2.Demonstrasi
Demonstrasi merupakan teknik mengajar guru dengan memberi contoh atau peragaan secara langsung. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan demonstrasi:
a) Mengetahui latar belakang yang akan dihadapi
b) Melukiskan pokok persoalan yang akan didemonstrasikan
c) Mengatur waktu sedemikian rupa
d) Mengadakan diskusi setelah demonstrasi berakhir
e) Mengambil kesimpulan dan melakukan evaluasi
3.Lingkungan
Lingkungan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran yaitu:
a) Masyarakat sekitar sekolah
b) Lingkungan fisik sekitar sekolah
c) Bahan-bahan sisa/bekas yang dapat dimanfaatkan
d) Peristiwa alam yang terjadi di masyarakat
Penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran, harus memenuhi beberapa syarat sebagai sumber belajar, antara lain :
a) Harus sesuai GBPP
b) Menarik perhatian siswa
c) Hidup dan berkembang ditengah masyarakat
d) Dapat mengembangkan ketrampilan anak dalam berinteraksi
e) Berhubungan erat dengan lingkungan siswa
f) Dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa
Adapun manfaat yang dapat diambil dengan menjadikan lingkungan sebagai media :
a) Bagi Sekolah
 Sebaagi umpan balik untuk menyempurnakan proses belajar mengajar
 Mata pelajaran yang diberikan akan fungsional dan bermanfaat bg masyarakat
 Sekolah akan peka pada kebutuhan masyarakat
 Membeeri keseimbangan perkembangan intelektual dan ketrampilan praktis
 Menyadarkn ank didik bhwa pendidikan adalah untuk kepentingan masyarakat
b) Bagi masyarakat
 Masyarakat dapat terbuka dan jujur mengkritisi kondisinya
 Masyarakat akan dapat mengatasi masalah kehidupan yang mereka hadapi
 Menumbuhkan kesadaran masyarakat pada potensi mereka
 Terciptanya kondisi yg baik antar anggota masyarakat dan lingkungan belajar

BAB X
MEDIA PENDIDIKAN AGAMA
Media pendidikan agama adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik berupa alat yang dapat diragakan maupun berupa metode.Adapun media yang berupa alat seperti: buku pelajaran, bulletin,film,tv, dll.Sedangkan media yang berupa metode seperti : metode uswatun hasanah(QS.Alahzab 21), metode karya wisata(QS.Alkahfi 66-82) dan (QS.Al an’am 11).
Dengan contoh tersebut, hendaknya pemilihan media pengajaran agama selalu memperhatikan:
a) Media yang digunakan tidak bertentangan dengan kaidah syar’i
b) Media yang digunakan sesuai antara tujuan dan materi
c) Media yang digunakan disesuaikan dengan ketersediaan alat
d) Media yang akan digunakan sesuai dengan pribadi guru dan kemampuan murid
BABXI
PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
1.Urgensi Media Pembelajaran
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada uraian terdahulu bahwa media pengajaran itu amat penting dalam upaya untuk membantu guru dalam mengajar dan memudahkan siswa dalam memahami pelajaran.Begitu urgentnya media sebagai pendukung kelancara proses pembelajaran, Arif sukandi membagi media berdasarkan kesiapan dalam 2 kelompok:
a) Media jadi (by utilities)
b) Media rancangan (by design)
2. Dasar Pertimbangan Penggunaan Media
Kelemahan yang tampak dalam penggunaan media merupakan bagian yang harus dipertimbangkan dalam proses pengajaran. Karena bisa jadi penggunaan media yang salah akan mempengaruhi sasaran yang akan dicapai.Olehkarenanya, ada beberapa factor yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan media,antara lain:
a) Media harus sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai, dan
b) Media harus sesuai dengan karakteristik siswa, jenis rancangan belajar, keadaan lingkungan dan luasnya jangkauan yang ingin didapatkan.
3.Kriteria Pemilihan Media
Ada 4 kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan media(Dick & Carey ):
a) Ketersediaan sumber setempat
b) Ketersediaan dana, tenaga dan fasilitas
c) Keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media
d) Efektifitas dan efisiensi biaya dan waktu terhadap hasil belajar
4.Prosedur Pemilihan Media
Menurut Arif Sadiman, ada 3 model yang dapat dijadikan prosedur dalam pemilihan media yang akan digunakan,yaitu:
a) Model flowchart : model ini menggunakan system pengguguran dalam pengambilan keputusan
b) Model matrik : yaitu berupa pengangguhaan proses pengambilan keputusan hingga seluruh criteria pemilihan dapat diidentifikasikan
c) Model checklist : yaitu menangguhkan keputusan pemilihan hingga semua criteria dipertimbangkan.

BAB XII
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Pengembangan Media Pembelajaran Ialah suatu usaha penyusunan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media.Ada bebrapa langkah yang harus dilakukan dalam pengembangan media pembelajaran ini, antara lain:
a) Analisis Kebutuhan dan karakteristik siswa
Yang dimaksud Kebutuhan adalah kesenjangan antara apa yang telah dimiliki siswa dan apa yang diharapkan.Maka , dalam merancang dan mengembangkan media pembelajaran , guru hendaknya menganalisa terlebih dahulu pengetahuan dan ketrampilan siswa.
b) Perumusan tujuan dan pengembangan materi
Perumusan tujuan merupakan penetapan arah suatu program pembelajaran. Untuk merumuskan tujuan secara baik, maka tujuan tersebut harus
 Berorientasi pada kebutuhan siswa dan perubahan tingkah laku yang diharapkan setelah proses pembelajaran
 Menyatakan kata kerja yang oprasional (menunjuk pada hasil perbuatan yang dapat diamati / diukur )
Adapun pengembangan materi, merupakan penetapan materi apa saja yang akan disampaikan yang mendukung tujuan / pencapaian.
c) Perumusan alat pengukur keberhasilan
Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pembelajaran, diperlukan alat ukur yang sesuai untuk kegunaan tersebut.Alat ukur tersebut harus dibuat secara teliti dan direncanakan sebelum proses pembelajaran berlangsungSebagai pedoman dalam pembuatan alat ukur yang baik, sebaiknya setiap kemampuan dan ketrampilan yang mendukung tercapainya tujuan instruksional khusus dijadikan bahan tes , atau aftar cek prilaku.
d) Penulisan naskah
Penyajian materi melalui media rancangan merupakan penjabaran pokok materi yang telah disusun sebaik mungkin secara baik.Kemudian materi pengajaran dituangkan dalam bentuk tulisan /gambar itulah yang disebut naskah.Ada beberapa langkah penulisan naskah, antara lain yaitu :
a) Treatment : Adalah uraian berbentuk esai yang menggambarkan alur penyajian program yang dibuat
b) Storyboard : Yaitu gambar-gambar yang digrafiskan dalam kolom-kolom naskah yang dibuat pada kertas yang disusun menurut ukuran penyajian yang sesuai isi treatment.
c) Penulisan naskah : Ialah penulisan dari uraian dan gambar (storyboard)

BAB XIII
EVALUASI MEDIA PEMBELAJARAN
Evaluasi media pembelajaran yaitu upaya untuk mengetahui apakah media yang digunakan tersebut dapat mencapai tujuan pembelajaran atau tidak. Maka penilaian/ eveluasi yang dapat dilakukan dalam penggunaan sebuah media ialah dengan cara:
a) Evaluasi formatif
Yaitu proses untuk mengumpulkan data tentang aktifitas dan efisiensi penggunaan media dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan.Datayang diperoleh tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan media yang digunakan agar lebih efektif dan efisien.Setelah diperbaiki, kemudian barulah diteliti kembali apakah media layak untuk digunakan kembali.
b) Evaluasi sumatif
Ada 3 tahap dalam evaluasi sumatif :
• Evaluasi satu lawan Satu ( yaitu penggunaan evaluasi media dengan merunut pendapat dari masing –masing individu/siswa, yaitu siswa lemah dan siswa pandai dalam menilai media )
• Evaluasi kelompok kecil ( yaitu penggunaan evaluasi media dengan cara mengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil, ex:10 orang )
• Evaluasi lapangan(yaitu penggunaan evaluasi media dengan cara mngelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok yang lebih besar, ex:30 orang )

Selasa, 03 Mei 2011

ARSITEKTUR DAULAH USTMANI

BAB I
PENDAHULUAN
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR ISLAM PADA MASA DAULAH UTSMANIAH

Sejarah umat Islam merupakan sebuah rangkaian cerita yang sangat kompleks dan sempurna.Rangkaian-rangkaian cerita tersebut dimulai dari sejak zaman Rasulullah , para sahabat, tabiin dan tabi’at, hingga ke masa modern saat ini.Seluruh aspek kehidupan yang adapun termaktub kedalam rangkaian cerita tersebut.Termasuk tentang sejarah dan perkembangan arsitektur daulah usmaniah.
Dalam sejarah, daulah Usmaniah merupakan sebuah dinasti yang awal mulanya berasal kabilah Oghuz dari keluarga Qabey. Cikal bakal berdirinya daulah Usmani bermula dari kabilah Arthogrol yang kemudian pada tahun 1258, mereka dikarunia seorang anak yang bernama Usman.Maka oleh ayahnya, Usman kemudian dididik dan dilatih untuk menjadi seorang yang gagah berani.Hingga akhirnya Usman kemudian mendapatkan kekuasaan dari seorang Sultan untuk memimpin sebuah wilayah yang kemudian ia beri nama Kesultanan Usmani .
Berdasarkan sejarahnya, Daulah Usmani merupakan salah satu daulah yang sangat berperan penting dalam sejarah umat Islam.Selain berperan dalam segi perluasan wilayah Islam, daulah Usmani ketika itupun ikut turut andil pula dalam pengembangan kebudayaan.Termasuk seni arsitekturnya.Pertanyaanya kemudian ialah, bagaimanakah sebenarnya sejarah dan perkembangan arsitektur pada masa daulah Usmani? Dan seperti apa corak seni arsitektur pada masa daulah Usmani tersebut?Untuk menjawab pertanyaan tersebut,maka pembahasan mengenai sejarah dan perkembangan arsitektur pada daulah Usmani ini sangat urgen untuk dibahas.



BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR PADA MASA DAULAH UTSMANIAH

A.Sejarah Daulah Usmaniah
Daulah Usmani ialah salah satu daulah yang dianggap penting dalam sejarah perkembangan Islam didunia.Daulah Usmani muncul sejak tahun 1299 hingga tahun 1924 dengan system pemerintahannya yang berbentuk monarki.Kedaulahan Usmani ialah sebuah dinasti yang namanya diambil dari nama pendirinya sendiri, yakni Usman, putra dari Arthogrol keturunan kabilah Oghuz atau biasa disebut al ghaz al turki, yakni bangsa Badui yang gemar berperang. Maka dengan kepiawaian Usman dalam memimpin perang, daulah ini kemudian banyak membantu perluasan daerah kekuasaan Islam.
Daulah Usmani muncul setelah khilafah Abbasyiah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol.Karena kekuatan politik Islam yang mulai lemah dan wilayah kekuasaannya yang juga terpecah-pecah akibat serangan tersebut, maka tersebutlah awal cikal bakal berdirinya daulah ini. A’tha Bey dalam bukunya “Khawathir fil Islam “ menjelaskan bahwa sewaktu bangsa Tatar menghancurkan dunia Islam dengan tiada satupun yang dibiarkannya hidup,tampil sebuah kabilah dari Asia Tengah,terkenal paling mulia, termasyhur paling gagah berani dari bangsa Turki. Maka dengan beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam yang ada, maka kedaulahan ini berusaha untuk membentuk system peradaban Islam yang baru dibawah kepemimpinan Usman.
Ketika Daulah Usmani berkuasa, maka setapak demi setapak wilayah kerajaan Islam dapat diperluasnya. Dimulai dengan memperbaiki system pemerintahan, berangsur-angsur kekuasaan mulai merambah kesegenap wilayah. Kekuatan militer yang tangguh dan ekonomi yang mapan membawa korelasi tersendiri dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam pada masa ini.
Daulah Usmani berhasil memperluas wilayah hingga ke segenap wilayah. Adapun wilayah yang berhasil dikuasai oleh Daulah Usmani antara lain yaitu Romawi, Byzantium, Persia, Andalusia, dan lain-lainya. Maka dengan adanya perkembangan wilayah kekuasaan inilah yang kemudian menyebabkan persentuhan kebudayaan Islam pada daulah Usmani dengan kebudayaan pada wilayah-wilayah yang berhasil dikuasai.Termasuk didalamnya yaitu persentuhan seni arsitektur yang berkembang pada kedaulahan ini.
Selama daulah Usmaniah berdiri, kepemimpinannya terbagi atas beberapa periode, antara lain yaitu :
1. Periode Usman I , ia mengumumkan dirinya sebagai padisyah ( raja ) pada tahun 1299. Pada tahun 1300, Usman pelan-pelan dapat memperluas kerajaannya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Brossa pada tahun 1317. Pada tahun 1326 M Kota Brossa dijadikan sebagai ibukota kerajaan.
2. Periode Orkhan , Pada tahun 1326 – 1359 M.Usman digantikan oleh Orkhan, pada masa pemerintahannya Turki Usmani dapat menaklukkan Azmir, Thawasyanli, Uskandar, Ankara, dan Gallipoli.
3. Periode Murad I , ia adalah pengganti penguasa sebelumnya yang memegang tampuk kekuasaan sejak 1359 - 1389.Adapun daerah-daerah yang berhasil ia kuasai antara lain yaitu : Adrianopel,Macedonia, Sopia, Salonia,Yunani bagian utara.
4. Periode Bayazid I ( 1389-1402 M ), Ia diberi gelar “Yaldrum “ yang berarti kilat. Pada periode ini, Pada tahun 1403 Kerajaan Turki Usmani sempat mengalami kekalahan dengan kesultanan Mongol yang dipimpin oleh Timur Lenk. Namun, setelah sultan Timur Lenk meninggal (1405), Kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi oleh putranya. Kemudian kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun pada saat itu juga terjadi perselisihan antara putra-putranya Bayasid (Muhammad , Isa, Sulaiman). Namun akhirnya Muhammad dapat mengalahkan sudaranya. Kemudian Muhammad mengadakan perbaikan dan meletakkan dasar keamanan dalam negri.
5. Periode Muhammad I ( 1421 M ) , namanya ialah Muhammad Jalby.Dibawah kepemimpinannya, ia berhasil menyatukan beberapa negara yang awalnya memisahkan diri.Selain itu,ia juga berhasil menaklukkan Konstatinnovel.Maka pada masa inilah daulah Usmaniah mencapai puncak kemajuannya hingga 1484 M.
6. Murad II ( 1421-1451 ).Ia merupakan penerus ussaha Muhammad I dalam mengadakan dan meletakkan dasar-dasar keamanan daulah Usmaniah.
7. Muhammad II ( 1451-1484 M ).Ia biasa disebut Muhammad al Fatih.Ia berhasil mengalahkan dan menaklukkan Bizantium dan konstatinopel.
8. Periode Sultan Salim I ( 1512 M ), ketika Sultan Salim I naik tahta, ia mengalihkan perhatian kearah timur dengan menaklukkan Persia, Siria, dan Dinasti Mamalik di Mesir.
9. Periode Sultan Sulaiman ( 1520-1566 M ) , Sulaiman menganggap seluruh wilayah yang berada disekitar Turki Usmani merupakan objek yang menggoda hatinya. Kemudian Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodes, Tunis, Budapest dan Yaman.

Selama beberapa periode kepemimpinan Daulah Usmaniah tersebut, dapat dilihat bahwa perluasan daerah kekuasaan Islam sudah semakin berkembang. Namun setelah kepemimpinan periode terakhir, setelah sultan Sulaiman wafat, daulah usmani perlahan-lahan mundur.Hal ini dikarenakan Kemudian setelah Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan diantara putra-putranya. Selain itu, menurut analisa penulis, factor-faktor lain yang menyebabkan kerajaan Usmani hancur, diantaranya ialah:


a. Kemorosotan ekonomi
Kemerosotan ekonomi ini disebabkan perang yang berkepanjangan yang dilakukan oleh kedaulahan Usmaniah dalam menaklukkan negara-negara jajahan, sehingga banyak uang Negara yang terkuras, sementara belanja Negara sangat besar untuk membiayai perang.
b. Wilayah kekuasaan yang sangat luas
Terlalu luasnya wilayah kekuasaan Usmani sangat sulit untuk dikontrol. Dipihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehinga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun Negara.
c. Perebutan Kekuasaan
Setelah Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan diantara putra-putranya. Hal itu pula lah yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani mulai mundur akibat mereka saling berebut untuk menjadi penguasa.

B.Perkembangan Arsitektur Islam Dinasti Usmaniah
Kerajaan Usmani semakin memantapkan kedudukannya pada masa Sulaiman al Qanuni “ pembuat Undang-Undang” (1520-1566 M), sehingga pada masanya wilayah kekuasaan Usmani semakin berkembang pesat. Wilayahnya mencakup Asia kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis dan Al Jazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Yugaslapia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa. Untuk mengatur pemerintahan Negara disusunlah sebuah kitab undang-undang (qanun) yang diberi nama Multaqa al –Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke 19. Sebab itulah Sultan Sulaiman diberi gelar “al Qanuni.”
Dalam bidang pembangunan , Turki Usmani ini lebih memfokuskan kepada bidang politik , kemiliteran dan arsitektur. Bidang politik maksudnya adalah perluasan daerah seperti di atas. Bidang Militer adalah terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah Negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat. Sedangkan bidang arsitektur ialah seni dalam merncang bangunan. Misalnya bangunan-bangunan megah, seperti sekolah, rumah sakit,villa, makam, jembatan dan masjid-masjid.
Pada masa Bayazid II, daulah Usmani memiliki seorang laksamana,Ia adalah Khairudin Pasya, dikenal dengan julukan “ Barberossa” yang artinya Si janggut merah.Ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang kemudian diangkat menjadi armada ( tentara kelautan ) bangsa Usmani.Maka kemudian,untuk mengenang kemenangan-kemenangan yang diperoleh olehnya maka pada 1550 M, Sultan banyak membangunkan bangunan masjid sebagai peringatan.
Selain itu,adapun pada masa Sulaiman, banyak pula dibangun infrastruktur umum bagi bangsa Usmani.Antara lain ialah 81 buah masjid besar, 52 buah masjid kecil, 55 buah madrasah, 7 buah bangunan asrama Quran, 5 buah takiyah ( tempat bagi kaum fakir-miskin), 3 buah Rumah Sakit, 7 buah surau, 7 buah jembatan, 33 buah Istana, 18 buah pesanggrahan, 5 buah museum, 33 buah pemandian umum, dan 19 buah gubah.
Pada masa Usmaniah, perkembangan seni arsitektur dipengaruhi oleh asimilasi kebudayaan local dengan kebudayaan Romawi dan Bizantium.Dalam pelaksanaan pembangunannya, pemerintahan Usmani banyak mengikutsertakan para arsitek dari Romawi dan Bizantium untuk membangun. Namun demikian, walau ada campurtangan dari para arsitek tersebut, warna dan nilai arsitektur yang dibangun tetaplah dikemas dalam nilai-nilai Islam. Arsitektur masjid pada masa daulah Usmani dihiasi dengan kaligrafi-kaligrafi yang indah.Sehingga nuansa dan misi keislaman pada masa ini akan nampak secara jelas dan signifikan.






C.Corak Seni Arsitektur Islam Dinasti Usmaniah
Kata arsitektur merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni architekton , yang berarti berdiri stabil dan kokoh.Dan secara istilah, arsitektur dapat dipahami sebagai seni untuk merancang serta membuat kontruksi bangunan. Dan pada tiap-tiap negara pasti memiliki corak tersendiri dalam bidang arsitektur.
Adapun kedaulah Usmani,corak-corak arsitekturnya dapat dilihat pada bangunan-bangunan arsitektur sebagai berikut :

1.Arsitektur Masjid
Masjid - masjid di Turki Usmani memperlihatkan coraknya tersendiri. Pembangunan - pembangunan yang dilakukan dizaman ini meliputi 3 bentuk (corak), yaitu :
1. Mengembangkan konsep mesjid asli Arab, dengan lapangan terbuka di bagian tengahnya.
2. Mengembangkan konsep masjid madrasah dan berkubah
3. Mengembangkan konsep baru setelah berkenalan dengan kebudayaan Barat, yaitu ialah ketika orang-orang Turki memperluas kekuasaannya atas dasar kepentingan ekonomi dan militer pada abad ke-11, mereka akhirnya bisa menguasai Bizantium. Saat kebudayaan Islam bersentuhan dengan Bizantium (Konstantinopel), maka arsitektur Islam juga menimba teknik dan bentuk arsitektur Romawi dan Bizantium.
Berikut ini contoh corak arsitektur beberapa masjid pada masa Usmani :

a.Masjid Aya Sophia
Dulunya ia adalah sebuah masjid yang berasal dari sebuah gereja yang bernama Haghia Sopia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.Berkat tangan Anthemios dan Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian arsitektur Bizantium.
Pada dasarnya, asal mula masjid Aya Sofia ialah akibat adanya pengembangan Turki Usmani Pada 27 Mei 1453, yang pada saat itu Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan sujud syukur. Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia.Namun saat ia sedang bersujud syukur,ia mendengar seseorang memukul-mukul tonggak marmer gereja.Setelah ia melihatnya,ternyata yang memukul-mukul tonggak tersebut ialah seorang tentaranya yang berasal dari Anatoli.Ia sangat marah dan hamper saja menebas leher sang tentara. Saat itu juga, ia melarang siapapun untuk merusak bangunan tersebut.Hal ini dikarenakan,bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid yang diberi nama Aya Sofia.
Pada hari Jumatnya, atau tiga hari setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan untuk shalat Jumat berjamaah. Sepanjang kekhalifahan Turki Usmani, beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid.
Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan.Begitu pula patung-patung yang ada dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid yang memiliki keistimewaan tersendiri. Keistimewaan Masjid Aya Sofia tersebut dapat kita lihat pada salah satu bagian yaitu pada bangunan kubahnya dengan diameter 30 meter dan tinggi mencapai 54 meter interior yang dihiasi dengan mosaik dan fresco .
Selama beberapa tahun, bangunan hagia sofia beralih fungsi dari gereja menjadi sebuah masjid.Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja.
Museum Aya sofia jika tampak dari luar ukuran kubahnya akan terlihat begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamennya sekitar 54 meter. Dan ketika memasuki area bangunan, kita dapat melihat keindahan interior yang dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.
Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat. Sementara peninggalan Masjid Aya Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap dipertahankanSejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah memesona.Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam.
Desain dan corak bangunan Aya Sofia sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam membangun masjid. Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri. Kubah besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan--yang kemudian diikuti oleh arsitek muslim lainnya--untuk diterapkan dalam pembangunan masjid.
b.Masjid Agung Sulaiman
Masjid Agung Sulaiman merupakan salah satu karya terbesar Sinan yang mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia.Masjid ini dibangun pada pemerintahan Sultan Sulaiman di Istanbul yang dibangun pada tahun (1550-1557).Dan seperti halnya Aya Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek wisata dunia itu juga memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah.
Masjid Sulaiman menampilkan corak arsitektur yang secara simbolis memperlihatkan kemegahan masjid sebagai sarana keagamaan.Corak ini dapat dilihat dari bentuk menara yang langsing dan tinggi yang seolah-olah muncul lengkungan kubah yang melesat lepas ke ketinggian.Corak arsitektur lainnya yang dapat kita lihat ialah pada bentuk seni kaligrafinya.Sedangkan interriornya mengambil bentuk rlief-relief yang merupakan perpaduan dari kebudayaan local.Didalam masjid terdapat empat ruang, yaitu mihrab,mimbar ,’iwan dan shahn. Sedang bagian luarnya terdapat kolam hiasnya.

2.Istana
Istana merupakan pusat pemerintahan bagi bangsa Turki.Bangunan ini terletak di Istambul yang biasa disebut dengan _The Topkapi Saray_dibgi menjadi dua bagian, yaitu bagian dalam dan bagian luar.Bagian dalam terdiri atas kamr-kamr pribadi sang penguasa, dpur kerajaan, dan sekolah untuk melatih budak untuk dipekerjakan.Sedangkan bagian luar digunakan sebagai kantor administrasi kemiliteran dan sipil, kantor bagi kalangan ulama istana,staf dapur dan tukang kebun.
Adapun corak arsitektur istana, terdapat beberapa hiasan berupa lukisan-lukisan, baik berupa gambar makhluk hidup maupun berupa relief-relief. Lukisan-lukisan tersebut merupakan perpaduan karya-karya para pelukis yang didatangkan oleh Sultan Sulaiman dari Eropa dan ,yaitu Mechior Lorck dan Peter Goeck van Alost.Sedangkan dari para muslim sendiri, yaitu Taifik Pasha dan Ibrahim Pasha.

3.Rumah Sakit dan Sekolah

Pada masa dinasti Usmaniah,corak arsitektur rumah sakit dan sekolah berbentuk “bayangan” masjid dan berwarna khusus. Setiap pintu berbentuk melengkung seperti kubah. Hal ini mencerminkan nuansa Islami.

4.Tata Kota

Dalam menata kota pemerintahan dinasti Usmaniah mengirim beberapa arsiteknya untuk belajar ke Negara –negara eropa guna memperoleh desain kota yang ba ik.Diantara para arsitek tersebut yang ikut mengatur Tata kota bangsa Usmani ialah Sinan dan Hayrudin. Berbekal pengalaman belajar mereka ke eropa, Mereka kemudian melakukan serangkaian perombakan tata kota dinasti Usmaniah.Dan walau mereka telah diutus untuk mempelajari seni arsitektur pada bangsa eropa, namun mereka tidak merombak secara total bentuk arsitektur yang ada pada kebudayaan local.Keduanya justru banyak mengedepankan corak-corak arsitektur yang bernuansa Islami.Adanya akumulasi antara disain bangsa eropa dan Islami tersebut justru menghasilkan disain tata kota daulah Usmaniah yang sangat asri dan indah.Sehingga sangat harmonis bila dipandang mata.








BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah diulas pada bab pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bangsa Usmani merupakan salah satu bangsa yang ikut bermain peran dalam kedaulahan umat Islam. Bangsa Usmani termasuk bangsa yang berperan penting dalam sejarah, baik dari segi perluasan daerah Islam, maupun dalam perkembangan kebudayaan.Terutama ialah dalam perkembangan seni arsitekturnya.
Berdasarkan sejarahnya, daulah Usmani merupakan kedaulahan yang lahir akibat kemunduran dari pemerintahan Islam. Namun berkat kepiawaian dan perjuangan yang gigih atas pendiri kedaulahan ini,yakni Usman, maka bangsa ini kemudian dapat bertahan dan mengembangkan wilayah Islam hingga ke benua Eropa.
Letak geografis yang sangat strategis sangat membantu kedaulahan ini dalam meluaskan dan mengembangkan kedaulahan islam ini hingga ke negara-negara lain diEropa. Dan bersamaan dengan perluasan tersebut, kedaulahan ini berhasil pula dalam mengembangkan kebudayaan yang ada dengan kebudayaan daerah-daerah lainnya yang telah berhasil mereka jajah. Dan tak canggung –canggung, bangsa Usmaniah pun dapat mengasimilasikan kedua budaya dari masing-masing negara.Salah satunya ialah budaya dalam bidang seni,yaitu seni arsitektur local dengan seni arsitektur eropa. Namun demikian, mereka tetaplah mengedepankan karekteristik seni arsitektur masyarakat Islam yang bernuansa Islami. Maka berdasarkan adanya perpaduan kebudayaan tersebutlah maka seni arsitektur Islam pada kedaulahan Usmani memiliki corak yang sangat unik, cantik, dan specifik sehingga berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya.
Dan bila dicermati secara seksama, berbagai corak arsitektur ( seperti masjid, istana, rumah sakit, sekolah dan bangunan-bangunan hasil tata kota lainnya ) pada masa kedaulahan Usmaniah ini sangatlah bernuansa agamis.Maka jika dicermati lebih dalam lagi,hampir semua hasil seni arsitektur hasil Sinan dan Hayrudin ini banyak menggunakan model arsitektur masjid.
Perkembangan arsitektur pada masa dinasti Usmaniah yang begitu pesat ini tidak dapat dilepaskan dari factor-faktor yang mendukung tumbuh dan berkembangnya seni arsitektur ini.Faktor-faktor yang mendukung tersebut antara lain ialah :
1. Letak kedaulahan Usmani yang sangat strategis,yaitu disekitar bangsa Eropa yang ketika itu sudah mulai maju peradabannya.
2. Tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat yang cukup tinggi
3. Pengaruh social-politik kkenegaraan yang sangat menunjang
4. Sikap masyarakat Usmani yang sanagt fleksibel terhadap kebudayaan lainya.

Dan menurut analisa penulis, maka dapat disimpulkan bahwa seni arsitektur Islam pada masa kedaulahan Usmani sudah berkembang dengan baik dan maju.Hal ini dikarenakan, perkembangan dan pertumbuhan seni arsitektur pada masa itu didukung oleh kondisi yang sanagt kondusif.Dan hal ini dapat kita lihat dari hasil-hasil karya arsitek besar pada masa itu yang sangat apik dan cantik.Sehingga hasil arsitek tersebut menjadi legendaries hingga saat ini(Aya Sofia;misalnya).













DAFTAR KEPUSTAKAAN

1.Nizar,Samsul “ Sejarah Pendidikan Islam ”, Jakarta : Kencana , 2007
2.Yatim,Badri “Sejarah Peradaban Islam ”,Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada,1997
3.Lapindus,Ira.M,”Sejarah sosial Umat Islam”,Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000
4.Gazalba, Sidi,”Masjid Sebagai Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam ”, Jakarta : Pustaka Alhusna, 1989
5.Hamka,”Sejarah Umat Islam III”,Jakarta : Bulan Bintang, 1975
6.Ahmad,Zainal Abidin,”Sejarah Islam dan Umatnya ”,Jakarta : Bulan Bintang, 1979
7.Amiruddin,Aam,”Bedah Masalah kontemporer” Bandung : Khasanah Intelektual, 2005.

belajar psikologi

JENIS-JENIS BELAJAR
Menurut ADE BLOCK : Belajar ditinjau dari fungsi psikis terbagi atas :
1.Belajar Dinamik : yaitu belajar menghendaki sesuatu secara wajar.Contoh : siswa yang akan ujian.namun disisi lain ia ingin menonton. Dalam masalah ini, maka siswa yang belajar secara dinamik ia dapat berkehendak secara dewasa yaitu :
 Berfikir secara mendalam
 Bersikap tekun
 Rela menunda sesuatu bila perlu
 Sabar dan penuh pertimbangan
 Berani dan mampu untuk memprioritaskan
2.Belajar Afektif : yaitu belajar menghayati nilai-nilai suatu objek melalui alam perasaan.contohnya : seseorang merasa lapar.Lalu ia melihat makanan. Dalaam masalah ini, maka orang yang belajar secara afektif, ia akan mempertimbangkan nilai-nilai yanag terkandung dari makanan tersebut , misalnya mempertimbangkan makana itu bergizi atau tidak, dll.
3.Belajar kognitif : yaitu belajar memperoleh dan mempergunakan pengetahuan dari pengamatan dan pemahaman / insight .
Stimulus Sensori Otak Pengamatan Kesadaran Kesan
Maka semakin banyak indra digunakan dalam prose belajar, ia akan semakin banyak tau dan akan semakin berkesan dan tersimpan lama dalam ingatan.
Adapun Fase –fase belajar kognitif yaitu :
1. Fiksasi (pengolahan informasi)
2. Retensi ( Proses menyimpan )
3. Evokasi ( Proses reproduksi kembali )

Aktivitas belajar kognitif : mengingat dan berfikir
Macam-macam berfikir :
1.Berfikir berperaga : berfikir dengan menggunakan tanggapan/ kesan yang tinggal
2.Berfikir rasional : berfikir dengan mencari dan menggunakan pemahaman melalui penguasaan konsep dan relasi konsep
4.Belajar Sense Motorik : yaitu belajar menghadapi dan menangani objek secara fisik.contoh : belajar mengetik

JENIS BELAJAR DITINJAU DARI SEGI MATERI YANG DIPELAJARI
1.Belajar toritis : yaitu menempatkan semua data dan fakta dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapt dipahami untuk memecahkan masalah.
2.Belajar teknis : yaitu belajar dengan mengembangkan ketrampilan
3.belajar social : yaitu belajar mengekang dorongan dan kecenderungan spontan dari kehidupan bersama dan memberikan kelonggaran pada orang lain untuk meemnuhi kebutuhan
4.Belajar estetis : yaitu belajar membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan di berbagai bidang

KONSEP BELAJAR BEHAVIOURISTIK
Konsep Belajar Behaviourisme yaitu belajar merupakan perubahan tingkah laku. Ada beberapa tokoh behaviouristik, antaralain :
1.Thorndike ( 1874 – 1949)
Menurut teori Thorndike ( 1874 – 1949), Dalam teori KONEKSIONISME , belajar adalah proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering pula disebut “ trial and error lerning”. Maka individu yang dikatakan belajar ialah yang melakukan kegiatan melalui proses trial and error dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasari teorinya ini dari hasil tesnya terhadap tingkah laku kucing, dan orang utan. Kucing dikurung dan diluar disediakan makanan. Maka yang menjadi konsep belajar ini adalah belajar merupakan problem solving , dan dalam hal ini, kucing berusaha untuk mengambil makanan. Ada 3 macam hokum yang dihasilkan dari percobaan THORNDIKE, yaitu :
a. Law of Readness / kesiapan Kucing dalam kondisi lapar
b. Law of exercise Pengulangan eksperiment
c. Law of effect Jika hasil usaha memuaskan, maka akan ada pengulangan
2.Pavlov
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan.
Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas.
3.Skiner
Dalam teorinya “ Operant Conditioning “, skinner berpendapat bahwa dalam belajar ada 2 proses:
a.Respondent : respon yang terjadi karena stimuli khusus
b.Operant : respon yang terjadi karena situasi random
Dalam percobaannya terhadap tikus dalam sangkar, digunakan “diskriminatif stimuli “berupa tombol, lampu dan pemindah makanan. Dan disertai “reinforcement stimuli” yaitu berupa makanan.
Konsep belajar behaviouristik menurut Skinner ialah hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Menurutnya, dalam belajar, stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memberi pengaruh pada munculnya perilaku. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara baik, guru harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut.
Teori Skinner menekankan peneguhan positif dan peneguhan negatif bertujuan untuk menambahkan berulangnya suatu tingkahlaku dan bukan untuk menghentikannya. Peneguhan positif ialah untuk menentukan tingkah laku positif dengan respon yang positif. Contohnya, pujian terhadap murid-murid yang memberikan jawaban yang betul. Peneguhan negatif pula diberi untuk memberi kesan yang tidak menyenangkan bagi individu.
4.Watson
Menurut Watson , belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
5.Er.Gutrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama . Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi.
TIPE BELAJAR BEHAVIOURISTIK
1.Signal Learning ( Pavlov) : condiitionisme
2.Stimulus-Respon ( Skinner ) : Operant Conditioning
3. Motor – change : kombinasi 2 jenis ketrampilan atau lebih
4.Verbal change
5.Multiple discrimination
6.Concept Learning : belajar mengelompokkan sekelompok fenomena yg memiliki ciri2 yg sama
7.Rule Learning : kemampuan menghubungkan 2 konsep / lebih ( ex: bola dan garis)
8. Problem solving :


KONSEP BELAJAR KOGNITIFISME
Konsep belajar konigtifisme berawal dari ketidak puasan pada konsep belajar behaviouristik, karena behaviourisme hanya pengamatan pada binatang, yang hanya terlihat proses yang nampak saja. Ada stimulus, maka muncul respon. Dan menurut kognitifisme, belajar adalah proses mental ( tidak Nampak ). Misalnya : Adanya motivasi kesadaran keyakinan
1.ILMU JIWA ( GESTALT )
Aliran gestalt meyakini bahwa keseluruhan lebih bermakna daripada bagian2. Dalam belajar, yang pertama terlibat adalah pengamatan.Belajar didasarkan atas dasar pemahaman, artinya yang paling penting dalam proses pembelajaran adalah dimengertinya apa yang dipelajari, yaitu insight (pemahaman).Proses belajar melalui insight ini memiliki ciri2:
a. Insight tergantung pada kemampuan dasar (IQ)
b. Insight tergantung pada pengalaman masa lalu yang relevan
c. Insight tergantung pada pengaturan situasi yang dihadapi
d. Insight diawali dengan metode mencari dan mencoba
e. Solusi problem dengan menggunakan insight dapat diulang dengan mudah dan akan berlakau secara langsung
f. Jika insight telah terbentuk, maka problem pada situasi lain akan dapat dipecahkan

2.KOGNITIF FIELD ( LEWIN )
Tingkah laku merupakan hasil interaksi2 dari kekuatan2, baik secara intern maupun ekstern. Berdasarkan itu, maka belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan struktur kognitif. Dan perubahan struktur kognitif itu ialah hasil perubahan struktur medan kognisi (intern) dan kebutuhan(ekstern).
Ada 2 proses konsep kognitifisme,yaitu:
a. Organisasi Informasi
b. Adaptasi

Model Pengelolaan Informasi
Untuk mengelola info , yang perlu :
Umum : pemecahan masalah
Khusus : tentang sesusatu kumpul info
Pengetahuan Prosedural : bagaimana melakukan Mengumpulkan info hadirkan info
Kondisional : kapan & mengapa simpan info
Konvesional gali info


KONSEP BELAJAR KONSTRUKTIVISME
1.PIAGET
Menurut Piaget , Belajar ialah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit yang kemudian hasilnya diperluas dengan konteks yang terbatas (bidang –bidang tertentu). Bila ada informasi yang masuk, baik yang dilihat atau yang didengar, maka sensori akan membawa pada otak untuk pengorganisasian informasi. Dan menurutnya, ada dua proses : pertama, pengorganisasian. Kedua, adaptasi.
Konsep dasar belajar piaget :
a. Schemata : struktur bidang pengetahuan dalam otak
b. Asimilasi : usaha mengadaptasi informasi yang baru terhadap informasi yang lama
c. Akomodasi : pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu
d. Keseimbangan : masuknya info pada schemata, akan menggoyahkan kedudukan asimilasi dan selanjutnya maka akomodasi akan menyeimbangkan

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN PIAGET
a. Tahap sensorimotorik (0-2 tahun)
b. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
c. Tahap operasi konkret (7-11 tahun)
d. Tahap operasi formal (mulai 11 atau 12 tahun

2.VYGOSKI
Vygosky berpendapat bahwa belajar merupakan proses interaksi social. Menurutnya, dalam belajar melibatkan 2 elemen penting, yaitu :
a.Fisik , ex: alat indra: belajar adalah proses biologi sebagai proses dasar
interaksi antara informasi dan alat indra akan melahirkan pengetahuan
b.psikis dan social : belajar adalah proses psikososial sebagai proses yang tinggi dan esensi
pengetahuan berkembang, interaksi informasi dan lingkungan
Vygoski menekankan bahwa belajar adalah perkembangan bahasa.Karna bahasa adalah alat untuk berinteraksi sosisal yang akan melahirkan pengetahuan. Adapun tahapan perkembangannya yaitu :
a. Pre intelektual speak : ex: menangis, mengoceh, menggerakkan anggota badan
b. Naif psikologi : anak mengembangkan bahasa dengan member label pada benda
c. Egosentri speak : anak berbicara sendiri tanpa peduli oranglain ( usia 3 tahun )
d. Inner speak : ketika berfikir, anak bicara sendiri (5 th )


STRATEGY KONSEP BELAJAR KONSTRUKTIFISME

1. Strategi Top-down processing : pembelajaran secara deduktif
2. Strategi kooperatif learning : pembelajaran secara kelompok
3. Strategi generative learning : pembelajaran secara generative ( membuat kesimpulan )

MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIFISME
1. Discover learning : siswa didorong untuk belajar dengan cara menemukan sesuatu
2. Receiving learning : dalm belajar, siswa menerima informasi dari guru
Adapun tahapan pembelajarannya :
a. Advance organizer : proses apersepsi/ memanggil pengetahuan yang lama
b. Menyampaikan tugas2
c. Penguatan organisasi kognitif
3. Assited learning / scholholding : belajar dengan bantuan orang lain
4. Active learning
5. Akselerasi learning / SAVI : Sumatif : learning by moving and doing
Auditory : learning by talking and hearing
Visual : learning by observing and picturing
Intelektual : learning by problem solving and reflecting
6. conceptual learning
7.Quantum learning : pembelajaran mengasikkan
8.Kontekstual learning : ada beberapa komponen , antara lain:
a. Konstruktifisme d.masyarakat belajar g . penilaian
b. Inquiry e.permodelan
c. Bertanya f.refleksi


TRANSFER BELAJAR
Dasar pemikirannya : setiap belajar akan mendapatkan keuntungan ( pengetahuan )dan keuntungan
ini akan memudahkan pembelajaran selanjutnya. Ada 3 Factor yang mempengaruhi transfer belajar :
a. Pendidik : meliputi metode mengajar, penguasaan materi dan alat peraga
b. Anak didik : meliputi IQ, sikap dan minat belajar
c. Mata pelajaran ( materi )

TEORI TRANSFER
1. Disiplin formal : daya jiwa manusia perlu dilatih
2. Adanya susunan yang identik : bahan pelajaran mengandung susunan belajar yang identik
3. Generalisasi : anak didik dapat menyimpulkan
4. Transposisi : pemindahan pengetahuan

KENISCAYAAN TASAWUF BAGI MANUSIA

Konsep tentang Manusia
A.Pengertian Manusia
Menurut islam, konsep manusia ialah sebagai mana yang dijelaskan dalam Alqur’an, yakni termuat dalam QS.Sajdah 7-9, al Hajj 5, al An’am 2, al Mukminun 12-16, dan at Tin 4-6. Adapun istilah yang digunakan sangat variatif, antara lain : Insan, al Nas dan basyr. Kesemua istilah tersebut menunjuk bahwa manusia memiliki potensi jasmani dan rohani, yakni potensi untuk melihat, berfikir, dan merasa .
B.Tujuan Penciptaan Manusia
Bila dilihat, tujuan penciptaan manusia yang berlandaskan dari ayat-ayat Al Qur’an antaralain yaitu :
a. Menjadikan manusia sebagai Muabbid ( QS.Adzariyat 56 )
b. Menjadikan manusia sebagai Khalifah fi al ardh ( QS.Albaqarah 30 )
c. Menjadikan manusia sebagai Imarah fi al ardh ( QS.Anbiya 105 )

C.Esensi Manusia
Esensi manusia terletak pada ruhaninya bukan pada jasmani, karena manusia termulia adalah manusia yang jiwanya selalu dekat dengan Allah yang menciptakannya. Sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa” (al-Hujurat : 13). Menurut H.A Salim, konsep taqwa ini ialah sikap metal seseorang yang selalu ingat dan waspada dalam memelihara dirinya dari noda dan dosa. Sikap taqwa selalu pantang berbuat salah melakukan perbuatan baik dan benar, dan melakukan kejahatan terhadap diri sendiri,oranglain dan lingkungannya .
Menurut Hasan Lnggulung, taqwa merupakan kesimpulan semua nilai yang terdapat dalam Alquran. Adapun nilai-nilai alquran menurut beliau dinyatakan sebagai akhlak. Oleh karena itu Hasan Langgulung membagi nilai taqwa dalam 5 kategori besar, antaralain:
a. Nilai perseorangan
b. Nilai kekeluargaan
c. Nilai social
d. Nilai kenegaraan
e. Nilai Keagamaan
Lebih lanjut, Hasan Langgulung memaknai konsep taqwa dalam memelihara meliputi 4 ruang lingkup , antara lain :

a. Hubungan manusia dengan Allah, meliputi :
1. Iman pada Allah 3.Syukur nikmat pada Allah
2. Ibadah kepada Allah 4.Taubat

b. Hubungan manusia dengan diri sendiri, meliputi :
1. Sabar
2. Pemaaf
3. Adil
4. Ikhlas
5. Amanah
6. Mawas diri

c. Hubungan manusia dengan sesama manusia, antara lain meliputi :
1. Tolong menolong
2. Menepati janji
3. Lapang dada
4. Menegakkan keadilan
5. Memaafkan kesalahan orang lain

d. Hubungan manusia dengan lingkungan hidup, antara lain meliputi :
1. Pemeliharaan kebersihan lingkungan
2. Menyayangi hewan dan tumbuhan
3. Mencegah perusakan
4. Pelestarian lingkungan
D.Eksistensi Manusia
Kehidupan yang Allah ciptakan tidak lebih sebenarnya untuk menguji siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang paling banyak dan paling baik amalannya. Beramal adalah inti dari eksistensi (keberadaan) manusia di dunia, karena tanpa amal otomatis manusia akan kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Sebagaimana di awal surah Al-Mulk ayat ke-2 Allah berfirman :
اَلَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَّهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
2.Konsep tentang Tasawuf
A.Pengertian Tasawuf
Secara etimologi, tasawuf berasal dari kata shuf, shifa dan shufah. Kata shuf berarti bulu domba, sebagai lambang bagi kehidupan sederhana pada masanya. Sedangkan kata shifa, artinya suci bersih. Kata shufa berarti golongan sahabat Nabi yang mensucikan diri dari suatu tempat terpencil di samping masjid Nabi SAW.
Selain makna diatas, tasawuf itu sendiri memberi makna bahwa ia adalah sikap mental yang senantiasa menjaga dan memelihara diri sedemikian rupa agar selalu berada dalam kesucian diri. Dan ini sejalan dengan pengertian menurut halajj bahwa tasawuf ialah salah satu kekuatan jiwa yang kukuh untuk tetap teguh mempertahankan kebaikan semata mata demi memelihara kesucian hati manusia. Dan ini sejalan pula menurut Junaid, tasawuf itu adalah ekspresi dari budi pekerti dan perangai yang terpuji.
Dari beragam makna tasawuf yang dikemukakan diatas, jadi tasawuf itu mengindikasikan perilaku tasawuf yang dilakukan oleh para pelaku tasawuf itu sendiri,sehingga apa yang dirasakan oleh seorang sufi akan berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa memaknai tasawuf itu tetap sama esensinya, yakni mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana
B.Tujuan Tasawuf
Tujuan utama tasawuf adalah pengutuhan manusia dengan seluruh kedalaman dan keluaran keberadaannya dan seluruh keluasan yang tercakup dalam pribadi manusia yang disebut manusia sempurna (insan kamil).
Tujuan tasawuf adalah mencapai kesadaran murni dan menyeluruh. Manusia yang terdiri dari tubuh, pikiran dan jiwa masing-masing perlu diutuhkan kembali
sesuai dengan tingkatannya sendiri. Tasawuf juga berusaha mengutuhkan
berbagai ilmu yang berkembang ke dalam perspektif dengan tepat. Peranan
jalan kerohanian (thariqat) dalam pengukuhan manusia adalah sesuatu yang
hakiki, karena hanya melalui kehadiran Tuhan dan barakah yang terkandung di
dalamnya yang telah ditunjukkan ke dalam Al Quran semua unsur yang tercerai
berai dalam diri manusia dapat dipadukan kembali.
Selain itu, ajaran tasawuf juga bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Sehingga orang-orang merasa di hadiratnya. Caranya adalah dengan kontemplasi, melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat
sementara dan selalu berubah .
C. Esensi Tasawuf
Tasawuf sebagai segi batin agama — sementara segi lahirnya disebut syari’ah — adalah bidang ilmu keislaman yang bisa dibagi dalam tiga bagian: tasawuf akhlaqi, tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaqi ialah ajaran akhlak dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Tasawuf akhlaqi meliputi tahalli (penyucian diri dari sifat-sifat tercela, menghiasi dan membiasakan diri dengan sikap terpuji) dan tajalli, yaitu tersingkapnya Nur Ilahi .
Tasawuf amali ialah tuntunan praktis cara mendekatkan diri kepada Allah, yang identik dengan tarekat. Mereka yang masuk tarekat akan memperoleh bimbingan praktik atau amaliah bertasawuf. Sementara tasawuf falsafi ialah kajian secara mendalam dengan tinjauan filosofis dari segala aspek. Dalam tasawuf falsafi dipadukan visi intuitif tasawuf dan visi rasional filsafat.
Ajaran ketiga jenis tasawuf itu bermuara pada penghayatan terhadap ibadah murni (mahdhah) untuk mewujudkan al-akhlaq al-karimah (budi pekerti luhur), baik secara individual maupun sosial. Dengan demikian, tasawuf menjanjikan penyelamatan di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialistis, hedonis, pragmatis, sekular, serta kehidupan yang semakin sulit secara ekonomis maupun psikologis.
D.Tasawuf Sebagai Suatu Keniscayaan
Sejarah tumbuhnya tasawuf sama panjangnya dengan sejarah lahirnya manusia itu sendiri. Hal ini dapat dipahami dari keberadaan manusia sebagai makhluk Allah yang diciptakan dari dua unsur yang berlainan yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani sebagai bagian dari kehidupan nyata tumbuh dan berkembang dari dan dengan yang nyata pula (materi). Allah menjelaskan tentang kejadi manusia ini dengan firman-Nya yang berbunyi:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ . ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَا تَشْكُرُونَ (السجدة : 7 – 9)
Artinya: Allah-lah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, Dia memulai kejadian manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati tanah (sulalah) dalam bentuk air yang hina (air mani). Lalu Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia itu), dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) sedikit sekali kamu yang bersyukur. (Q.S : al-Sajadah : 7 – 9)
Adam A.S adalah manusia pertama yang dijadikan Allah dengan menggunakan tanah secara langsung, bercampur air, dikeringkan dengan mengunakan suhu panas, dan angin sebagai alat pendingin dalam suatu proses dan sistem tertentu. Tetapi manusia berikutnya yang lahir secara kausalitas dari hubungan biologis antara manusia laki-laki dengan manusia perempuan yang bahannya tidak lagi menggunakan tanah secara langsung tetapi tanah sebagai suatu proses yang pada akhirnya memunculkan seperma (sulalah) yang kemudian terciptalah manusia yang sempurna dalam bentuk tetapi belum sempurna secara utuh. Untuk kesempurnaan manusia secara utuh Allah memberinya ruh yang ditiupkan dari ruh Allah sendiri (min ruhihi).
Dari sini nampak jelas keberadaan manusia itu terdiri dari unsur materi dan non materi. Unsur materi (air, api, angin dan tanah) memunculkan sifat-sifat manusia sebagaimana yang dimiliki oleh keempat unsur tadi. Sedangkan unsur non materi berupa ruh yang suci (ruh al-qudsi) membawa sifat-sifat terpuji seperti halnya sifat-sifat Allah yang Maha Mulia. Sifat-sifat materi yang menjadi sifat lahiriah kehidupan manusia ditunggangi oleh hawa, nafsu, dunia, syathon serta iblis yang kemudian memunculkan sifat-sifat yang tercela (mazmumah) dan disebut dengan istilah fujur, sedangkan sifat ruhaniah yang suci membawa sifat-sifat yang baik (mahmudah) yang disebut dengan istilah taqwa. Pernyataan ini dijelaskan Allah dengan firman-Nya.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: dan jiwa serta apa (yang menjadi alat) kesempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu sifat fujur dan taqwa. Sungguh amat beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh amat merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S : al-Syams : 7 – 10)
Esensi manusia terletak pada ruhaninya bukan pada jasmani, karena manusia termulia adalah manusia yang jiwanya selalu dekat dengan Allah yang menciptakannya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa” (al-Hujurat : 13). Tetapi jasmani sebagai bangunan tempat berdiamnya ruhani selagi didunia ini menjadi bagian tak terpisahkan dengannya, meskipun sifat dan keinginan keduanya sering kali berlawanan. Jasmani akan menampilkan sifat-sifat yang tidak terpuji manakala ruhaninya ditutupi oleh awan kegelapan dunia, dipicu oleh keinginan nafsu yang ditunggangi oleh syaithoniyah .
Jasmani membutuhkan makan dan minum, pada hal makan dan minum yang melebihi kebutuhan jasmani membuat jasmani itu malas beribadah, sedangkan ruhani selalu berkeinginan untuk beribadah kepada Allah yang menjadikannya. Jasmani senang kelezatan miskipun mungkin untuk mendapatkan kelezatan itu dia harus melanggar larangan Allah, sedangkan ruhani selalu merasa takut berbuat salah. Manakala tabir penutup ruhani itu tidak segera dibuka, maka kehadiran jasmani dipanggung dunia ini hanyalah menjadi kenderaan iblis dan syaithon untuk berbuat angkara murka yang tidak lagi mengenal batas mana yang haq dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah. Rasul SAW menjelaskan;
جمود العين من قسوة القلوب وقسوة القلوب من كثرة الذنوب وكثرة الذنوب من نسيان الموت ونسيان الموت من طول الامل وطول الامل من حب الدنيا وحب الدنيا رأس كل خطيئة
Artinya: Bekunya mata disebabkan kerasnya hati, dan kekerasan hati disebabkan banyak dosa, dosa banyak karena lupa akan mati, lupa mati disebabkan panjang angan-angan, sedangkan panjang angan-angan karena cinta dunia, cinta dunia menjadi sumber segala ma’siat.
Untuk mencegah kekerasan hati dan melunakkannya, manusia perlu membersihkan jiwanya dengan melakukan penyadaran terhadap jasmaninya (taubat) atas tindakan dan perbuatan salah yang pernah dilakukannya. Taubat ini merupakan bagian yang integral dalam amaliah sufi, dan bahkan seorang hamba sebelum melakukan amaliah lainnya terlebih dahulu dituntut untuk melakukan taubat dengan sepenuh hati. Sejarah Adam A.s. yang menyebabkan dia keluar dari surga karena melakukan pelanggaran terhadap larangan Allah, adalah contoh kelasik yang dapat dijadikan i’tibar sepanjang zaman. Adam A.s yang hidup bersama hawa di alam ketenangan (surga) terpaksa keluar ke alam kegundahan (dunia) sehingga memaksanya untuk bertaubat sebagai upaya pengembalian dirinya kealam kesucian.
Fitrah manusia yang diciptakan dalam dua unsur yang berbeda itu, nampaknya membuat manusia tidak terlepas dari kesalahan yang pada gilirannya menjadikan kesucian ruhaninya terkontaminasi dengan berbagai kotoran dosa. Manakala ruhani tidak lagi sesuci disaat dia hadir kedalam tubuh jasmani melalui tiupan ruh secara langsung dari Allah, maka ruhani itu tidak lagi punya kemampun untuk kembali ke alam asalnya yaitu alam lahut sebagai tempatnya semula , padahal manusia dituntut agar dia kemabli kealam asalnya dari petualangannya di alam dunia fana ini.

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (al-Baqarah: 46)
Tuntutan untuk dapat kembali ketempat asalnya itulah yang membuat manusia harus berupaya maksimal membersihkan jiwanya. Disinilah mengapa tasawuf itu dianggap sebagai suatu keniscayaan. Karena, tasawuf merupakan salah satu jalan yang akan mengembalikan manusia ketempat asalnya. Tasawuf bukanlah salah satu cara untuk melarikan diri (eskapisme) dari kesulitan kehidupan, melainkan ia suatu keniscayaan bagi seorang hamba.

3.PERILAKU AKHLAK TASAWUF DALAM DIRI MANUSIA
A.Tasawuf Dan Kebahagiaan Hidup Manusia
Hidup bahagia merupakan dambaan setiap manusia. Dan hidup sehat ialah salah satu syarat untuk kebahagiaan hidup. Orang yang tidak sehat alias sakit sangat mungkin ia tidak akan bahagia dalam hidupnya .
Kebahagiaan itu muncul dari dalam diri individu dalam rupa siksap hidup. Kebahagiaan bukan berasal dari luar diri yang muncul dari adanya kekayaan,popularitas dan lain sebagainya. Kebahagiaan tumbuh dan berkembang dalm diri manusia melalui kekuatan yang bersumber dari jiwa yang tenang dan bersih. Oleh karena itu kebahagiaan akan sulit dirasa jika jiwa manusia gelisah dan selalu merasa cemas,lalai ,hasad dan semua sifat yang memiliki watak kedzaliman baik pada drinya,orang lain maupun Tuhan.
Tasawuf dalam berbagai aktivitasnya merupakan suatu jalan kerohanian yang dapat mengantarkan manusia pada kondisi terbebasnya diri dari kungkungan jiwa syahwaniah. Dan dengan sedemikian rupa, semua sikap hidup sehat diajarkan dalam tasawuf . Kebaikan dan kebajikan dalam konteks tasawuf bukan dalam sekedar tindakan moralitas semata, akan tetapi berupa tindakan yang berdimensi batiniyah yang dalam semua tampilannya tidak terpisah dari jiwa intelektual dan ruhani manusia. Dan manusia yang berada dalam kondisi seperti ini, jiwanya akan senantiasa ikhlas dalam beramal dan berjuang untuk melakukan apaun yang diridhai Allah. Dengan demikian,ia akan semakin dekat dengan Tuhannya sebagai satu-satunya sumber kebahagian dalam hidup manusia.

B.Tasawuf Dan Ketenangan Hidup Manusia
Ketenangan hidup merupakan cita-cita luhur bagi setiap manusia. Mengingat bahwa ketenangan hidup merupakan kebutuhan ruhani yang telah dianugrahkan Allah pada setiap manusia yang dengannya akan melahirkan beragam aktivitas yang memajukan dan mencerahkan kehidupan manusia, maka tak dapat dipungkiri lagi bahwa ajaran tasawuf sebagai ajaran yang bersumber dari pengalaman syari’ah dan penyucian jiwa tentu meniscayakannya sebagai pengontrol bagi perilaku hidup manusia yang pada gilirannya akan membawa pelaku tasawuf untuk senantiasa berprilaku positif dalam mencari ridha Tuhannya.
Dalam mencari ridha Tuhan, sangat diakui bahwa manusia dituntut untuk menggunakan segala potensi yang dimilikinya. Dan dengan demikian, maka ketika ia berinteraksi dengan sesama manusia, alam dan Tuhannya, maka ia akan mengambil langkah dan sikap yang telah digariskan oleh Tuhannya sebagaimana semestinya. Dalam kondisi seperti ini, tasawuf sangat memegang peranan yang sangat penting untuk mewujudkan ketenangan hidup manusia dalam segala aktivitasnya. Karena itu ajaran yang mencerminkan kesabaran,keikhlasan dan keistiqamahan dalam tasawuf akan menghindarkan manusia dari sifat cemas, bimbang dan keluh kesahnya.

C.Tasawuf Dan Pembentukan Insan Kamil
Dari dulu hingga saat ini, salah satu kebutuhan manusia ialah mengaktualisasikan dirinya dalam menegakkan nilai-nilai humanitas yang menjadi lambang keberadaan manusia didunia. Dengan kebutuhannya ini, maka manusia akan membawa dirinya pada aktivitas-aktivitas yang berdimensi ilahiyah. Sehingga dalam konteks inilah sebutan insan kamil akan muncul.
Menurut Alfarabi; Insan kamil ialah duplikasi Tuhan didunia, yaitu nur muhammad yang merupakan penjelmaan dari Allah yang menyeluruh, ia sebagai khlalifah dibumi. Penyebutan insan kamil ini dikarenakan manusia merupakan suatu manifestasi sempurna dari Tuhan .
Apa yang disebutkan tokoh sufi diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki jalan untuk dapat mencapai kebaikan dan kebajikan dalam kehidupannya .Bahkan, jalan itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia itu sendiri. Dan tegasnya, terkait dengan ini, tasawuf itu sendiri ialah jalan untuk mencapai insan kamil. Oleh karena itu, ketika manusia telah sampai pada perbuatan yang menumbuhkan sifat-sifat ilahiyah dalam dirinya sendiri,maka ia telah mencapai insan kamil sebagai bentuk perwujudan manusia yang berakhlak.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari uraian yang telah dijelaskan pada bab pembahasan diatas,penulis mengambil kesimpulan bahwa sebagai tasawuf merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhannya. Dan sebagai sebuah jalan, tasawuf merupakan sebuah pilihan yang akan meniscayakan manusia untuk mengambil pilihan itu sendiri. Karena dengan cara memilih jalan tasawuf, berarti manusia akan dianggap tetap eksis, dalam arti bahwa keeksisan seorang individu terletak pada individu itu sendiri bagaimana ia dapat menjadikan dirinya sebagai abid, khalifah dan imarah yang pada akhirnya ia akan melahirkan seorang insan yang kamil yaitu insan yang Sempurna.




DAFTAR REFERENSI

Mansur, Amril ,”Akhlak Tasawuf ”, Pekanbaru : LSFK2P,2007
Tebba,Sudirman” Tasawuf Positif” Jakarta: Kencana ,2003
Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, Pekanbaru : LSFK2P , 2005
Hitami,Munzir, Mengonsep kembali pendidikan islam, Pekanbaru : Infinite Press, 2004
Daud.M, Pendidikan agama islam, Jakarta :Rajawali Pers, 2008
http://muhammad-rusfi.blogspot.com/2011/01/tasawuf-suatu-keniscayaan.html jam.03/02/04/11
http://pondokhabib.wordpress.com/2009/04/28/tasawuf-alternatif-bagi-dahaga-rohani/
http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ikhlas-dalam-ilmu-tasawuf/
http://www.opensubscriber.com/message/zamanku@yahoogroups.com/9344788.html

ANALISIS KURIKULUM SKI MA

BAB I
Pendahuluan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kurikulum sebagai program pendidikan ini berfungsi sebagai pedoman dan alat dalam menyelenggarakan kependidikan dan kegiatan pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan. Sehubungan dengan fungsi kurikulum tersebut, Nazhary mengungkapkan bahwa ada tiga fungsi dari kurikulum, yaitu sebagai berikut:
1. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan
2. Kurikulum sebagai batasan dari program kegiatan pada tingkatan pendidikan
3. Kurikulum sebagai pedoman dalam penyelenggaraan proses pembelajaran
Berdasarkan penjelasan tiga fungsi kurikulum diatas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan komponen dari pendidikan yang memegang peranan yang begitu penting, termasuk bagi pelaksanaan dan penyelenggaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu bagian integral dari Pendidikan Agama Islam. Sehubungan dengan ini, kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran yang sangat mendukung dalam pencapaian tujuan dari kurikulum Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, dalam merencanakan dan menyusun kurikulum, guru diharapkan agar cermat dan teliti. Karena, sebuah kurikulum itu memiliki sejumlah komponen yang saling terkait erat satu sama lain. Dan secara teoritis, penyusunan kurikulum harus berdasarkan asas dan orientasi tertentu.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menganggap bahwa penulisan mengenai analisis pedoman pelaksanaan kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam ini sangat penting untuk dibahas, karena mengingat peranan dan fungsinya yang begitu penting dalam pencapaian tujuan pendidikan agama islam.



BAB II
PEMBAHASAN

A. PEDOMAN PELAKSANAAN KURIKULUM
1. LATAR BELAKANG
Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkemangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Untuk mencapai tujuan tersebut salah saru bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di Madrasah adalah Pendidikan Agama Islam yang dimaksudkan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah terdiri atas 4 mata pelajaran yaitu Al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlah, Fiqih dan SKI. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait.
Aspek Sejarah Kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibroh dari peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani tokoh berprestasi dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.

2. TUJUAN
Sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah merupakan salah satu mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan persadaban islam di masa lampau mulai dari masa nabi Muhammad periode Mekah dan Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat, perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (650-1250), Perkembangan Islam pada abad pertengahan/kemundurun (1250-1800), Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800 sampai sekarang), perkembangan Islam di indonesia dan di dunia. Secara subtansial SKI memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati SKI yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik.
Adapun tujuan mata pelajaran SKI di Madrasah Aliyah ialah :
1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran nilai-nilai dan norma-norma dalam islam yang telah dibangun oleh Rasulullah dalam rangka mengembangkan kebudayaan islam.
2. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, kini dan masa depan.
3. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah islam sebagai bukti peradaban umat islam .
5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibroh dari peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani tokoh berprestasi dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.

3. RUANG LINGKUP
a. Dakwah Nabi Muhammad pada periode mekah dan periode madinah
b. Kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat
c. Perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (650-1250)
d. Perkembangan Islam pada abad pertengahan/kemunduran (1250-1800)
e. Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800 sampai sekarang)
f. Perkembangan Islam di indonesia dan di dunia
4. Fungsi
Setidaknya ada tiga fungsi dasar pembelajaran SKI, yaitu :
1. Fungsi Edukatif
Sejarah menegaskan kepada siswa tentang keharusan menegakkan nilai, prinsip, sikap hidup yang luhur dan Islami dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
2. Fungsi Keilmuan
Melalui sejarah siswa memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya.
3. Fungsi transformasi
Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam merancang transformasi masyarakat.

5. Pendekatan Pembelajaran
Cakupan materi SKI merupakan bagian tak terpisahkan dari rumpun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Olehkarena itu setiap aspeknya dikembangkan dalam suasana pembelajaran yang terpadu, meliputi:
1. Keimanan yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Allah SWT sebagai sumber kehidupan.
2. Pengamalan,memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil hasil pengamalan keyakinan akidah dan akhlak dalam menghadapi tugas dan masalah dalam kehidupan.
3. Pembiasaan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran islam dan budaya bangsa dalam menghadapi tugas dan masalah dalam kehidupan.
4. Rasional, usaha memberikan peranan kepada rasio(akal) peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai materi dalam standar materi serta kaitannya dengan perilaku yang baik dengan perilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi.
5. Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
6. Fungsional, menyajikan materi SKI dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
7. Keteladanan, yaitu menjadikan figure pribadi-pribadi teladan dan sebagai cerminan dari manusia yang memiliki keyakinan tauhid yang teguh dan berprilaku mulia.
F.Penilaian
Untuk mengetahui kompetensi siswa sebagai hasil proses pembelajaran SKI, perlu dilakukan penilaian dengan rambu-rambu sebagai berikut:
1. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian kemajuan belajar dan penilaian hasil belajar siswa.
2. Penilaian kemajuan belajar. Merupakan pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan dasar yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam kurun waktu, unit satuan atau jenjang tertentu.
3. Penilaian hasil belajar SKI adalah upaya pengumpulan informasi untuk menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap suatu kompetensi meliputi: pengetahuan, sikap, dan nilai. Penilaian hasil belajar ini dilakukan sepenuhnya oleh madrasah yang bersangkutan.Hasil penilaian dijadikan sebagai pertimbangan utama dalam memasuki pendidikan jenjang berikutnya.
4. Penilaian hasil belajar PAI SKI secara nasional dilakukan oleh Departerrien Agama Pusat dengan mengacu kepada kompetensi dasar, hasil belajar, materi standar, dan indikator yang telah ditetapkan di dalamKurikulumNasional PAI SKI. Penilaian tingkat nasional berfungsi untuk memperoleh informasi dan data tentang mutu hasil penyelenggaraan mata pelajaran PAI SKI.
5. Alat-alat dan format penilaian hendaknya dapat mengukur dengan tepat kemampuan dan usaha belajar siswa.
6. Penilaian dilakukan melalui bentuk tes dan non tes
7. Pengukuran terhadap ranah afektif dapat dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes seperti skala penilaian, observasidanwawancara, sementara terhadap ranah psikomotorik dengan tes perbuatan dengan menggunakan lembar pengamatan.

B. SYLABUS PAI SKI MA
1. Kelas XII semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memahami keteladanan dakwah Rasulullah dalam membina umat





a. Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dan Madinah.
b. Mendeskripsikan subtansi dan strategi dakwah rasulullah pada periode Makkah dan Madinah.
c. Mengidentifikasi hasil-hasil perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwah.
d. Mengambil ibrah dari perjuangan
e. dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dan Madinah untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang.
2. Memahami masalah kepemimpinan umat islam pasca nabi wafat. a. Menceritakan proses dan model pemilihan kepemimpinan pada masa Khulafaurrasyidiin
b. Mendeskripsikan kepemimpinan pada masa Khulafaurrasyidiin
c. Mengambil ibrah dari kepemimpinan Khulafaurrasyidiin untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang
3. Memahami perkembangan Islam (zaman keemasan) pada tahun 650M-1250 a. Menjelaskan perkembangan Islam pada periode klasik
b. Mengidentifikasikan peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
c. Mengambil ibrah dari perkembangan Islam pada periode klasik untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang
d. Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
4. Memahami perkembangan Islam pada periode pertengahan / zaman kemunduran (1250 M-1800 M) a. Menjelaskan perkembangen Islam pada abad pertengahan
b. Menceritakan sebab-sebab kemunduran islam pada abad pertengahan
c. Mengambil ibrah dari perkembangan Islam pada periode pertengahan untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang


2. Kelas XII semester II

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN
1 Mengkaji sejarah islam di andalusia - Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung masuknya islam ke andalusia
- Menjelaskan proses masuknya islam di andalusia
- Mengambil ibrah dari masuknya islam di andalusia (spanyol)
- Menunjukkan peta wilayah kekuasaan dinasti umayyah II.
- Menyebutkan peninggalan bersejarah dinasti umayyah II.
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai dibidang sosial budaya.

- Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemunduran dan kehancuranperadaban islam di Andalusia
- Menggali hikmah keruntuhan dinasti Umayyah II
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Muwahidun

- Menyebutkan ilmuwan,filosof dan ulama pada dinasti muwahidun
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Bani Ahmar
- Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemunduran Dinasti Bani Ahmar
- Menyebutkan peninggalan bersejarah bani Ahmar
- Mengambil hikmah dari keruntuhan bani Ahmar
2 Mengkaji pemikiran dan gerakan modernisasi dunia islam - Menjelaskan keadaan dunia islam saat kedatangan penjajah
- Menyebutkan motivasi dan tujuan bangsa barat menjajah negara islam
- Menyebutkan beberapa wilayah yang dikuasai bangsa barat
- Menjelaskan dampak penajajhan bangsa barat atas dunia islam dalam bidang politik dan ekonomi

- Menjelaskan dampak penajajhan bangsa barat atas dunia islam dalam bidang ilmu pengetahuan

- Menjelaskan secara singkat biografi Muhammad Abd Wahab
- Menjelaskan gerakan bidang akidah dan syariah Muhammad Abd Wahab
- Menilai pemikiran Muhammad Abd Wahab

- Menceritakan secara singkat biografi jamaluddin al afghani

- Menjelaskan peranan jamaluddin al afghani
- Menjelaskan konsep khilafah al Afgani
- Membandingkan konsep khilafah dengan negara modern
- Menjelaskan peranannya di urwatul wutsqa

- Meneladani sikap intelektual dan ant imperialisme al afghani

- Menceritakan secara singkat biografi muhammad abduh

- Menjelaskan peranan muhammad abduh di bidang politik
- Menjelaskan konsep khilafah muhammad abduh
- Menilai pemikiran pembaharuan muhammad abduh

- Menceritakan secara singkat biografi rasyid ridha
- Menjelaskan peranan rasyid ridha dalam pengembangan pemikiran muhammad abduh
- Menyebukan nama tafsir yang ditulis oleh rasyid ridha
- Menilai pemikiran pembaharuan rasyid ridha



- Menceritakan secara singkat biografi rasyid ridha
- Menjelaskan peranan kamal attaturk di politik
- Menjelaskan konsep sekelarisme attaturk
- Menjelaskan reaksi ulama atas ide sekulerisme
- Mengambil hikmah dari sekulerisme di turki

- Menceritakan secara singkat biografi muhammad iqbal
- Menjelaskan ide dasar pemikiran muhammad iqbal tentang dinamisme islam dan filsafat diri
- Meneladani sikap intelektual dan nasionalisme iqbal
3 Memahami perkembangan islam di indonesia - Menjelaskan waktu masuknya islam ke indonesia
- Menjelaskan proses penyebaran islam di indonesia
- Menjelaskan pengaruh islam terhadap peradaban bangsa indonesia
- Menyebutkan kerajaan islam di indonesia
- Menjelaskan peranan samudra pasai dalam penyebaran islam di indonesia
- Menjelaskan peranan kerajaan demak dalam islamisasi jawa
- Menyebutkan peninggalan kerajaan islam
- Mengambil ibrah keberadaan kerajaan islam di indonesia
- Menyebutkan nama-nama ulama di indonesia
- Menjelaskan peranan ulama awal dalam penyebaran islam di indonesia
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para ulama
- Menyebutkan nama-nama walisongo
- Menjelaskan peranan walisongo dalam pengembangan islam di indonesia
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para walisongo
4 Mengkaji pembaharuan islam di indonesia - Menjelaskan sejarah berdirinya muhammadiyah
- Menjelaskan ide dasar KH.Ahmad Dahlan
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman serta kepedulian sosialnya
- Menjelaskan sejarah berdirinya NU
- Menjelaskan ide dasar KH.Hasyim As’ary
- Menjelaskan peranan KH.Hasyim As’ary dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman As’ary







BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan Hasil Analisis
Jika kita analisa dari nilai filosofis yang terkandung dalam asas-asas penyusunan kurikulum, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah tersebut:
1. Telah sesuai antara tujuan dan ruang lingkup pencapaian tujuan materi pendidikan islam – sejarah kebudayaan islam.
2. Telah sesuai antara tujuan pencapaian pendidikan agama islam dengan taraf kemampuan siswa islam.
3. Tidak adanya kecacatan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di lapangan.

Namun, jika dianalisis lebih lanjut, kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah ini memiliki beberapa kekurangan,antara lain:
1. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih bersifat tradisional, masih belum menyentuh aspek rasional.
2. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih disajikan dengan mementingkan memori saja
3. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih belum memperhatikan minat dan kebutuhan individu dan sosial.