Rabu, 26 Januari 2011

contextual learning


A.  Latar Belakang
Sejak zaman penjajahan, bangsa Indonesia telah memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Namun pelaksanaannya masih diwarnai oleh kepentingan politik kaum penjajah, sehingga tujuan pendidikan yang hendak dicapaipun disesuaikan dengan kepentingan mereka.
Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, bangsa Indonesiapun menunjukan kepeduliannya terhadap pendidikan. Hal itu terbukti dengan menempatkan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan nasional bangsa Indonesia, yang sekarang ini tujuan pendidikan tersebut dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional (UU sisdiknas) BAB II pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut : “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan  membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan maka diperlukan suatu alat untuk mencapainya, yaitu “segala sesuatu yang secara langsung membantu terlaksananya tujuan pendidikan” .
Sehubungan dengan alat pendidikan ini, Ahmad Supardi (1989:9), membagi alat pendidikan ke dalam dua bagian, yaitu[1] :
  1. Alat fisik, berupa segala perlengkapan pendidikan yang berupa sarana dan fasilitas dalam bentuk konkrit, seperti bangunan, alat tulis dan baca dan lain sebagainya.
  2. Alat non fisik, berupa kurikulum, pendekatan, strategi, metode dan tindakan berupa hadiah dan hukuman serta uswatun hasanah atau contoh teladan yang baik dari pendidik.
Berdasarkan pembagian alat pendidikan yang dikemukakan Ahmad Supardi di atas, jelaslah bahwa salah satu dari alat pendidikan diantaranya adalah pendekatan Contextual Teaching Learning ( CTL ) sebagai salah satu alat yang dianjurkan oleh kurikulum 2004 untuk diterapkan dalam proses pembelajaran, khususnya ialah dalam pembelajaran pendidikan agama islam. Sehubungan dengan hal ini, maka penulis menganggap bahwa penjelasan mengenai pendekatan CTL dalam pendidikan agama islam ini sangat urgen untuk diketahui secara jelas oleh para mahasiswa sebagai bekal bagi calon pendidik dimasa yang akan datang.
B.  Rumusan Masalah
Adapun yang terkait dengan pembahasan tentang pendekatan CTL ini antaralain ialah :
A.    Urgensi CTL dalam PAI
B.     Pengertian Pendekatan CTL
C.     Karakteristik Pembelajaran CTL
D.    Peranan Guru Dalam Pembelajaran CTL
E.     Komponen-komponen CTL
F.      Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CTL
G.    CTL dalam Pembelajaran PAI


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Urgensi CTL dalam pendidikan Agama Islam
1.    Sejauh ini, pembelajaran PAI hanya berpusat pada guru dengan melalui metode ceramah dan hafalan saja bagi siswa. Sehingga siswa cenderung bosan karena hanya dijadikan sebagai objek dalam belajar . Dan jika ini terus berlanjut maka akibatnya adalah tujuan pembelajaran PAI tidak akan tercapai secara penuh. Padahal PAI merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang harus dipelajari siswa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak yang mulia sebagaimana tujuan yang diharapkan dalam tujuan nasional .
2.    Dalam kurikulum 2004, setiap pembelajaran diharuskan untuk mencakup tiga ranah , yakni kognitif, Psikomotor dan Afektif. Olehkarenanya diperlukan pendekatan yang tepat untuk mencakup ketiga ranah tersebut.
B.  Pengertian Pendekatan Contextual Teaching Learning
Ada beberapa defenisi mengenai CTL ,antaralain :
1.    Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).[2]
2.    Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya[3] :
1.    CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
2.    CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
3.    CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi segala bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
C.  Karakteristik CTL
Ada lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL , yaitu sebagai berikut:
1.    Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2.    Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3.    Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4.    Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5.    Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.
D.  Peranan Guru Dalam Pembelajaran CTL
Peranan guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya yaitu, guru berperan dalam mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered.
Menurut Depdiknas, guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
1)   Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa .
2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.
5) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya.
Dalam pengajaran kontekstual , guru memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu:
1.    Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2.    Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.    Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4.    Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5.    Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman, bukan hanya sekedar hapalan.
E.  Komponen-komponen CTL
Ada beberapa komponen pembelajaran CTL yang harus kita ketahui antara lain meliputi [4]:
    1.     Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu..
    2.     Menemukan (Inquiry), Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri.
    3.     Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
    4.     Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan.
    5.     Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model , model lain dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
    6.     Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
    7.     Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa
F. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CTL
Menurut Zahorik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CTL,antaralain [5]:
Ø Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
Ø Pembelajaran dimulai dari keseluruhan ( global ) menuju bagian-bagiannya secara khusus
Ø Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman,yakni dengan cara:
a.    Menyusun konsep
b.    Melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan oranglain
c.    Merevisi dan mengembangkan konsep
Ø Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
Ø Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
G. CTL DALAM PEMBELAJARAN PAI
            Ada beberapa hal yang perlu diketahui guru PAI untuk mengimplementasikan pendekatan CTL dalam pembelajaran PAI, antaralain:
1.    CTL adalah pembelajaran berbasis masalah, oleh karena itu, guru harus:  
a. Mengobservasi suatu fenomena, misalnya:
1.    Menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia ilahi, alam akhirat, dll.
2.    Melihat pelaksanaan shalat, puasa, zakat,qurban atau menyantuni fakir miskin
b. Memerintahkan siswa untuk mencatat permasalahan yang muncul
c. Merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada
d. Guru memotivasi siswa agar mereka berani bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat-pendapat yang berbeda.
2. CTL adalah pendekatan yang memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar.
       Adapun dalam pembelajaran PAI, guru dapat melakukan penugasan kepada siswa diluar kelas. Misalnya, mengikuti shalat berjamaah, shalat jum’at, mmelihat ibadah qurban dan berkunjung ke pesantren,dll.
3.        CTL dapat Memberi aktivitas kelompok
Dalam aktivitas kelompok ini, pembelajaran PAI dapat mendatangkan ahli kekelas, atau bekerja sama dengan kelas lain yang sederajat maupun tidak.
4.        CTL dapat membuat aktivitas belajar mandiri
5.        Pendekatan CTL harus menyusun refleksi, misalnya merenungkan kembali pengalaman yang baru dipelajari, misalnya pengalaman shalat berjamaah.
BAB III
PENUTUP
A.Simpulan
            Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan dalam bab pembahasan diatas, maka penulis meyimpulkan bahwa pendekatan CTL merupakan pendekatan yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar, atau biasa juga disebut student centered approach. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipejarinya.
Pembelajaran kontekstual ialah pembelajaran dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehhidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian, siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan tersebut dari kontek yang terbatas dan sedikit demi sedikit namun  melalui proses kontrusksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaraan secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

E.Mulyasa “ Menjadi Guru Profesional”, Bandung : Rosdakarya, 2007

Sanjaya, Wina, “ Strategi Pembelajaran “, Jakarta : Kencana , 2008

http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.php

http // www.ipotes.wordpress.com/Pendekatan-kontekstual

www.farhansyaddad.wordpress.com/.../analisis-kebijakan-pendidikan-islam-

 








[1] www.farhansyaddad.wordpress.com/.../analisis-kebijakan-pendidikan-islam-
[2] http : www.ipotes.wordpress.com/Pendekatan-kontekstual

[3] Sanjaya, Wina, “ Strategi Pembelajaran “, Jakarta : Kencana , 2008 hal.255-256

[4] http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.php

 

[5] E.Mulyasa “ Menjadi Guru Profesional”, Bandung : Rosdakarya, 2007 hal.103

MEDIA PEMBELAJARAN


BAB I
MEDIA PEMBELAJARAN

A.    Pendahuluan
            Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.
            Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terlaksana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
Interaksi yang terjadi dalam proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas guru, murid, petugas pustaka,kepala sekolah, materi,berbagai sumber belajar.
            Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alatyang tesedia. Untuk itu guru harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang  media pengajaran yang meliputi :
a.       Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar
b.      Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
c.       Seluk-beluk prses belajar
d.      Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan
e.       Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran
f.       Pemilihan dan penggunaan media pendidikan
g.      Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan’
h.      Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran
i.        Usaha inovasi dalam media pendidikan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dariproses belajar-mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya.

B.     Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara ( وساءل ) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Elly (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuanj, keterampilan atau sikap. Sedangkan menurut Webster media adalah keterampilan atau skill yang diperoleh lewat pengalaman, studi dan observasi.
Berdasarkan uraian ada beberapa batasan tentang media sebagai berikut:
a.       Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras) yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba, dengan panca indera.
b.      Media pendidikan memiliki pengertian non-fisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak) yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa
c.       Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio
d.      Media pendidikan memiliki pengertuian alat bantu pada proses belajar baik didalam maupun didalam kelas
e.       Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
f.       Media pendidikan dapat digunakan secara massa (misalnya radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video, OHP) atau perorangan (misalnya modul, computer, radio tape/kaset, video recorder)
g.      Sikap perbuatan organisasi strategi dan mmanajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
C.    Landasan Teoritis Penggunaan Media Pendidikan
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan sikap yang dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut bruner: ada tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (Enactive), pengalaman puktorial/gambar (Iconic) dan pengalaman abstrak (Symbolic). Pengalaman langsung adalah mengerjakan, misalnya arti kata ‘simpul’ dipahami dengan langsung membuat simpul. Tingkatan kedua yang diberi label iconic (artinya gambar atau image), kata ‘simpul’ dipelajari dari gambar, lukisan, poto, atau film.
Tingkatan ketiga symbol siswa membaca atau mendengar kata ‘simpul’ dan mencoba mencocokkannya dengan simpul pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul.
Ketiga tingkat pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh pengalaman pengetahuan, keterampilan atau sikap yang baru.

3. Ciri-Ciri Media Pendidikan
Gerlach dan Elly mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang meungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.
a.       Ciri-Ciri Fiksatif
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disuse
n kembali dengan media seperti fotografi, video tape, audio tape, disket, komputerdan film.
b.      Ciri Manipulatif
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media mempunyai ciri manipulative. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu 2 atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time lapse recording. Misalnya, bagaimana proses larva menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu dapat dipercepat dengan teknik rekaman grafik tersebut, disamping itu juga dapat dipercepat suatu kejadian dapat pula diperlambat pada saat menayangkan kembali hasil rekaman suatu video. Misalnya proses loncat galah atau reaksi kimia dapat diamati melalui bantuan kemampuan manipulative dan media. Demikian pula, suatu aksi gerakan dapat direkam dengan foto kamera untuk foto.
Manipulasi kejadian atau objek dengan jalan mengedit hasil rekaman dapat menghemat waktu. Proses penanaman dan panen gandum, pengolahan gandum menjadi tepung, dan penggunaan tepung untuk menjadi roti dapat dipersingkat waktunya dalam suatu urutan rekama video atau film yang mampu menyajikan informasi yang cukup bagi siswa untuk mengetahui asal-ususl dan proses dari penanaman bahan baku tepung hingga menjadi roti.
c.       Ciri Distributive
Ciri distributive dari media memungkinkan suatu objeka atau kejadian ditransformasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah bersar siswa dengan stimulus pengalaman yang relative sama mengenai kejadian itu. Dewasa ini, distribusi media tidak hanya terbatas pada suatu kelas atau beberapa kelas pada sekolah-sekolah di dalam suatu wilayah tertentu tetapi juga media itu misalnya rekaman video, audio, disc computer dapat disebar keseluruh penjuru tempat yang diinginkannya.
Sekali informasi direkam dalam format media apa saja, ia dapat diproduksi seberapa kalipun dan siap digunakan bersamaan diberbagai tempat atau digunakan secara berulang-ulang disemua tempat. Konsistensi informasi yang telah direkam akan terjalin sama atau hamper sama dengan aslinya.

BAB II
FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PENDIDIKAN

Dalam suatu proses belajar mengajar ,dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran . Kedua aspek ini saling berkaitan pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai , meskipun ada berbagai aspek lain yang harus di perhatikan dalam memilih media , antara lain tujuan pengajaran jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan, konteks pembelajaran, termasuk kerakteristik siswa
Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam peroses belajar mengajar dapat membangkit kan ke iginan dan minat yang baru membangkitkan motipasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh pengaruh  pisikologi terhadap siswa
Levie & Lentz mengemukakan empat fungsi media pengajaran khususnya media visual yaitu
a.       Fungsi atensi
b.      Fungsi efektif
c.       Fungsi kognitif dan
d.      Fungsi compensatoris
Fungsi atensi media visual merupakan inti yang menarik yaitu, menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkon sentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai tesks materi pelajaran .
Fungsi efektif media visual dapat dilihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar . gambaratau visual dapat menggugah emosi siswa misalnya imformasi yang menyagkut masalah social atau ras.
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambing visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengigat impormasi atau pesan yang tergantung dalam gambar.
Fungsi kompensatoris media pengajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konstek untuk memahami teks membantu siswa yanglemah dalam membaca untuk mengorganisasikan impormasi dalam teks dan mengingat nya kembali Dengan kata lain , media pengajaran berpungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dangan teks atau disajikan dengan verbal.

BAB III
PENGENALAN BEBERAPA MEDIA

Teknologi yang muncul terakhir adalah tekhnologi mekro–perosesor yang melahirkan pemakaian kommputer dan kegiatan interaktif (Seels & Richey) berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, media pengajaran dapat dikelompokkan empat kelompok yaitu
1.      Media hasil teknologi cetak
2.      Media hasil teknologi audio-pisual
3.      Media hasil tekhnologi berdasarkan komputer dan
4.      Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.
Tekhnologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku danmateri visual statis terutama melalui peroses Pencetakan mekanis atau fotografis.
Ciri-ciri teknologi cetak yaitu
a.    Teks dibaca secara linear, sedangkan visual diamati berdasarkak ruang
b.    Baik teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan reseptif
c.    Teks dan visual ditampilkan statis diam
d.   Pengembangannya sangat tergantung kepada prinsip–prinsip kebahasaan dan persepsi visual
e.    Baik teks maupun visual beroreantasi (berpusat) pada siswa.
f.     Informasi dapat diatur kembali atau ditata ulang oleh pemakai.
Teknologi audio visual cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Ciri-ciri utama teknologi media audio-visual adalah sebagai berikut:
a.       Mereka biasanya bersifat linear
b.      Mereka biasanya menyajikan visual yang dinamis
c.       Mereka digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang atau pembuatnya
d.      Mereka merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak
e.       Mereka dikembangkan menurut psinsip psikologis behaviorisme dan kognitif
f.       Umumnya mereka berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan interaktif murid yang rendah.
Teknologi berbasis komputer merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis micro prosesor. Informasi yang dihasilkan dalam bentuk digital. Beberapa ciri media yang dihasilkan teknologi berbasis computer (perangkat keras/ perangkat lunak) adalah sebagai berikut:
a.       Mereka dapat digunakan secara acak, non sekuensial, atau secara linear;
b.      Mereka dapat digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan keinginan perancang/ pengembang sebagaimana direncanakannya;
c.       Biasanya gagasan-gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, symbol dan grafik;
d.      Prinsip-prinsip ilmu kognitif utnuk mengembangkan media ini;
e.       Pembelajaran dapat berorientasi siswa dan melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi;
Teknologi gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh computer. Beberapa ciri utama teknologi berbasis computer adalah sebagai berikut:
a.       Ia dapat digunakan secara acak, sekuensional, secara linear
b.      Ia dapat digunakan sesuai dengan keinginan siswa, bukan saja dengan cara yang direncanakan dan diinginkan oleh perancangnya.
c.       Gagasan-gagasan sering disajikan secara realitik dalam konteks pengalaman siswa, menurut apa relevan dengan siswa, dan dibawah pengendalian siswa.
d.      Prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme diterapkan dalam pengembangan dan penggunaan pelajaran.
e.       Pembelajaran ditata dan terpusat pada lingkup kognitif sehingga dikuasai jika pelajaran itu digunakan;
f.       Bahan-bahan pelajaran melibatkan banyak interaktivitas siswa;
g.      Bahan-bahan pelajaran memadukan kata dan visual dari berbagai sumber.
Pengelompokan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi oleh Seels & Glasgow (1990 : 181-183) dibagi ke dalam dua kategori luas, yaitu: pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir.
1.      Pilihan Media Tradisional
a.       Visual diam yang diproyeksikan
Ø  proyeksi opaque (tak-tembus pandang)
Ø  proyeksi overhead
Ø  slides
Ø  filmstrips
b.      Visual yang tak diproyeksikan
Ø  gambar, poster
Ø  foto
Ø  charts, grafik, diagram
Ø  pameran, papan info, papan-bulu
c.       Audio
Ø  rekaman piringan
Ø  pita -kaset, reel, cartridge
d.      Penyajian Multimedia
Ø  slide plus suara (tape)
Ø  multi-image
e.       Visual dinamis yang; diproyeksikan - film
Ø  televisi
Ø  video
f.       Cetak
Ø  buku teks
Ø  modal, teks terprogram
Ø  workbook
Ø  majalah ilmiah, berkala
Ø  lembaran lepas (hand-out)
g.      Permainan
Ø  teka-teki
Ø  simulasi
Ø  permainan papan
h.      Realia
Ø  model
Ø  specimen (contoh)
Ø  manipulatif (pets, boneka)
2.      Pilihan Media Teknologi Mutakhir
a.    Media berbasis telekomunikasi
Ø  Teleconference
Ø  Kuliah jarak jauh
b.    Media berbasis mikroprosesor -Computer-assisted instruction
Ø  -Permainan komputer
Ø  Sistem tutor intelejen
Ø  Interaktif
Ø  Hypermedia
Ø  Compact (video) disc
Pengertian dari media mutakhir secara ringkas disajikan berikut ini.
Teleconference adalah suatu teknik komunikasi di mana kelompok-kelompok yang berada di lokasi geografis berbeda menggunakan mikrofon clan amplifair khusus yang dihubungkan satu dengan lainnya sehingga setiap orang dapat berpartisipasi dengan aktif dalam suatu pertemuan besar dan diskusi.
Kuliah jarak jauh (telelecture) adalah suatu teknik pengajaran di mana seseorang ahli dalam suatu bidang ilmu tertentu menghadapi sekelompok pendengar yang mendengarkan melalui amplifair telefon. pendengar dapat bertanya kepada pembicara dan kelompok itu dapat mendengarkan jawaban/tanggapan pembicara.
Computer-assisted instruction adalah suatu sistem penyampaian materi pelajaran yang berbasis mikroprosesor yang pelajarannya dirancang dan diprogram ke dalam sistem tersebut.
Hypertext adalah suatu tulisan yang tak-berurutan non-sekuensial. Dengan suatu sistem authoring (menulis), pengarang mampu menghubungkan informasi dari bagian manapun dalam paket pelajaran itu, menciptakan jalur-jalur melalui satu korpus materi yang berkaitan, memberi keterangan teks yang tersedia, dan membuat catatan yang menghubungkan teks-teks itu.
Hypermedia adalah perluasan dari hypertext yang menggolongkan media lain ke dalam teks. Dengan sistem hypermedia, pengarang dapat membuat suatu korpus materi yang kait-mengkait yang meliputi teks, grafik, grafik/ gambar animasi, bunyi, video, music, dan lain-lain.
Sistem tutor intelejen adalah pengaiaran dengan bantuan komputer yang memiliki kemampuan untuk berdialog dengan siswa dan melalui dialog itu siswa dapat mengarahkan jalannya pelajaran.

BAB IV
PEMILIHAN MEDIA

Pengajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. media yang akan digunakan dalam proses pengajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. meskipun demikian, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan antara lain;
(a)    ia merasa sudah akrab dangan media itu –papan tulis atau peroyektor transparansi.
(b)   ia merasa bahwa media yang di pilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik dari pada dirinya  sendiri- misalnya diakram pada flip chart ,atau
(c)    media yang dipilih nya dapat menarik minat dan perhatian siswa , serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur dan terorganisasi .
Faktor faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media sbb
1.      Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor faktor dana pasilitas danperalatan yang telah tersedia ,waktu yang tersedia (waktu mengajar dan pengembangan matri dan media ), sumber sumber yang tersedia (manusia dan material )
2.      Persyaratan isi, tugas dan jenis pembelajaran. Isi pelajaran beragam dari isi tugas yang ingin dilakukan siswa, misalnya penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi.
3.      Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal seperti membaca, mengetik, dan menggunakan computer dan karakteristik siswa lainnya.
4.      Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan preferensi lembaga, guru, dan pelajar, dan keefektifan biaya.
5.      Pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula:
a.         kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus-stimulus yang tepat visual dan atau audio.
b.         kemampuan mengakomodasikan respon siswa yang tepat tertulis, audio, atau kegiatan fisik.
c.         kemampuan mengakomodasikan umpan balik.
d.        pemilihan media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan dan test (sebaiknya latihan dan test menggunakan media yang sama).

6.      Media sekunder harus mendapat perhatian karena, pelajaran yang berhasil menggunakan media yang beragam.
Dari segi teori belajar, sebagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapatkan pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:
1.      Motivasi
2.      Perbedaan individual
3.      Tujuan pembelajaran
4.      Organisasi isi
5.      Persiapan sebelum belajar
6.      Emosi
7.      Partisipasi
8.      Umpan balik
9.      Penguatan (reinforcement)
10.  Latihan dan pengulangan
11.  Penerapan

BAB V
PENGGUNAAN MEDIA

Berikut ini akan diuraikan prinsip-prinsip penggunaan dan pengembangan media pengajaran. Media pengajaran yang akan dibahas tersebut akan mengikuti taksonomi leshin, dan kawan-kawan. Yaitu media berbasis media (guru, instruktur, tutor, main peran, kegiatan kelompok, dan lain-lain.
A.    Media yang Berbasis Manusia
Media ini bermanfaat khususnya bila tujaun kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa. Instruktur manusia –sebagai media –secara intuitif dapat merasakan kebutuhan siswanya dan memberinya pengalaman belajar yang akan membantu mencapai tujuan pembelajaran.
Langkah-langkah rangkaian jenis pengajaran adalah sebagai berikut:
1.      Merumuskan masalah yang relevan
2.      Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang terkait untuk memecahkan masalah.
3.      Ajarkan mengapa pengetahuan itu penting dan bagaimana pengetahuan itu dapat diterapkan untuk pemecahan masalah.
4.      Tuntun eksplorasi siswa.
5.      Kembangkan masalah dalam konteks yang beragam dengan tahapan tingkat kerumitan.
6.      Nilai pengetahuan siswa dengan memberikan masalah baru untuk dipecahkan.

B.     Media Berbasis Cetakan
Materi pengajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas. Teks berbasis cetakan menurut enam elemen yang perlu diperhatikan pada saat merancang yaitu konsistensi, format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf dan penggunaan spasi kosong.

C.     Media Berbasis Visual
Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Ada beberapa prinsip umum tang perlu diketahui untuk pengunaan efektif media berbasis visual sebagai berikut
a.       Usahakan visual itu sederhana mungkin dengan mengunakan gambar, garis , karton bagan dan diagram .
b.      Visual digunakan untuk menekankan impormasi sasaran (yang dapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik
c.       Gunakan gerafik untuk mengambarkan iktisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi
d.      Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat.
e.       Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep konsep ,misal nya dengan menampilkan konsep yang di visualkan itu secara berdampingan
f.       Hindari visual yangtak berimbang
g.      Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam samua visual
h.      visual yang diperoyeksikan harus dapat dan mudah dibaca
i.        Visual khusus nya diakram amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks
j.        Visual yang dimaksutkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif .
k.      unsur unsur pesan dalam visual itu harus di tonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsure unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan imformasi
l.        caption (keterangan gambar ) harus disiapkan .
m.    warna harus di gunakan secara realistik
n.      warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen komponen.

D.    Media Berbasis Audio Visual
Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Kontinuitas program dapat dikembangkan melalui pengunaan ceritera atau permasalahan yang memerlukan pemecahan .
Berikut ini adalah beberapa petunjuk peraktis untuk menulis naskah narasi
a.       tulis singkat , padat, dan sederhana.
b.      Tulis seperti menulis judul berita , pendek dan tepat berirama , dan mudah di ingat .
c.       Tulisan tidak harus berupa kalimat yang lengkap
d.      Hindari istilah teksnis kecuali jika istilah itu diberi batasan atau digambarkan
e.       Tulislah dalam kalimat aktif dsb
E.     Media berbasis komputer
Dewasa ini computer memiliki fungsi yag berbeda beda dalam bidang pendidikan dan latihan
Pengaruh computer sebagai media pembelajaran secara umum sebagai berikut;
1.      merencanakan, mengatur dan mengorganisasikan ddan menjatwalkan pengajaran ;
2.      mengevaluasi siswa (tes)
3.      mengumpulkan data mengenai siswa
4.      melakukan analisis statistik mengenai data pembelajaran .
5.      membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perseorangan )

F.      Pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar
Perpustakaan merupakan pusat sarana akademis .perpustakaan menyediakan bahan bahan pustaka berupa barang cetakan seperti buku ,majalah/jurnal ilmiah peta surat kabar , karya karya tulis berupa monokrafyang belum diterbitkan.
Pemanfaatan perpustakaan sebagai sumberbelajar secara efektip memerlukan keterampilan sbb.
1.      Keterampilan mengumpulkan imformasi yang meliputi keterampilan .
2.      Keterampilan mengambil intisari dan mengorganisasi kan impormasi
3.      Keterampilan menganalis , menginterperestasikan dan mengevaluasi impormasi .
4.      Keterampilan mengunakan impormasi .

BAB VI
PENGEMBANGAN MEDIA

Salah, satu krteria yang sebaiknya digunakan dalam pemilihan media adalah dukungan terhadap isi bahan pelajaran dan kemudahan memperolehnya . Apabila media yang sesuai belum tersedia maka guru berupaya untuk mengembangkan aya sendiri
A.    Media Berbasis Visual
Keberhasilan penggunaan media berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektivitas bahan bahan visual dan gerafik itu.
Dalam peroses penataan itu harus diperhatikan perinsip perinsip desain tertentu, antara lain prinsip kesederhanaan, keterpaduan penekanan dan keseimbangan.
Unsur unsur visual yang selanjutnya perlu dipertimbangkan adalah bentuk, garis ruang tekstur dan warna
·         Kesederhanaan
·         Keterpaduan
·         Penekanan
·         Keseimbangan
a.      chart dan bagan
Chart sering terdapat dalam buku buku pelajaran dan materi pelajaran lainya Chart harus mempunyai tujuan pengajaran yang ditentukan dengan jelas.
Macam macam chart dan, bagan
1.    bagan organisasi menunjukkan hubungan atau rantai perintah /komando dalam suatu organisasi seperti perusahaan, organisasi social lembaga pemerintahan .
2.    chart klasifikasi mirip dengan bagan organisasi tetapi umumnya digunakan untuk nmenjelaskan atau mengelompokkan obyek, peristiwa atau sepsis
3.    garis (alur) waktu mengambarkan hubungan kronologis antara peristiwa –pristiwa iti,
4.    Bagan alir (flowchart)adalah bagan peruses yang menunjukkan suatui urutan , prosedur ,atau aliran proses.
5.    tabel berisikan imformasi angka-angka atau data.


b.      Grafik
Grafik menampilkan sajian visual data angka angka. Grafik yang digunakan ditentukan oleh tingkat kerumitan imformasi yang ingin di sajikan dan keterampilan siswa menginterprestasikan grafik.
1.             Grafik batang
          Grafik batang adalah grafik yang sederhana, mudah dibuat,dan mudah dibaca. Oleh karena itu grafik batang dapat digunakan pada anak-anak SD dan SLTP
2.             Grafik lingkaran
          Grafik lingkaran relative mudah diinterpretasikan. Lingkaran dibagi ke dalam segmen-segmen yang masing-masing mewakili satu bagian persentase dari keseluruhan data.
3.             Grafik gambar
\grafik gambar merupakan bentuk alternatif dari grafik batang dimana serangkaian gambar sederhana digunakan untuk melukiskan nilai. Seara visual menarik bagi siswa
4.             Grafik Garis
          Merupakan grafik paling yang paling tepat dan paling sering digunakan dalam melukiskan kecenderungan-kecenderungan atau membandingkan dan menghubungkan dua kelompok data.
Media Berbasis Audio Visual
Media audio dan audio visual merupakan bentuk media pengajaran yang murah dan terjangkau. Audio dapat menampilkan pesan yang memotivasi. Kaset tepe audio dapat pula dimanfaatkan untuk pelajaran dan tugas dirumah. Ini dimugnkinkan karena hamper semua siswa memiliki mesin radio tape.
Disamping menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak, materi audio dapat digunakan untuk:
a.       Mengembangkan keterampilan mendengar dan mengevaluasi apa yang telah didengar;
b.      Mengatur dan mempersiapkan diskusi atau debat dengan mengungkapkan pendapat-pendapat para ahli yang berada jauh dari lokasi;
c.       Menjadikan model yang akan ditiru oleh siswa;
d.      Menyiapkan variasi yang menarik dan perubahan-perubahan tingkat kecepatan belajar mengenai suatu pokok bahasan atau sesuatu masalah.

1.      Radio dan Tape
Penggunaan media audio sangat mendukung sisitem pembelajaran tuntas (mastery learning). Siswa yang belajarnya lamban dapat memutar kembali dan mengulangi bagian-bagian yang belum dikuasainya. Dilain pihak, siswa yang dapat belajar dengan cepat bisa maju terus sesuai dengan tingkat kecepatan belajarnya.
Meskkipun tidak ada prosedur baku tentang penggunaan bahan-bahan audio, sebaiknya materi audio itu disajikan dengan mengikuti langkah-langkah yang biasa diikuti ketika menggunakan materi pelajaran dala bentuk lain. Langkah-langkah itu adalah sebagai berikut:
a.       Mempersiapkan diri
b.      Membangkitkan kesiapan siswa
c.       Mendengarkan materi audio
d.      Diskusi (membahas) materi program audio
e.       Menindak lanjuti program
2.      Kombinasi Slide dan Suara
Media pengajaran gabungan slide dan tape dapat digunakan pada berbagai lokasi dan untuk berbagai tujuan pengajaran yang melibatkan gambar-gambar guna menginformasikan atau mendorong lahirnya respons emosional.
Keefektifan penyajian pelajaran melalui multimedia seperti ini memerlukan perhatian khusus kepada factor-faktor seperti berikut ini.
a.       Sajikan konsep-konsep dan gagasan-gagasan satu persatu.
b.      Gunakan bidang penayangan dilayar untuk tujuan-tujuan tertentu untuk menyampaikan pesan materi pelajaran.
c.       Susunlah gambar-gambar itu dan aturlah hubungan antara unsure-unsur itu.
d.      Pilihlah slide yang berkualitas baik menurut teknis dan estetis.
e.       Pilihlah music yang dapat menyentuh perasaan untuk penyajian,
f.       Gunakan efek suara asli untuk memberikan bayangan realism dalam penyajian.
g.      Jangan terlalu banyak narasi; biarkanlah gambar-gambar yang menyajikan informasi atau pesan-pesan.
h.      Dalam beberapa hal, penggunaan lebih dari satu suara dalam narasi akan membuat penyajian lebih dinamis.
B.     Media Berbasis Komputer dan Interaktife Video
Meskipun defenisi mukti media masih belum jelas, secara sederhana dapat diartikan sebagai lebih dari satu media. Ia bisa berupa kombinasi antara satu teks, grafik, animasi, suara dan video. Defenisi sederhana ini telah mencakup salah satu kombinasi yang telah disebutkan pada bagian terdahulu,misalnya kombinasi slide dan tape audio. Namun pada media ditekankan kepada kendali computer sebagai  sebagai penggerak keseluruhan bagian media.dengan demikian arti multimedia yang dikenal dewasa ini adalah berbagai macam kombinasi grafik, teks, suara, video, dan animasi.
      Konsep penggabungan ini dengan sendirinya memerlukan beberapa jenis peralatan perangkat kelas yang masing-masing tetap menjalankan fungsi utamanya sebagaimana biasanya, dan computer merupakan pengendali seluruh peralatan itu. Jenis peralatan itu adalah computer, Video kamera, video cassette Recorder, overhead projector, multivision, CD player,Compact disk.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, penggunaan computer sebagai media pengajaran dikenal dengan nama pengajaran dengan bantuan computer (computer assisted instruction - CAI, atau computer-assited learning - CAL). CAI bisa saja berbentuk tutorial, drills and practice, silumasi, dan permainan.
1.      Tutorial
2.      Drills and practice
3.      Silumasi
4.      Permainan instruksional
5.      Faktor pendukung keberhasilan CAI
a.       Belajar harus menyenangkan
b.      Interaktivitas
c.       Kesempatan berlatih harus memotivasi, cocok, dan tersedia feedback
d.      Menuntun dan melatih siswa dengan lingkungan informal.
Multimedia berbasis computer ini sangat menjanjikan untuk penggunaannya dalam pendidikan. Meskipun saat ini penggunaan media ini masih sangat mahal, dalam bebrpa tahun mendatang biaya ini akan semakin murah dan terjangkau sehingga dapat digunakan secara meluas di berbagai jenjang sekolah.



BAB VII
EVALUASI MEDIA PENGAJARAN

Evaluasi adalah merupakan bagian integral dari suatu peruses intruksional
Tujuan evaluasi pengajaran yaitu:
a.       Menentukan apakah media pengajaran itu efektif.
b.      Menentukan apakah media itu dapat diperbaiki atau di tingkatkan
c.       Menetapkan apkah media itu cost-efektive dilihat dari hasil belajar siswa
d.      Memilih media pengajaran yang sesuai untuk dipergunakan dalam peruses belajar didalam kelas
e.       Menentukan apakah isi pelajaran sudah tepat disajikan dengan media itu
f.       Menilai kemampuan guru mengunakan media pengajaran
g.      Mengetahui apakah media pengajaran itu benar –benar member sumbangan terhadap hasil belajar seperti yang di nyatakan
h.      Mengetahui sikap siswa terhadap media pengajaran
Evaluasi bukanlah akhir dari siklus pengajaran, tetapi ia merupakan awal dari suatu siklus pengajaran berikutnya. Walker & Hess memberikan keriteria dalam mereview perankat lunak media pengajaran yang berdasarkan kualitas
1.      Kualitas isi dan tujuan
a.       Ketetapan
b.      Kepentingan
c.       Kelengkapan
d.      Keseimbangan
e.       Minat/perhatian
f.       Keadilan
g.      Kesesuaian dengan situasi siswa
2.      Kualitas intruksional
a.       Memberikan kesempatan belajar
b.      Memberikan bantuan untuk belajar
c.       Kualitas menotivasi
d.      Fleksibilitas instruksionalnya
e.       Hubungan dengan program pengajaran lainya
f.       Kualitas sosial intraksi instruksionalnya
g.      Kualitas tes dan penilaiannya
h.      Dapat memberi dampak bagi siswa
i.        Dapat membawa dampak dari gurudan pengajaranya
3.      Kualitas teknis
a.       Keterbacaan
b.      Mudah digunakan
c.       Kualitas tampilan/tayangan
d.      Kualitas penanganan jawapan
e.       Kualitas pengelolaan programnya
f.       Kualitas pendokumentasiannya
Untuk tujuan praktis, berikut disajikan beberapa model daftar cek untuk mereview dan mengevaluasi program dan media pengajaran dengan format yang sering digunakan oleh para guru di kelas, antara lain media gambar diam media grafis, media visual yang diperoyeksikan, media film dan televisi, dan computer.