JENIS-JENIS BELAJAR
Menurut ADE BLOCK : Belajar ditinjau dari fungsi psikis terbagi atas :
1.Belajar Dinamik : yaitu belajar menghendaki sesuatu secara wajar.Contoh : siswa yang akan ujian.namun disisi lain ia ingin menonton. Dalam masalah ini, maka siswa yang belajar secara dinamik ia dapat berkehendak secara dewasa yaitu :
Berfikir secara mendalam
Bersikap tekun
Rela menunda sesuatu bila perlu
Sabar dan penuh pertimbangan
Berani dan mampu untuk memprioritaskan
2.Belajar Afektif : yaitu belajar menghayati nilai-nilai suatu objek melalui alam perasaan.contohnya : seseorang merasa lapar.Lalu ia melihat makanan. Dalaam masalah ini, maka orang yang belajar secara afektif, ia akan mempertimbangkan nilai-nilai yanag terkandung dari makanan tersebut , misalnya mempertimbangkan makana itu bergizi atau tidak, dll.
3.Belajar kognitif : yaitu belajar memperoleh dan mempergunakan pengetahuan dari pengamatan dan pemahaman / insight .
Stimulus Sensori Otak Pengamatan Kesadaran Kesan
Maka semakin banyak indra digunakan dalam prose belajar, ia akan semakin banyak tau dan akan semakin berkesan dan tersimpan lama dalam ingatan.
Adapun Fase –fase belajar kognitif yaitu :
1. Fiksasi (pengolahan informasi)
2. Retensi ( Proses menyimpan )
3. Evokasi ( Proses reproduksi kembali )
Aktivitas belajar kognitif : mengingat dan berfikir
Macam-macam berfikir :
1.Berfikir berperaga : berfikir dengan menggunakan tanggapan/ kesan yang tinggal
2.Berfikir rasional : berfikir dengan mencari dan menggunakan pemahaman melalui penguasaan konsep dan relasi konsep
4.Belajar Sense Motorik : yaitu belajar menghadapi dan menangani objek secara fisik.contoh : belajar mengetik
JENIS BELAJAR DITINJAU DARI SEGI MATERI YANG DIPELAJARI
1.Belajar toritis : yaitu menempatkan semua data dan fakta dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapt dipahami untuk memecahkan masalah.
2.Belajar teknis : yaitu belajar dengan mengembangkan ketrampilan
3.belajar social : yaitu belajar mengekang dorongan dan kecenderungan spontan dari kehidupan bersama dan memberikan kelonggaran pada orang lain untuk meemnuhi kebutuhan
4.Belajar estetis : yaitu belajar membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan di berbagai bidang
KONSEP BELAJAR BEHAVIOURISTIK
Konsep Belajar Behaviourisme yaitu belajar merupakan perubahan tingkah laku. Ada beberapa tokoh behaviouristik, antaralain :
1.Thorndike ( 1874 – 1949)
Menurut teori Thorndike ( 1874 – 1949), Dalam teori KONEKSIONISME , belajar adalah proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering pula disebut “ trial and error lerning”. Maka individu yang dikatakan belajar ialah yang melakukan kegiatan melalui proses trial and error dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasari teorinya ini dari hasil tesnya terhadap tingkah laku kucing, dan orang utan. Kucing dikurung dan diluar disediakan makanan. Maka yang menjadi konsep belajar ini adalah belajar merupakan problem solving , dan dalam hal ini, kucing berusaha untuk mengambil makanan. Ada 3 macam hokum yang dihasilkan dari percobaan THORNDIKE, yaitu :
a. Law of Readness / kesiapan Kucing dalam kondisi lapar
b. Law of exercise Pengulangan eksperiment
c. Law of effect Jika hasil usaha memuaskan, maka akan ada pengulangan
2.Pavlov
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan.
Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas.
3.Skiner
Dalam teorinya “ Operant Conditioning “, skinner berpendapat bahwa dalam belajar ada 2 proses:
a.Respondent : respon yang terjadi karena stimuli khusus
b.Operant : respon yang terjadi karena situasi random
Dalam percobaannya terhadap tikus dalam sangkar, digunakan “diskriminatif stimuli “berupa tombol, lampu dan pemindah makanan. Dan disertai “reinforcement stimuli” yaitu berupa makanan.
Konsep belajar behaviouristik menurut Skinner ialah hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Menurutnya, dalam belajar, stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memberi pengaruh pada munculnya perilaku. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara baik, guru harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut.
Teori Skinner menekankan peneguhan positif dan peneguhan negatif bertujuan untuk menambahkan berulangnya suatu tingkahlaku dan bukan untuk menghentikannya. Peneguhan positif ialah untuk menentukan tingkah laku positif dengan respon yang positif. Contohnya, pujian terhadap murid-murid yang memberikan jawaban yang betul. Peneguhan negatif pula diberi untuk memberi kesan yang tidak menyenangkan bagi individu.
4.Watson
Menurut Watson , belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
5.Er.Gutrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama . Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi.
TIPE BELAJAR BEHAVIOURISTIK
1.Signal Learning ( Pavlov) : condiitionisme
2.Stimulus-Respon ( Skinner ) : Operant Conditioning
3. Motor – change : kombinasi 2 jenis ketrampilan atau lebih
4.Verbal change
5.Multiple discrimination
6.Concept Learning : belajar mengelompokkan sekelompok fenomena yg memiliki ciri2 yg sama
7.Rule Learning : kemampuan menghubungkan 2 konsep / lebih ( ex: bola dan garis)
8. Problem solving :
KONSEP BELAJAR KOGNITIFISME
Konsep belajar konigtifisme berawal dari ketidak puasan pada konsep belajar behaviouristik, karena behaviourisme hanya pengamatan pada binatang, yang hanya terlihat proses yang nampak saja. Ada stimulus, maka muncul respon. Dan menurut kognitifisme, belajar adalah proses mental ( tidak Nampak ). Misalnya : Adanya motivasi kesadaran keyakinan
1.ILMU JIWA ( GESTALT )
Aliran gestalt meyakini bahwa keseluruhan lebih bermakna daripada bagian2. Dalam belajar, yang pertama terlibat adalah pengamatan.Belajar didasarkan atas dasar pemahaman, artinya yang paling penting dalam proses pembelajaran adalah dimengertinya apa yang dipelajari, yaitu insight (pemahaman).Proses belajar melalui insight ini memiliki ciri2:
a. Insight tergantung pada kemampuan dasar (IQ)
b. Insight tergantung pada pengalaman masa lalu yang relevan
c. Insight tergantung pada pengaturan situasi yang dihadapi
d. Insight diawali dengan metode mencari dan mencoba
e. Solusi problem dengan menggunakan insight dapat diulang dengan mudah dan akan berlakau secara langsung
f. Jika insight telah terbentuk, maka problem pada situasi lain akan dapat dipecahkan
2.KOGNITIF FIELD ( LEWIN )
Tingkah laku merupakan hasil interaksi2 dari kekuatan2, baik secara intern maupun ekstern. Berdasarkan itu, maka belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan struktur kognitif. Dan perubahan struktur kognitif itu ialah hasil perubahan struktur medan kognisi (intern) dan kebutuhan(ekstern).
Ada 2 proses konsep kognitifisme,yaitu:
a. Organisasi Informasi
b. Adaptasi
Model Pengelolaan Informasi
Untuk mengelola info , yang perlu :
Umum : pemecahan masalah
Khusus : tentang sesusatu kumpul info
Pengetahuan Prosedural : bagaimana melakukan Mengumpulkan info hadirkan info
Kondisional : kapan & mengapa simpan info
Konvesional gali info
KONSEP BELAJAR KONSTRUKTIVISME
1.PIAGET
Menurut Piaget , Belajar ialah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit yang kemudian hasilnya diperluas dengan konteks yang terbatas (bidang –bidang tertentu). Bila ada informasi yang masuk, baik yang dilihat atau yang didengar, maka sensori akan membawa pada otak untuk pengorganisasian informasi. Dan menurutnya, ada dua proses : pertama, pengorganisasian. Kedua, adaptasi.
Konsep dasar belajar piaget :
a. Schemata : struktur bidang pengetahuan dalam otak
b. Asimilasi : usaha mengadaptasi informasi yang baru terhadap informasi yang lama
c. Akomodasi : pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu
d. Keseimbangan : masuknya info pada schemata, akan menggoyahkan kedudukan asimilasi dan selanjutnya maka akomodasi akan menyeimbangkan
TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN PIAGET
a. Tahap sensorimotorik (0-2 tahun)
b. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
c. Tahap operasi konkret (7-11 tahun)
d. Tahap operasi formal (mulai 11 atau 12 tahun
2.VYGOSKI
Vygosky berpendapat bahwa belajar merupakan proses interaksi social. Menurutnya, dalam belajar melibatkan 2 elemen penting, yaitu :
a.Fisik , ex: alat indra: belajar adalah proses biologi sebagai proses dasar
interaksi antara informasi dan alat indra akan melahirkan pengetahuan
b.psikis dan social : belajar adalah proses psikososial sebagai proses yang tinggi dan esensi
pengetahuan berkembang, interaksi informasi dan lingkungan
Vygoski menekankan bahwa belajar adalah perkembangan bahasa.Karna bahasa adalah alat untuk berinteraksi sosisal yang akan melahirkan pengetahuan. Adapun tahapan perkembangannya yaitu :
a. Pre intelektual speak : ex: menangis, mengoceh, menggerakkan anggota badan
b. Naif psikologi : anak mengembangkan bahasa dengan member label pada benda
c. Egosentri speak : anak berbicara sendiri tanpa peduli oranglain ( usia 3 tahun )
d. Inner speak : ketika berfikir, anak bicara sendiri (5 th )
STRATEGY KONSEP BELAJAR KONSTRUKTIFISME
1. Strategi Top-down processing : pembelajaran secara deduktif
2. Strategi kooperatif learning : pembelajaran secara kelompok
3. Strategi generative learning : pembelajaran secara generative ( membuat kesimpulan )
MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIFISME
1. Discover learning : siswa didorong untuk belajar dengan cara menemukan sesuatu
2. Receiving learning : dalm belajar, siswa menerima informasi dari guru
Adapun tahapan pembelajarannya :
a. Advance organizer : proses apersepsi/ memanggil pengetahuan yang lama
b. Menyampaikan tugas2
c. Penguatan organisasi kognitif
3. Assited learning / scholholding : belajar dengan bantuan orang lain
4. Active learning
5. Akselerasi learning / SAVI : Sumatif : learning by moving and doing
Auditory : learning by talking and hearing
Visual : learning by observing and picturing
Intelektual : learning by problem solving and reflecting
6. conceptual learning
7.Quantum learning : pembelajaran mengasikkan
8.Kontekstual learning : ada beberapa komponen , antara lain:
a. Konstruktifisme d.masyarakat belajar g . penilaian
b. Inquiry e.permodelan
c. Bertanya f.refleksi
TRANSFER BELAJAR
Dasar pemikirannya : setiap belajar akan mendapatkan keuntungan ( pengetahuan )dan keuntungan
ini akan memudahkan pembelajaran selanjutnya. Ada 3 Factor yang mempengaruhi transfer belajar :
a. Pendidik : meliputi metode mengajar, penguasaan materi dan alat peraga
b. Anak didik : meliputi IQ, sikap dan minat belajar
c. Mata pelajaran ( materi )
TEORI TRANSFER
1. Disiplin formal : daya jiwa manusia perlu dilatih
2. Adanya susunan yang identik : bahan pelajaran mengandung susunan belajar yang identik
3. Generalisasi : anak didik dapat menyimpulkan
4. Transposisi : pemindahan pengetahuan
Selasa, 03 Mei 2011
KENISCAYAAN TASAWUF BAGI MANUSIA
Konsep tentang Manusia
A.Pengertian Manusia
Menurut islam, konsep manusia ialah sebagai mana yang dijelaskan dalam Alqur’an, yakni termuat dalam QS.Sajdah 7-9, al Hajj 5, al An’am 2, al Mukminun 12-16, dan at Tin 4-6. Adapun istilah yang digunakan sangat variatif, antara lain : Insan, al Nas dan basyr. Kesemua istilah tersebut menunjuk bahwa manusia memiliki potensi jasmani dan rohani, yakni potensi untuk melihat, berfikir, dan merasa .
B.Tujuan Penciptaan Manusia
Bila dilihat, tujuan penciptaan manusia yang berlandaskan dari ayat-ayat Al Qur’an antaralain yaitu :
a. Menjadikan manusia sebagai Muabbid ( QS.Adzariyat 56 )
b. Menjadikan manusia sebagai Khalifah fi al ardh ( QS.Albaqarah 30 )
c. Menjadikan manusia sebagai Imarah fi al ardh ( QS.Anbiya 105 )
C.Esensi Manusia
Esensi manusia terletak pada ruhaninya bukan pada jasmani, karena manusia termulia adalah manusia yang jiwanya selalu dekat dengan Allah yang menciptakannya. Sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa” (al-Hujurat : 13). Menurut H.A Salim, konsep taqwa ini ialah sikap metal seseorang yang selalu ingat dan waspada dalam memelihara dirinya dari noda dan dosa. Sikap taqwa selalu pantang berbuat salah melakukan perbuatan baik dan benar, dan melakukan kejahatan terhadap diri sendiri,oranglain dan lingkungannya .
Menurut Hasan Lnggulung, taqwa merupakan kesimpulan semua nilai yang terdapat dalam Alquran. Adapun nilai-nilai alquran menurut beliau dinyatakan sebagai akhlak. Oleh karena itu Hasan Langgulung membagi nilai taqwa dalam 5 kategori besar, antaralain:
a. Nilai perseorangan
b. Nilai kekeluargaan
c. Nilai social
d. Nilai kenegaraan
e. Nilai Keagamaan
Lebih lanjut, Hasan Langgulung memaknai konsep taqwa dalam memelihara meliputi 4 ruang lingkup , antara lain :
a. Hubungan manusia dengan Allah, meliputi :
1. Iman pada Allah 3.Syukur nikmat pada Allah
2. Ibadah kepada Allah 4.Taubat
b. Hubungan manusia dengan diri sendiri, meliputi :
1. Sabar
2. Pemaaf
3. Adil
4. Ikhlas
5. Amanah
6. Mawas diri
c. Hubungan manusia dengan sesama manusia, antara lain meliputi :
1. Tolong menolong
2. Menepati janji
3. Lapang dada
4. Menegakkan keadilan
5. Memaafkan kesalahan orang lain
d. Hubungan manusia dengan lingkungan hidup, antara lain meliputi :
1. Pemeliharaan kebersihan lingkungan
2. Menyayangi hewan dan tumbuhan
3. Mencegah perusakan
4. Pelestarian lingkungan
D.Eksistensi Manusia
Kehidupan yang Allah ciptakan tidak lebih sebenarnya untuk menguji siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang paling banyak dan paling baik amalannya. Beramal adalah inti dari eksistensi (keberadaan) manusia di dunia, karena tanpa amal otomatis manusia akan kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Sebagaimana di awal surah Al-Mulk ayat ke-2 Allah berfirman :
اَلَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَّهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
2.Konsep tentang Tasawuf
A.Pengertian Tasawuf
Secara etimologi, tasawuf berasal dari kata shuf, shifa dan shufah. Kata shuf berarti bulu domba, sebagai lambang bagi kehidupan sederhana pada masanya. Sedangkan kata shifa, artinya suci bersih. Kata shufa berarti golongan sahabat Nabi yang mensucikan diri dari suatu tempat terpencil di samping masjid Nabi SAW.
Selain makna diatas, tasawuf itu sendiri memberi makna bahwa ia adalah sikap mental yang senantiasa menjaga dan memelihara diri sedemikian rupa agar selalu berada dalam kesucian diri. Dan ini sejalan dengan pengertian menurut halajj bahwa tasawuf ialah salah satu kekuatan jiwa yang kukuh untuk tetap teguh mempertahankan kebaikan semata mata demi memelihara kesucian hati manusia. Dan ini sejalan pula menurut Junaid, tasawuf itu adalah ekspresi dari budi pekerti dan perangai yang terpuji.
Dari beragam makna tasawuf yang dikemukakan diatas, jadi tasawuf itu mengindikasikan perilaku tasawuf yang dilakukan oleh para pelaku tasawuf itu sendiri,sehingga apa yang dirasakan oleh seorang sufi akan berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa memaknai tasawuf itu tetap sama esensinya, yakni mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana
B.Tujuan Tasawuf
Tujuan utama tasawuf adalah pengutuhan manusia dengan seluruh kedalaman dan keluaran keberadaannya dan seluruh keluasan yang tercakup dalam pribadi manusia yang disebut manusia sempurna (insan kamil).
Tujuan tasawuf adalah mencapai kesadaran murni dan menyeluruh. Manusia yang terdiri dari tubuh, pikiran dan jiwa masing-masing perlu diutuhkan kembali
sesuai dengan tingkatannya sendiri. Tasawuf juga berusaha mengutuhkan
berbagai ilmu yang berkembang ke dalam perspektif dengan tepat. Peranan
jalan kerohanian (thariqat) dalam pengukuhan manusia adalah sesuatu yang
hakiki, karena hanya melalui kehadiran Tuhan dan barakah yang terkandung di
dalamnya yang telah ditunjukkan ke dalam Al Quran semua unsur yang tercerai
berai dalam diri manusia dapat dipadukan kembali.
Selain itu, ajaran tasawuf juga bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Sehingga orang-orang merasa di hadiratnya. Caranya adalah dengan kontemplasi, melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat
sementara dan selalu berubah .
C. Esensi Tasawuf
Tasawuf sebagai segi batin agama — sementara segi lahirnya disebut syari’ah — adalah bidang ilmu keislaman yang bisa dibagi dalam tiga bagian: tasawuf akhlaqi, tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaqi ialah ajaran akhlak dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Tasawuf akhlaqi meliputi tahalli (penyucian diri dari sifat-sifat tercela, menghiasi dan membiasakan diri dengan sikap terpuji) dan tajalli, yaitu tersingkapnya Nur Ilahi .
Tasawuf amali ialah tuntunan praktis cara mendekatkan diri kepada Allah, yang identik dengan tarekat. Mereka yang masuk tarekat akan memperoleh bimbingan praktik atau amaliah bertasawuf. Sementara tasawuf falsafi ialah kajian secara mendalam dengan tinjauan filosofis dari segala aspek. Dalam tasawuf falsafi dipadukan visi intuitif tasawuf dan visi rasional filsafat.
Ajaran ketiga jenis tasawuf itu bermuara pada penghayatan terhadap ibadah murni (mahdhah) untuk mewujudkan al-akhlaq al-karimah (budi pekerti luhur), baik secara individual maupun sosial. Dengan demikian, tasawuf menjanjikan penyelamatan di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialistis, hedonis, pragmatis, sekular, serta kehidupan yang semakin sulit secara ekonomis maupun psikologis.
D.Tasawuf Sebagai Suatu Keniscayaan
Sejarah tumbuhnya tasawuf sama panjangnya dengan sejarah lahirnya manusia itu sendiri. Hal ini dapat dipahami dari keberadaan manusia sebagai makhluk Allah yang diciptakan dari dua unsur yang berlainan yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani sebagai bagian dari kehidupan nyata tumbuh dan berkembang dari dan dengan yang nyata pula (materi). Allah menjelaskan tentang kejadi manusia ini dengan firman-Nya yang berbunyi:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ . ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَا تَشْكُرُونَ (السجدة : 7 – 9)
Artinya: Allah-lah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, Dia memulai kejadian manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati tanah (sulalah) dalam bentuk air yang hina (air mani). Lalu Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia itu), dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) sedikit sekali kamu yang bersyukur. (Q.S : al-Sajadah : 7 – 9)
Adam A.S adalah manusia pertama yang dijadikan Allah dengan menggunakan tanah secara langsung, bercampur air, dikeringkan dengan mengunakan suhu panas, dan angin sebagai alat pendingin dalam suatu proses dan sistem tertentu. Tetapi manusia berikutnya yang lahir secara kausalitas dari hubungan biologis antara manusia laki-laki dengan manusia perempuan yang bahannya tidak lagi menggunakan tanah secara langsung tetapi tanah sebagai suatu proses yang pada akhirnya memunculkan seperma (sulalah) yang kemudian terciptalah manusia yang sempurna dalam bentuk tetapi belum sempurna secara utuh. Untuk kesempurnaan manusia secara utuh Allah memberinya ruh yang ditiupkan dari ruh Allah sendiri (min ruhihi).
Dari sini nampak jelas keberadaan manusia itu terdiri dari unsur materi dan non materi. Unsur materi (air, api, angin dan tanah) memunculkan sifat-sifat manusia sebagaimana yang dimiliki oleh keempat unsur tadi. Sedangkan unsur non materi berupa ruh yang suci (ruh al-qudsi) membawa sifat-sifat terpuji seperti halnya sifat-sifat Allah yang Maha Mulia. Sifat-sifat materi yang menjadi sifat lahiriah kehidupan manusia ditunggangi oleh hawa, nafsu, dunia, syathon serta iblis yang kemudian memunculkan sifat-sifat yang tercela (mazmumah) dan disebut dengan istilah fujur, sedangkan sifat ruhaniah yang suci membawa sifat-sifat yang baik (mahmudah) yang disebut dengan istilah taqwa. Pernyataan ini dijelaskan Allah dengan firman-Nya.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: dan jiwa serta apa (yang menjadi alat) kesempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu sifat fujur dan taqwa. Sungguh amat beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh amat merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S : al-Syams : 7 – 10)
Esensi manusia terletak pada ruhaninya bukan pada jasmani, karena manusia termulia adalah manusia yang jiwanya selalu dekat dengan Allah yang menciptakannya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa” (al-Hujurat : 13). Tetapi jasmani sebagai bangunan tempat berdiamnya ruhani selagi didunia ini menjadi bagian tak terpisahkan dengannya, meskipun sifat dan keinginan keduanya sering kali berlawanan. Jasmani akan menampilkan sifat-sifat yang tidak terpuji manakala ruhaninya ditutupi oleh awan kegelapan dunia, dipicu oleh keinginan nafsu yang ditunggangi oleh syaithoniyah .
Jasmani membutuhkan makan dan minum, pada hal makan dan minum yang melebihi kebutuhan jasmani membuat jasmani itu malas beribadah, sedangkan ruhani selalu berkeinginan untuk beribadah kepada Allah yang menjadikannya. Jasmani senang kelezatan miskipun mungkin untuk mendapatkan kelezatan itu dia harus melanggar larangan Allah, sedangkan ruhani selalu merasa takut berbuat salah. Manakala tabir penutup ruhani itu tidak segera dibuka, maka kehadiran jasmani dipanggung dunia ini hanyalah menjadi kenderaan iblis dan syaithon untuk berbuat angkara murka yang tidak lagi mengenal batas mana yang haq dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah. Rasul SAW menjelaskan;
جمود العين من قسوة القلوب وقسوة القلوب من كثرة الذنوب وكثرة الذنوب من نسيان الموت ونسيان الموت من طول الامل وطول الامل من حب الدنيا وحب الدنيا رأس كل خطيئة
Artinya: Bekunya mata disebabkan kerasnya hati, dan kekerasan hati disebabkan banyak dosa, dosa banyak karena lupa akan mati, lupa mati disebabkan panjang angan-angan, sedangkan panjang angan-angan karena cinta dunia, cinta dunia menjadi sumber segala ma’siat.
Untuk mencegah kekerasan hati dan melunakkannya, manusia perlu membersihkan jiwanya dengan melakukan penyadaran terhadap jasmaninya (taubat) atas tindakan dan perbuatan salah yang pernah dilakukannya. Taubat ini merupakan bagian yang integral dalam amaliah sufi, dan bahkan seorang hamba sebelum melakukan amaliah lainnya terlebih dahulu dituntut untuk melakukan taubat dengan sepenuh hati. Sejarah Adam A.s. yang menyebabkan dia keluar dari surga karena melakukan pelanggaran terhadap larangan Allah, adalah contoh kelasik yang dapat dijadikan i’tibar sepanjang zaman. Adam A.s yang hidup bersama hawa di alam ketenangan (surga) terpaksa keluar ke alam kegundahan (dunia) sehingga memaksanya untuk bertaubat sebagai upaya pengembalian dirinya kealam kesucian.
Fitrah manusia yang diciptakan dalam dua unsur yang berbeda itu, nampaknya membuat manusia tidak terlepas dari kesalahan yang pada gilirannya menjadikan kesucian ruhaninya terkontaminasi dengan berbagai kotoran dosa. Manakala ruhani tidak lagi sesuci disaat dia hadir kedalam tubuh jasmani melalui tiupan ruh secara langsung dari Allah, maka ruhani itu tidak lagi punya kemampun untuk kembali ke alam asalnya yaitu alam lahut sebagai tempatnya semula , padahal manusia dituntut agar dia kemabli kealam asalnya dari petualangannya di alam dunia fana ini.
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (al-Baqarah: 46)
Tuntutan untuk dapat kembali ketempat asalnya itulah yang membuat manusia harus berupaya maksimal membersihkan jiwanya. Disinilah mengapa tasawuf itu dianggap sebagai suatu keniscayaan. Karena, tasawuf merupakan salah satu jalan yang akan mengembalikan manusia ketempat asalnya. Tasawuf bukanlah salah satu cara untuk melarikan diri (eskapisme) dari kesulitan kehidupan, melainkan ia suatu keniscayaan bagi seorang hamba.
3.PERILAKU AKHLAK TASAWUF DALAM DIRI MANUSIA
A.Tasawuf Dan Kebahagiaan Hidup Manusia
Hidup bahagia merupakan dambaan setiap manusia. Dan hidup sehat ialah salah satu syarat untuk kebahagiaan hidup. Orang yang tidak sehat alias sakit sangat mungkin ia tidak akan bahagia dalam hidupnya .
Kebahagiaan itu muncul dari dalam diri individu dalam rupa siksap hidup. Kebahagiaan bukan berasal dari luar diri yang muncul dari adanya kekayaan,popularitas dan lain sebagainya. Kebahagiaan tumbuh dan berkembang dalm diri manusia melalui kekuatan yang bersumber dari jiwa yang tenang dan bersih. Oleh karena itu kebahagiaan akan sulit dirasa jika jiwa manusia gelisah dan selalu merasa cemas,lalai ,hasad dan semua sifat yang memiliki watak kedzaliman baik pada drinya,orang lain maupun Tuhan.
Tasawuf dalam berbagai aktivitasnya merupakan suatu jalan kerohanian yang dapat mengantarkan manusia pada kondisi terbebasnya diri dari kungkungan jiwa syahwaniah. Dan dengan sedemikian rupa, semua sikap hidup sehat diajarkan dalam tasawuf . Kebaikan dan kebajikan dalam konteks tasawuf bukan dalam sekedar tindakan moralitas semata, akan tetapi berupa tindakan yang berdimensi batiniyah yang dalam semua tampilannya tidak terpisah dari jiwa intelektual dan ruhani manusia. Dan manusia yang berada dalam kondisi seperti ini, jiwanya akan senantiasa ikhlas dalam beramal dan berjuang untuk melakukan apaun yang diridhai Allah. Dengan demikian,ia akan semakin dekat dengan Tuhannya sebagai satu-satunya sumber kebahagian dalam hidup manusia.
B.Tasawuf Dan Ketenangan Hidup Manusia
Ketenangan hidup merupakan cita-cita luhur bagi setiap manusia. Mengingat bahwa ketenangan hidup merupakan kebutuhan ruhani yang telah dianugrahkan Allah pada setiap manusia yang dengannya akan melahirkan beragam aktivitas yang memajukan dan mencerahkan kehidupan manusia, maka tak dapat dipungkiri lagi bahwa ajaran tasawuf sebagai ajaran yang bersumber dari pengalaman syari’ah dan penyucian jiwa tentu meniscayakannya sebagai pengontrol bagi perilaku hidup manusia yang pada gilirannya akan membawa pelaku tasawuf untuk senantiasa berprilaku positif dalam mencari ridha Tuhannya.
Dalam mencari ridha Tuhan, sangat diakui bahwa manusia dituntut untuk menggunakan segala potensi yang dimilikinya. Dan dengan demikian, maka ketika ia berinteraksi dengan sesama manusia, alam dan Tuhannya, maka ia akan mengambil langkah dan sikap yang telah digariskan oleh Tuhannya sebagaimana semestinya. Dalam kondisi seperti ini, tasawuf sangat memegang peranan yang sangat penting untuk mewujudkan ketenangan hidup manusia dalam segala aktivitasnya. Karena itu ajaran yang mencerminkan kesabaran,keikhlasan dan keistiqamahan dalam tasawuf akan menghindarkan manusia dari sifat cemas, bimbang dan keluh kesahnya.
C.Tasawuf Dan Pembentukan Insan Kamil
Dari dulu hingga saat ini, salah satu kebutuhan manusia ialah mengaktualisasikan dirinya dalam menegakkan nilai-nilai humanitas yang menjadi lambang keberadaan manusia didunia. Dengan kebutuhannya ini, maka manusia akan membawa dirinya pada aktivitas-aktivitas yang berdimensi ilahiyah. Sehingga dalam konteks inilah sebutan insan kamil akan muncul.
Menurut Alfarabi; Insan kamil ialah duplikasi Tuhan didunia, yaitu nur muhammad yang merupakan penjelmaan dari Allah yang menyeluruh, ia sebagai khlalifah dibumi. Penyebutan insan kamil ini dikarenakan manusia merupakan suatu manifestasi sempurna dari Tuhan .
Apa yang disebutkan tokoh sufi diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki jalan untuk dapat mencapai kebaikan dan kebajikan dalam kehidupannya .Bahkan, jalan itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia itu sendiri. Dan tegasnya, terkait dengan ini, tasawuf itu sendiri ialah jalan untuk mencapai insan kamil. Oleh karena itu, ketika manusia telah sampai pada perbuatan yang menumbuhkan sifat-sifat ilahiyah dalam dirinya sendiri,maka ia telah mencapai insan kamil sebagai bentuk perwujudan manusia yang berakhlak.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari uraian yang telah dijelaskan pada bab pembahasan diatas,penulis mengambil kesimpulan bahwa sebagai tasawuf merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhannya. Dan sebagai sebuah jalan, tasawuf merupakan sebuah pilihan yang akan meniscayakan manusia untuk mengambil pilihan itu sendiri. Karena dengan cara memilih jalan tasawuf, berarti manusia akan dianggap tetap eksis, dalam arti bahwa keeksisan seorang individu terletak pada individu itu sendiri bagaimana ia dapat menjadikan dirinya sebagai abid, khalifah dan imarah yang pada akhirnya ia akan melahirkan seorang insan yang kamil yaitu insan yang Sempurna.
DAFTAR REFERENSI
Mansur, Amril ,”Akhlak Tasawuf ”, Pekanbaru : LSFK2P,2007
Tebba,Sudirman” Tasawuf Positif” Jakarta: Kencana ,2003
Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, Pekanbaru : LSFK2P , 2005
Hitami,Munzir, Mengonsep kembali pendidikan islam, Pekanbaru : Infinite Press, 2004
Daud.M, Pendidikan agama islam, Jakarta :Rajawali Pers, 2008
http://muhammad-rusfi.blogspot.com/2011/01/tasawuf-suatu-keniscayaan.html jam.03/02/04/11
http://pondokhabib.wordpress.com/2009/04/28/tasawuf-alternatif-bagi-dahaga-rohani/
http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ikhlas-dalam-ilmu-tasawuf/
http://www.opensubscriber.com/message/zamanku@yahoogroups.com/9344788.html
A.Pengertian Manusia
Menurut islam, konsep manusia ialah sebagai mana yang dijelaskan dalam Alqur’an, yakni termuat dalam QS.Sajdah 7-9, al Hajj 5, al An’am 2, al Mukminun 12-16, dan at Tin 4-6. Adapun istilah yang digunakan sangat variatif, antara lain : Insan, al Nas dan basyr. Kesemua istilah tersebut menunjuk bahwa manusia memiliki potensi jasmani dan rohani, yakni potensi untuk melihat, berfikir, dan merasa .
B.Tujuan Penciptaan Manusia
Bila dilihat, tujuan penciptaan manusia yang berlandaskan dari ayat-ayat Al Qur’an antaralain yaitu :
a. Menjadikan manusia sebagai Muabbid ( QS.Adzariyat 56 )
b. Menjadikan manusia sebagai Khalifah fi al ardh ( QS.Albaqarah 30 )
c. Menjadikan manusia sebagai Imarah fi al ardh ( QS.Anbiya 105 )
C.Esensi Manusia
Esensi manusia terletak pada ruhaninya bukan pada jasmani, karena manusia termulia adalah manusia yang jiwanya selalu dekat dengan Allah yang menciptakannya. Sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa” (al-Hujurat : 13). Menurut H.A Salim, konsep taqwa ini ialah sikap metal seseorang yang selalu ingat dan waspada dalam memelihara dirinya dari noda dan dosa. Sikap taqwa selalu pantang berbuat salah melakukan perbuatan baik dan benar, dan melakukan kejahatan terhadap diri sendiri,oranglain dan lingkungannya .
Menurut Hasan Lnggulung, taqwa merupakan kesimpulan semua nilai yang terdapat dalam Alquran. Adapun nilai-nilai alquran menurut beliau dinyatakan sebagai akhlak. Oleh karena itu Hasan Langgulung membagi nilai taqwa dalam 5 kategori besar, antaralain:
a. Nilai perseorangan
b. Nilai kekeluargaan
c. Nilai social
d. Nilai kenegaraan
e. Nilai Keagamaan
Lebih lanjut, Hasan Langgulung memaknai konsep taqwa dalam memelihara meliputi 4 ruang lingkup , antara lain :
a. Hubungan manusia dengan Allah, meliputi :
1. Iman pada Allah 3.Syukur nikmat pada Allah
2. Ibadah kepada Allah 4.Taubat
b. Hubungan manusia dengan diri sendiri, meliputi :
1. Sabar
2. Pemaaf
3. Adil
4. Ikhlas
5. Amanah
6. Mawas diri
c. Hubungan manusia dengan sesama manusia, antara lain meliputi :
1. Tolong menolong
2. Menepati janji
3. Lapang dada
4. Menegakkan keadilan
5. Memaafkan kesalahan orang lain
d. Hubungan manusia dengan lingkungan hidup, antara lain meliputi :
1. Pemeliharaan kebersihan lingkungan
2. Menyayangi hewan dan tumbuhan
3. Mencegah perusakan
4. Pelestarian lingkungan
D.Eksistensi Manusia
Kehidupan yang Allah ciptakan tidak lebih sebenarnya untuk menguji siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang paling banyak dan paling baik amalannya. Beramal adalah inti dari eksistensi (keberadaan) manusia di dunia, karena tanpa amal otomatis manusia akan kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Sebagaimana di awal surah Al-Mulk ayat ke-2 Allah berfirman :
اَلَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَّهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
2.Konsep tentang Tasawuf
A.Pengertian Tasawuf
Secara etimologi, tasawuf berasal dari kata shuf, shifa dan shufah. Kata shuf berarti bulu domba, sebagai lambang bagi kehidupan sederhana pada masanya. Sedangkan kata shifa, artinya suci bersih. Kata shufa berarti golongan sahabat Nabi yang mensucikan diri dari suatu tempat terpencil di samping masjid Nabi SAW.
Selain makna diatas, tasawuf itu sendiri memberi makna bahwa ia adalah sikap mental yang senantiasa menjaga dan memelihara diri sedemikian rupa agar selalu berada dalam kesucian diri. Dan ini sejalan dengan pengertian menurut halajj bahwa tasawuf ialah salah satu kekuatan jiwa yang kukuh untuk tetap teguh mempertahankan kebaikan semata mata demi memelihara kesucian hati manusia. Dan ini sejalan pula menurut Junaid, tasawuf itu adalah ekspresi dari budi pekerti dan perangai yang terpuji.
Dari beragam makna tasawuf yang dikemukakan diatas, jadi tasawuf itu mengindikasikan perilaku tasawuf yang dilakukan oleh para pelaku tasawuf itu sendiri,sehingga apa yang dirasakan oleh seorang sufi akan berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa memaknai tasawuf itu tetap sama esensinya, yakni mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana
B.Tujuan Tasawuf
Tujuan utama tasawuf adalah pengutuhan manusia dengan seluruh kedalaman dan keluaran keberadaannya dan seluruh keluasan yang tercakup dalam pribadi manusia yang disebut manusia sempurna (insan kamil).
Tujuan tasawuf adalah mencapai kesadaran murni dan menyeluruh. Manusia yang terdiri dari tubuh, pikiran dan jiwa masing-masing perlu diutuhkan kembali
sesuai dengan tingkatannya sendiri. Tasawuf juga berusaha mengutuhkan
berbagai ilmu yang berkembang ke dalam perspektif dengan tepat. Peranan
jalan kerohanian (thariqat) dalam pengukuhan manusia adalah sesuatu yang
hakiki, karena hanya melalui kehadiran Tuhan dan barakah yang terkandung di
dalamnya yang telah ditunjukkan ke dalam Al Quran semua unsur yang tercerai
berai dalam diri manusia dapat dipadukan kembali.
Selain itu, ajaran tasawuf juga bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Sehingga orang-orang merasa di hadiratnya. Caranya adalah dengan kontemplasi, melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat
sementara dan selalu berubah .
C. Esensi Tasawuf
Tasawuf sebagai segi batin agama — sementara segi lahirnya disebut syari’ah — adalah bidang ilmu keislaman yang bisa dibagi dalam tiga bagian: tasawuf akhlaqi, tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaqi ialah ajaran akhlak dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Tasawuf akhlaqi meliputi tahalli (penyucian diri dari sifat-sifat tercela, menghiasi dan membiasakan diri dengan sikap terpuji) dan tajalli, yaitu tersingkapnya Nur Ilahi .
Tasawuf amali ialah tuntunan praktis cara mendekatkan diri kepada Allah, yang identik dengan tarekat. Mereka yang masuk tarekat akan memperoleh bimbingan praktik atau amaliah bertasawuf. Sementara tasawuf falsafi ialah kajian secara mendalam dengan tinjauan filosofis dari segala aspek. Dalam tasawuf falsafi dipadukan visi intuitif tasawuf dan visi rasional filsafat.
Ajaran ketiga jenis tasawuf itu bermuara pada penghayatan terhadap ibadah murni (mahdhah) untuk mewujudkan al-akhlaq al-karimah (budi pekerti luhur), baik secara individual maupun sosial. Dengan demikian, tasawuf menjanjikan penyelamatan di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialistis, hedonis, pragmatis, sekular, serta kehidupan yang semakin sulit secara ekonomis maupun psikologis.
D.Tasawuf Sebagai Suatu Keniscayaan
Sejarah tumbuhnya tasawuf sama panjangnya dengan sejarah lahirnya manusia itu sendiri. Hal ini dapat dipahami dari keberadaan manusia sebagai makhluk Allah yang diciptakan dari dua unsur yang berlainan yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani sebagai bagian dari kehidupan nyata tumbuh dan berkembang dari dan dengan yang nyata pula (materi). Allah menjelaskan tentang kejadi manusia ini dengan firman-Nya yang berbunyi:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ . ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَا تَشْكُرُونَ (السجدة : 7 – 9)
Artinya: Allah-lah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, Dia memulai kejadian manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati tanah (sulalah) dalam bentuk air yang hina (air mani). Lalu Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia itu), dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) sedikit sekali kamu yang bersyukur. (Q.S : al-Sajadah : 7 – 9)
Adam A.S adalah manusia pertama yang dijadikan Allah dengan menggunakan tanah secara langsung, bercampur air, dikeringkan dengan mengunakan suhu panas, dan angin sebagai alat pendingin dalam suatu proses dan sistem tertentu. Tetapi manusia berikutnya yang lahir secara kausalitas dari hubungan biologis antara manusia laki-laki dengan manusia perempuan yang bahannya tidak lagi menggunakan tanah secara langsung tetapi tanah sebagai suatu proses yang pada akhirnya memunculkan seperma (sulalah) yang kemudian terciptalah manusia yang sempurna dalam bentuk tetapi belum sempurna secara utuh. Untuk kesempurnaan manusia secara utuh Allah memberinya ruh yang ditiupkan dari ruh Allah sendiri (min ruhihi).
Dari sini nampak jelas keberadaan manusia itu terdiri dari unsur materi dan non materi. Unsur materi (air, api, angin dan tanah) memunculkan sifat-sifat manusia sebagaimana yang dimiliki oleh keempat unsur tadi. Sedangkan unsur non materi berupa ruh yang suci (ruh al-qudsi) membawa sifat-sifat terpuji seperti halnya sifat-sifat Allah yang Maha Mulia. Sifat-sifat materi yang menjadi sifat lahiriah kehidupan manusia ditunggangi oleh hawa, nafsu, dunia, syathon serta iblis yang kemudian memunculkan sifat-sifat yang tercela (mazmumah) dan disebut dengan istilah fujur, sedangkan sifat ruhaniah yang suci membawa sifat-sifat yang baik (mahmudah) yang disebut dengan istilah taqwa. Pernyataan ini dijelaskan Allah dengan firman-Nya.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: dan jiwa serta apa (yang menjadi alat) kesempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu sifat fujur dan taqwa. Sungguh amat beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh amat merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S : al-Syams : 7 – 10)
Esensi manusia terletak pada ruhaninya bukan pada jasmani, karena manusia termulia adalah manusia yang jiwanya selalu dekat dengan Allah yang menciptakannya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa” (al-Hujurat : 13). Tetapi jasmani sebagai bangunan tempat berdiamnya ruhani selagi didunia ini menjadi bagian tak terpisahkan dengannya, meskipun sifat dan keinginan keduanya sering kali berlawanan. Jasmani akan menampilkan sifat-sifat yang tidak terpuji manakala ruhaninya ditutupi oleh awan kegelapan dunia, dipicu oleh keinginan nafsu yang ditunggangi oleh syaithoniyah .
Jasmani membutuhkan makan dan minum, pada hal makan dan minum yang melebihi kebutuhan jasmani membuat jasmani itu malas beribadah, sedangkan ruhani selalu berkeinginan untuk beribadah kepada Allah yang menjadikannya. Jasmani senang kelezatan miskipun mungkin untuk mendapatkan kelezatan itu dia harus melanggar larangan Allah, sedangkan ruhani selalu merasa takut berbuat salah. Manakala tabir penutup ruhani itu tidak segera dibuka, maka kehadiran jasmani dipanggung dunia ini hanyalah menjadi kenderaan iblis dan syaithon untuk berbuat angkara murka yang tidak lagi mengenal batas mana yang haq dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah. Rasul SAW menjelaskan;
جمود العين من قسوة القلوب وقسوة القلوب من كثرة الذنوب وكثرة الذنوب من نسيان الموت ونسيان الموت من طول الامل وطول الامل من حب الدنيا وحب الدنيا رأس كل خطيئة
Artinya: Bekunya mata disebabkan kerasnya hati, dan kekerasan hati disebabkan banyak dosa, dosa banyak karena lupa akan mati, lupa mati disebabkan panjang angan-angan, sedangkan panjang angan-angan karena cinta dunia, cinta dunia menjadi sumber segala ma’siat.
Untuk mencegah kekerasan hati dan melunakkannya, manusia perlu membersihkan jiwanya dengan melakukan penyadaran terhadap jasmaninya (taubat) atas tindakan dan perbuatan salah yang pernah dilakukannya. Taubat ini merupakan bagian yang integral dalam amaliah sufi, dan bahkan seorang hamba sebelum melakukan amaliah lainnya terlebih dahulu dituntut untuk melakukan taubat dengan sepenuh hati. Sejarah Adam A.s. yang menyebabkan dia keluar dari surga karena melakukan pelanggaran terhadap larangan Allah, adalah contoh kelasik yang dapat dijadikan i’tibar sepanjang zaman. Adam A.s yang hidup bersama hawa di alam ketenangan (surga) terpaksa keluar ke alam kegundahan (dunia) sehingga memaksanya untuk bertaubat sebagai upaya pengembalian dirinya kealam kesucian.
Fitrah manusia yang diciptakan dalam dua unsur yang berbeda itu, nampaknya membuat manusia tidak terlepas dari kesalahan yang pada gilirannya menjadikan kesucian ruhaninya terkontaminasi dengan berbagai kotoran dosa. Manakala ruhani tidak lagi sesuci disaat dia hadir kedalam tubuh jasmani melalui tiupan ruh secara langsung dari Allah, maka ruhani itu tidak lagi punya kemampun untuk kembali ke alam asalnya yaitu alam lahut sebagai tempatnya semula , padahal manusia dituntut agar dia kemabli kealam asalnya dari petualangannya di alam dunia fana ini.
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (al-Baqarah: 46)
Tuntutan untuk dapat kembali ketempat asalnya itulah yang membuat manusia harus berupaya maksimal membersihkan jiwanya. Disinilah mengapa tasawuf itu dianggap sebagai suatu keniscayaan. Karena, tasawuf merupakan salah satu jalan yang akan mengembalikan manusia ketempat asalnya. Tasawuf bukanlah salah satu cara untuk melarikan diri (eskapisme) dari kesulitan kehidupan, melainkan ia suatu keniscayaan bagi seorang hamba.
3.PERILAKU AKHLAK TASAWUF DALAM DIRI MANUSIA
A.Tasawuf Dan Kebahagiaan Hidup Manusia
Hidup bahagia merupakan dambaan setiap manusia. Dan hidup sehat ialah salah satu syarat untuk kebahagiaan hidup. Orang yang tidak sehat alias sakit sangat mungkin ia tidak akan bahagia dalam hidupnya .
Kebahagiaan itu muncul dari dalam diri individu dalam rupa siksap hidup. Kebahagiaan bukan berasal dari luar diri yang muncul dari adanya kekayaan,popularitas dan lain sebagainya. Kebahagiaan tumbuh dan berkembang dalm diri manusia melalui kekuatan yang bersumber dari jiwa yang tenang dan bersih. Oleh karena itu kebahagiaan akan sulit dirasa jika jiwa manusia gelisah dan selalu merasa cemas,lalai ,hasad dan semua sifat yang memiliki watak kedzaliman baik pada drinya,orang lain maupun Tuhan.
Tasawuf dalam berbagai aktivitasnya merupakan suatu jalan kerohanian yang dapat mengantarkan manusia pada kondisi terbebasnya diri dari kungkungan jiwa syahwaniah. Dan dengan sedemikian rupa, semua sikap hidup sehat diajarkan dalam tasawuf . Kebaikan dan kebajikan dalam konteks tasawuf bukan dalam sekedar tindakan moralitas semata, akan tetapi berupa tindakan yang berdimensi batiniyah yang dalam semua tampilannya tidak terpisah dari jiwa intelektual dan ruhani manusia. Dan manusia yang berada dalam kondisi seperti ini, jiwanya akan senantiasa ikhlas dalam beramal dan berjuang untuk melakukan apaun yang diridhai Allah. Dengan demikian,ia akan semakin dekat dengan Tuhannya sebagai satu-satunya sumber kebahagian dalam hidup manusia.
B.Tasawuf Dan Ketenangan Hidup Manusia
Ketenangan hidup merupakan cita-cita luhur bagi setiap manusia. Mengingat bahwa ketenangan hidup merupakan kebutuhan ruhani yang telah dianugrahkan Allah pada setiap manusia yang dengannya akan melahirkan beragam aktivitas yang memajukan dan mencerahkan kehidupan manusia, maka tak dapat dipungkiri lagi bahwa ajaran tasawuf sebagai ajaran yang bersumber dari pengalaman syari’ah dan penyucian jiwa tentu meniscayakannya sebagai pengontrol bagi perilaku hidup manusia yang pada gilirannya akan membawa pelaku tasawuf untuk senantiasa berprilaku positif dalam mencari ridha Tuhannya.
Dalam mencari ridha Tuhan, sangat diakui bahwa manusia dituntut untuk menggunakan segala potensi yang dimilikinya. Dan dengan demikian, maka ketika ia berinteraksi dengan sesama manusia, alam dan Tuhannya, maka ia akan mengambil langkah dan sikap yang telah digariskan oleh Tuhannya sebagaimana semestinya. Dalam kondisi seperti ini, tasawuf sangat memegang peranan yang sangat penting untuk mewujudkan ketenangan hidup manusia dalam segala aktivitasnya. Karena itu ajaran yang mencerminkan kesabaran,keikhlasan dan keistiqamahan dalam tasawuf akan menghindarkan manusia dari sifat cemas, bimbang dan keluh kesahnya.
C.Tasawuf Dan Pembentukan Insan Kamil
Dari dulu hingga saat ini, salah satu kebutuhan manusia ialah mengaktualisasikan dirinya dalam menegakkan nilai-nilai humanitas yang menjadi lambang keberadaan manusia didunia. Dengan kebutuhannya ini, maka manusia akan membawa dirinya pada aktivitas-aktivitas yang berdimensi ilahiyah. Sehingga dalam konteks inilah sebutan insan kamil akan muncul.
Menurut Alfarabi; Insan kamil ialah duplikasi Tuhan didunia, yaitu nur muhammad yang merupakan penjelmaan dari Allah yang menyeluruh, ia sebagai khlalifah dibumi. Penyebutan insan kamil ini dikarenakan manusia merupakan suatu manifestasi sempurna dari Tuhan .
Apa yang disebutkan tokoh sufi diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki jalan untuk dapat mencapai kebaikan dan kebajikan dalam kehidupannya .Bahkan, jalan itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia itu sendiri. Dan tegasnya, terkait dengan ini, tasawuf itu sendiri ialah jalan untuk mencapai insan kamil. Oleh karena itu, ketika manusia telah sampai pada perbuatan yang menumbuhkan sifat-sifat ilahiyah dalam dirinya sendiri,maka ia telah mencapai insan kamil sebagai bentuk perwujudan manusia yang berakhlak.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari uraian yang telah dijelaskan pada bab pembahasan diatas,penulis mengambil kesimpulan bahwa sebagai tasawuf merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhannya. Dan sebagai sebuah jalan, tasawuf merupakan sebuah pilihan yang akan meniscayakan manusia untuk mengambil pilihan itu sendiri. Karena dengan cara memilih jalan tasawuf, berarti manusia akan dianggap tetap eksis, dalam arti bahwa keeksisan seorang individu terletak pada individu itu sendiri bagaimana ia dapat menjadikan dirinya sebagai abid, khalifah dan imarah yang pada akhirnya ia akan melahirkan seorang insan yang kamil yaitu insan yang Sempurna.
DAFTAR REFERENSI
Mansur, Amril ,”Akhlak Tasawuf ”, Pekanbaru : LSFK2P,2007
Tebba,Sudirman” Tasawuf Positif” Jakarta: Kencana ,2003
Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, Pekanbaru : LSFK2P , 2005
Hitami,Munzir, Mengonsep kembali pendidikan islam, Pekanbaru : Infinite Press, 2004
Daud.M, Pendidikan agama islam, Jakarta :Rajawali Pers, 2008
http://muhammad-rusfi.blogspot.com/2011/01/tasawuf-suatu-keniscayaan.html jam.03/02/04/11
http://pondokhabib.wordpress.com/2009/04/28/tasawuf-alternatif-bagi-dahaga-rohani/
http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ikhlas-dalam-ilmu-tasawuf/
http://www.opensubscriber.com/message/zamanku@yahoogroups.com/9344788.html
ANALISIS KURIKULUM SKI MA
BAB I
Pendahuluan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kurikulum sebagai program pendidikan ini berfungsi sebagai pedoman dan alat dalam menyelenggarakan kependidikan dan kegiatan pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan. Sehubungan dengan fungsi kurikulum tersebut, Nazhary mengungkapkan bahwa ada tiga fungsi dari kurikulum, yaitu sebagai berikut:
1. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan
2. Kurikulum sebagai batasan dari program kegiatan pada tingkatan pendidikan
3. Kurikulum sebagai pedoman dalam penyelenggaraan proses pembelajaran
Berdasarkan penjelasan tiga fungsi kurikulum diatas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan komponen dari pendidikan yang memegang peranan yang begitu penting, termasuk bagi pelaksanaan dan penyelenggaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu bagian integral dari Pendidikan Agama Islam. Sehubungan dengan ini, kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran yang sangat mendukung dalam pencapaian tujuan dari kurikulum Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, dalam merencanakan dan menyusun kurikulum, guru diharapkan agar cermat dan teliti. Karena, sebuah kurikulum itu memiliki sejumlah komponen yang saling terkait erat satu sama lain. Dan secara teoritis, penyusunan kurikulum harus berdasarkan asas dan orientasi tertentu.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menganggap bahwa penulisan mengenai analisis pedoman pelaksanaan kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam ini sangat penting untuk dibahas, karena mengingat peranan dan fungsinya yang begitu penting dalam pencapaian tujuan pendidikan agama islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PEDOMAN PELAKSANAAN KURIKULUM
1. LATAR BELAKANG
Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkemangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Untuk mencapai tujuan tersebut salah saru bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di Madrasah adalah Pendidikan Agama Islam yang dimaksudkan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah terdiri atas 4 mata pelajaran yaitu Al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlah, Fiqih dan SKI. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait.
Aspek Sejarah Kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibroh dari peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani tokoh berprestasi dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.
2. TUJUAN
Sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah merupakan salah satu mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan persadaban islam di masa lampau mulai dari masa nabi Muhammad periode Mekah dan Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat, perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (650-1250), Perkembangan Islam pada abad pertengahan/kemundurun (1250-1800), Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800 sampai sekarang), perkembangan Islam di indonesia dan di dunia. Secara subtansial SKI memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati SKI yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik.
Adapun tujuan mata pelajaran SKI di Madrasah Aliyah ialah :
1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran nilai-nilai dan norma-norma dalam islam yang telah dibangun oleh Rasulullah dalam rangka mengembangkan kebudayaan islam.
2. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, kini dan masa depan.
3. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah islam sebagai bukti peradaban umat islam .
5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibroh dari peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani tokoh berprestasi dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.
3. RUANG LINGKUP
a. Dakwah Nabi Muhammad pada periode mekah dan periode madinah
b. Kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat
c. Perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (650-1250)
d. Perkembangan Islam pada abad pertengahan/kemunduran (1250-1800)
e. Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800 sampai sekarang)
f. Perkembangan Islam di indonesia dan di dunia
4. Fungsi
Setidaknya ada tiga fungsi dasar pembelajaran SKI, yaitu :
1. Fungsi Edukatif
Sejarah menegaskan kepada siswa tentang keharusan menegakkan nilai, prinsip, sikap hidup yang luhur dan Islami dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
2. Fungsi Keilmuan
Melalui sejarah siswa memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya.
3. Fungsi transformasi
Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam merancang transformasi masyarakat.
5. Pendekatan Pembelajaran
Cakupan materi SKI merupakan bagian tak terpisahkan dari rumpun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Olehkarena itu setiap aspeknya dikembangkan dalam suasana pembelajaran yang terpadu, meliputi:
1. Keimanan yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Allah SWT sebagai sumber kehidupan.
2. Pengamalan,memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil hasil pengamalan keyakinan akidah dan akhlak dalam menghadapi tugas dan masalah dalam kehidupan.
3. Pembiasaan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran islam dan budaya bangsa dalam menghadapi tugas dan masalah dalam kehidupan.
4. Rasional, usaha memberikan peranan kepada rasio(akal) peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai materi dalam standar materi serta kaitannya dengan perilaku yang baik dengan perilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi.
5. Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
6. Fungsional, menyajikan materi SKI dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
7. Keteladanan, yaitu menjadikan figure pribadi-pribadi teladan dan sebagai cerminan dari manusia yang memiliki keyakinan tauhid yang teguh dan berprilaku mulia.
F.Penilaian
Untuk mengetahui kompetensi siswa sebagai hasil proses pembelajaran SKI, perlu dilakukan penilaian dengan rambu-rambu sebagai berikut:
1. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian kemajuan belajar dan penilaian hasil belajar siswa.
2. Penilaian kemajuan belajar. Merupakan pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan dasar yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam kurun waktu, unit satuan atau jenjang tertentu.
3. Penilaian hasil belajar SKI adalah upaya pengumpulan informasi untuk menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap suatu kompetensi meliputi: pengetahuan, sikap, dan nilai. Penilaian hasil belajar ini dilakukan sepenuhnya oleh madrasah yang bersangkutan.Hasil penilaian dijadikan sebagai pertimbangan utama dalam memasuki pendidikan jenjang berikutnya.
4. Penilaian hasil belajar PAI SKI secara nasional dilakukan oleh Departerrien Agama Pusat dengan mengacu kepada kompetensi dasar, hasil belajar, materi standar, dan indikator yang telah ditetapkan di dalamKurikulumNasional PAI SKI. Penilaian tingkat nasional berfungsi untuk memperoleh informasi dan data tentang mutu hasil penyelenggaraan mata pelajaran PAI SKI.
5. Alat-alat dan format penilaian hendaknya dapat mengukur dengan tepat kemampuan dan usaha belajar siswa.
6. Penilaian dilakukan melalui bentuk tes dan non tes
7. Pengukuran terhadap ranah afektif dapat dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes seperti skala penilaian, observasidanwawancara, sementara terhadap ranah psikomotorik dengan tes perbuatan dengan menggunakan lembar pengamatan.
B. SYLABUS PAI SKI MA
1. Kelas XII semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memahami keteladanan dakwah Rasulullah dalam membina umat
a. Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dan Madinah.
b. Mendeskripsikan subtansi dan strategi dakwah rasulullah pada periode Makkah dan Madinah.
c. Mengidentifikasi hasil-hasil perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwah.
d. Mengambil ibrah dari perjuangan
e. dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dan Madinah untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang.
2. Memahami masalah kepemimpinan umat islam pasca nabi wafat. a. Menceritakan proses dan model pemilihan kepemimpinan pada masa Khulafaurrasyidiin
b. Mendeskripsikan kepemimpinan pada masa Khulafaurrasyidiin
c. Mengambil ibrah dari kepemimpinan Khulafaurrasyidiin untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang
3. Memahami perkembangan Islam (zaman keemasan) pada tahun 650M-1250 a. Menjelaskan perkembangan Islam pada periode klasik
b. Mengidentifikasikan peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
c. Mengambil ibrah dari perkembangan Islam pada periode klasik untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang
d. Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
4. Memahami perkembangan Islam pada periode pertengahan / zaman kemunduran (1250 M-1800 M) a. Menjelaskan perkembangen Islam pada abad pertengahan
b. Menceritakan sebab-sebab kemunduran islam pada abad pertengahan
c. Mengambil ibrah dari perkembangan Islam pada periode pertengahan untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang
2. Kelas XII semester II
NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN
1 Mengkaji sejarah islam di andalusia - Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung masuknya islam ke andalusia
- Menjelaskan proses masuknya islam di andalusia
- Mengambil ibrah dari masuknya islam di andalusia (spanyol)
- Menunjukkan peta wilayah kekuasaan dinasti umayyah II.
- Menyebutkan peninggalan bersejarah dinasti umayyah II.
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai dibidang sosial budaya.
- Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemunduran dan kehancuranperadaban islam di Andalusia
- Menggali hikmah keruntuhan dinasti Umayyah II
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Muwahidun
- Menyebutkan ilmuwan,filosof dan ulama pada dinasti muwahidun
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Bani Ahmar
- Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemunduran Dinasti Bani Ahmar
- Menyebutkan peninggalan bersejarah bani Ahmar
- Mengambil hikmah dari keruntuhan bani Ahmar
2 Mengkaji pemikiran dan gerakan modernisasi dunia islam - Menjelaskan keadaan dunia islam saat kedatangan penjajah
- Menyebutkan motivasi dan tujuan bangsa barat menjajah negara islam
- Menyebutkan beberapa wilayah yang dikuasai bangsa barat
- Menjelaskan dampak penajajhan bangsa barat atas dunia islam dalam bidang politik dan ekonomi
- Menjelaskan dampak penajajhan bangsa barat atas dunia islam dalam bidang ilmu pengetahuan
- Menjelaskan secara singkat biografi Muhammad Abd Wahab
- Menjelaskan gerakan bidang akidah dan syariah Muhammad Abd Wahab
- Menilai pemikiran Muhammad Abd Wahab
- Menceritakan secara singkat biografi jamaluddin al afghani
- Menjelaskan peranan jamaluddin al afghani
- Menjelaskan konsep khilafah al Afgani
- Membandingkan konsep khilafah dengan negara modern
- Menjelaskan peranannya di urwatul wutsqa
- Meneladani sikap intelektual dan ant imperialisme al afghani
- Menceritakan secara singkat biografi muhammad abduh
- Menjelaskan peranan muhammad abduh di bidang politik
- Menjelaskan konsep khilafah muhammad abduh
- Menilai pemikiran pembaharuan muhammad abduh
- Menceritakan secara singkat biografi rasyid ridha
- Menjelaskan peranan rasyid ridha dalam pengembangan pemikiran muhammad abduh
- Menyebukan nama tafsir yang ditulis oleh rasyid ridha
- Menilai pemikiran pembaharuan rasyid ridha
- Menceritakan secara singkat biografi rasyid ridha
- Menjelaskan peranan kamal attaturk di politik
- Menjelaskan konsep sekelarisme attaturk
- Menjelaskan reaksi ulama atas ide sekulerisme
- Mengambil hikmah dari sekulerisme di turki
- Menceritakan secara singkat biografi muhammad iqbal
- Menjelaskan ide dasar pemikiran muhammad iqbal tentang dinamisme islam dan filsafat diri
- Meneladani sikap intelektual dan nasionalisme iqbal
3 Memahami perkembangan islam di indonesia - Menjelaskan waktu masuknya islam ke indonesia
- Menjelaskan proses penyebaran islam di indonesia
- Menjelaskan pengaruh islam terhadap peradaban bangsa indonesia
- Menyebutkan kerajaan islam di indonesia
- Menjelaskan peranan samudra pasai dalam penyebaran islam di indonesia
- Menjelaskan peranan kerajaan demak dalam islamisasi jawa
- Menyebutkan peninggalan kerajaan islam
- Mengambil ibrah keberadaan kerajaan islam di indonesia
- Menyebutkan nama-nama ulama di indonesia
- Menjelaskan peranan ulama awal dalam penyebaran islam di indonesia
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para ulama
- Menyebutkan nama-nama walisongo
- Menjelaskan peranan walisongo dalam pengembangan islam di indonesia
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para walisongo
4 Mengkaji pembaharuan islam di indonesia - Menjelaskan sejarah berdirinya muhammadiyah
- Menjelaskan ide dasar KH.Ahmad Dahlan
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman serta kepedulian sosialnya
- Menjelaskan sejarah berdirinya NU
- Menjelaskan ide dasar KH.Hasyim As’ary
- Menjelaskan peranan KH.Hasyim As’ary dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman As’ary
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan Hasil Analisis
Jika kita analisa dari nilai filosofis yang terkandung dalam asas-asas penyusunan kurikulum, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah tersebut:
1. Telah sesuai antara tujuan dan ruang lingkup pencapaian tujuan materi pendidikan islam – sejarah kebudayaan islam.
2. Telah sesuai antara tujuan pencapaian pendidikan agama islam dengan taraf kemampuan siswa islam.
3. Tidak adanya kecacatan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di lapangan.
Namun, jika dianalisis lebih lanjut, kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah ini memiliki beberapa kekurangan,antara lain:
1. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih bersifat tradisional, masih belum menyentuh aspek rasional.
2. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih disajikan dengan mementingkan memori saja
3. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih belum memperhatikan minat dan kebutuhan individu dan sosial.
Pendahuluan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kurikulum sebagai program pendidikan ini berfungsi sebagai pedoman dan alat dalam menyelenggarakan kependidikan dan kegiatan pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan. Sehubungan dengan fungsi kurikulum tersebut, Nazhary mengungkapkan bahwa ada tiga fungsi dari kurikulum, yaitu sebagai berikut:
1. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan
2. Kurikulum sebagai batasan dari program kegiatan pada tingkatan pendidikan
3. Kurikulum sebagai pedoman dalam penyelenggaraan proses pembelajaran
Berdasarkan penjelasan tiga fungsi kurikulum diatas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan komponen dari pendidikan yang memegang peranan yang begitu penting, termasuk bagi pelaksanaan dan penyelenggaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu bagian integral dari Pendidikan Agama Islam. Sehubungan dengan ini, kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran yang sangat mendukung dalam pencapaian tujuan dari kurikulum Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, dalam merencanakan dan menyusun kurikulum, guru diharapkan agar cermat dan teliti. Karena, sebuah kurikulum itu memiliki sejumlah komponen yang saling terkait erat satu sama lain. Dan secara teoritis, penyusunan kurikulum harus berdasarkan asas dan orientasi tertentu.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menganggap bahwa penulisan mengenai analisis pedoman pelaksanaan kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam ini sangat penting untuk dibahas, karena mengingat peranan dan fungsinya yang begitu penting dalam pencapaian tujuan pendidikan agama islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PEDOMAN PELAKSANAAN KURIKULUM
1. LATAR BELAKANG
Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkemangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Untuk mencapai tujuan tersebut salah saru bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di Madrasah adalah Pendidikan Agama Islam yang dimaksudkan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah terdiri atas 4 mata pelajaran yaitu Al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlah, Fiqih dan SKI. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait.
Aspek Sejarah Kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibroh dari peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani tokoh berprestasi dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.
2. TUJUAN
Sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah merupakan salah satu mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan persadaban islam di masa lampau mulai dari masa nabi Muhammad periode Mekah dan Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat, perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (650-1250), Perkembangan Islam pada abad pertengahan/kemundurun (1250-1800), Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800 sampai sekarang), perkembangan Islam di indonesia dan di dunia. Secara subtansial SKI memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati SKI yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik.
Adapun tujuan mata pelajaran SKI di Madrasah Aliyah ialah :
1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran nilai-nilai dan norma-norma dalam islam yang telah dibangun oleh Rasulullah dalam rangka mengembangkan kebudayaan islam.
2. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, kini dan masa depan.
3. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah islam sebagai bukti peradaban umat islam .
5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibroh dari peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani tokoh berprestasi dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.
3. RUANG LINGKUP
a. Dakwah Nabi Muhammad pada periode mekah dan periode madinah
b. Kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat
c. Perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (650-1250)
d. Perkembangan Islam pada abad pertengahan/kemunduran (1250-1800)
e. Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800 sampai sekarang)
f. Perkembangan Islam di indonesia dan di dunia
4. Fungsi
Setidaknya ada tiga fungsi dasar pembelajaran SKI, yaitu :
1. Fungsi Edukatif
Sejarah menegaskan kepada siswa tentang keharusan menegakkan nilai, prinsip, sikap hidup yang luhur dan Islami dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
2. Fungsi Keilmuan
Melalui sejarah siswa memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya.
3. Fungsi transformasi
Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam merancang transformasi masyarakat.
5. Pendekatan Pembelajaran
Cakupan materi SKI merupakan bagian tak terpisahkan dari rumpun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Olehkarena itu setiap aspeknya dikembangkan dalam suasana pembelajaran yang terpadu, meliputi:
1. Keimanan yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Allah SWT sebagai sumber kehidupan.
2. Pengamalan,memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil hasil pengamalan keyakinan akidah dan akhlak dalam menghadapi tugas dan masalah dalam kehidupan.
3. Pembiasaan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran islam dan budaya bangsa dalam menghadapi tugas dan masalah dalam kehidupan.
4. Rasional, usaha memberikan peranan kepada rasio(akal) peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai materi dalam standar materi serta kaitannya dengan perilaku yang baik dengan perilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi.
5. Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
6. Fungsional, menyajikan materi SKI dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
7. Keteladanan, yaitu menjadikan figure pribadi-pribadi teladan dan sebagai cerminan dari manusia yang memiliki keyakinan tauhid yang teguh dan berprilaku mulia.
F.Penilaian
Untuk mengetahui kompetensi siswa sebagai hasil proses pembelajaran SKI, perlu dilakukan penilaian dengan rambu-rambu sebagai berikut:
1. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian kemajuan belajar dan penilaian hasil belajar siswa.
2. Penilaian kemajuan belajar. Merupakan pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan dasar yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam kurun waktu, unit satuan atau jenjang tertentu.
3. Penilaian hasil belajar SKI adalah upaya pengumpulan informasi untuk menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap suatu kompetensi meliputi: pengetahuan, sikap, dan nilai. Penilaian hasil belajar ini dilakukan sepenuhnya oleh madrasah yang bersangkutan.Hasil penilaian dijadikan sebagai pertimbangan utama dalam memasuki pendidikan jenjang berikutnya.
4. Penilaian hasil belajar PAI SKI secara nasional dilakukan oleh Departerrien Agama Pusat dengan mengacu kepada kompetensi dasar, hasil belajar, materi standar, dan indikator yang telah ditetapkan di dalamKurikulumNasional PAI SKI. Penilaian tingkat nasional berfungsi untuk memperoleh informasi dan data tentang mutu hasil penyelenggaraan mata pelajaran PAI SKI.
5. Alat-alat dan format penilaian hendaknya dapat mengukur dengan tepat kemampuan dan usaha belajar siswa.
6. Penilaian dilakukan melalui bentuk tes dan non tes
7. Pengukuran terhadap ranah afektif dapat dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes seperti skala penilaian, observasidanwawancara, sementara terhadap ranah psikomotorik dengan tes perbuatan dengan menggunakan lembar pengamatan.
B. SYLABUS PAI SKI MA
1. Kelas XII semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memahami keteladanan dakwah Rasulullah dalam membina umat
a. Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dan Madinah.
b. Mendeskripsikan subtansi dan strategi dakwah rasulullah pada periode Makkah dan Madinah.
c. Mengidentifikasi hasil-hasil perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwah.
d. Mengambil ibrah dari perjuangan
e. dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dan Madinah untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang.
2. Memahami masalah kepemimpinan umat islam pasca nabi wafat. a. Menceritakan proses dan model pemilihan kepemimpinan pada masa Khulafaurrasyidiin
b. Mendeskripsikan kepemimpinan pada masa Khulafaurrasyidiin
c. Mengambil ibrah dari kepemimpinan Khulafaurrasyidiin untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang
3. Memahami perkembangan Islam (zaman keemasan) pada tahun 650M-1250 a. Menjelaskan perkembangan Islam pada periode klasik
b. Mengidentifikasikan peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
c. Mengambil ibrah dari perkembangan Islam pada periode klasik untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang
d. Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
4. Memahami perkembangan Islam pada periode pertengahan / zaman kemunduran (1250 M-1800 M) a. Menjelaskan perkembangen Islam pada abad pertengahan
b. Menceritakan sebab-sebab kemunduran islam pada abad pertengahan
c. Mengambil ibrah dari perkembangan Islam pada periode pertengahan untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang
2. Kelas XII semester II
NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN
1 Mengkaji sejarah islam di andalusia - Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung masuknya islam ke andalusia
- Menjelaskan proses masuknya islam di andalusia
- Mengambil ibrah dari masuknya islam di andalusia (spanyol)
- Menunjukkan peta wilayah kekuasaan dinasti umayyah II.
- Menyebutkan peninggalan bersejarah dinasti umayyah II.
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai dibidang sosial budaya.
- Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemunduran dan kehancuranperadaban islam di Andalusia
- Menggali hikmah keruntuhan dinasti Umayyah II
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Muwahidun
- Menyebutkan ilmuwan,filosof dan ulama pada dinasti muwahidun
- Mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Bani Ahmar
- Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemunduran Dinasti Bani Ahmar
- Menyebutkan peninggalan bersejarah bani Ahmar
- Mengambil hikmah dari keruntuhan bani Ahmar
2 Mengkaji pemikiran dan gerakan modernisasi dunia islam - Menjelaskan keadaan dunia islam saat kedatangan penjajah
- Menyebutkan motivasi dan tujuan bangsa barat menjajah negara islam
- Menyebutkan beberapa wilayah yang dikuasai bangsa barat
- Menjelaskan dampak penajajhan bangsa barat atas dunia islam dalam bidang politik dan ekonomi
- Menjelaskan dampak penajajhan bangsa barat atas dunia islam dalam bidang ilmu pengetahuan
- Menjelaskan secara singkat biografi Muhammad Abd Wahab
- Menjelaskan gerakan bidang akidah dan syariah Muhammad Abd Wahab
- Menilai pemikiran Muhammad Abd Wahab
- Menceritakan secara singkat biografi jamaluddin al afghani
- Menjelaskan peranan jamaluddin al afghani
- Menjelaskan konsep khilafah al Afgani
- Membandingkan konsep khilafah dengan negara modern
- Menjelaskan peranannya di urwatul wutsqa
- Meneladani sikap intelektual dan ant imperialisme al afghani
- Menceritakan secara singkat biografi muhammad abduh
- Menjelaskan peranan muhammad abduh di bidang politik
- Menjelaskan konsep khilafah muhammad abduh
- Menilai pemikiran pembaharuan muhammad abduh
- Menceritakan secara singkat biografi rasyid ridha
- Menjelaskan peranan rasyid ridha dalam pengembangan pemikiran muhammad abduh
- Menyebukan nama tafsir yang ditulis oleh rasyid ridha
- Menilai pemikiran pembaharuan rasyid ridha
- Menceritakan secara singkat biografi rasyid ridha
- Menjelaskan peranan kamal attaturk di politik
- Menjelaskan konsep sekelarisme attaturk
- Menjelaskan reaksi ulama atas ide sekulerisme
- Mengambil hikmah dari sekulerisme di turki
- Menceritakan secara singkat biografi muhammad iqbal
- Menjelaskan ide dasar pemikiran muhammad iqbal tentang dinamisme islam dan filsafat diri
- Meneladani sikap intelektual dan nasionalisme iqbal
3 Memahami perkembangan islam di indonesia - Menjelaskan waktu masuknya islam ke indonesia
- Menjelaskan proses penyebaran islam di indonesia
- Menjelaskan pengaruh islam terhadap peradaban bangsa indonesia
- Menyebutkan kerajaan islam di indonesia
- Menjelaskan peranan samudra pasai dalam penyebaran islam di indonesia
- Menjelaskan peranan kerajaan demak dalam islamisasi jawa
- Menyebutkan peninggalan kerajaan islam
- Mengambil ibrah keberadaan kerajaan islam di indonesia
- Menyebutkan nama-nama ulama di indonesia
- Menjelaskan peranan ulama awal dalam penyebaran islam di indonesia
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para ulama
- Menyebutkan nama-nama walisongo
- Menjelaskan peranan walisongo dalam pengembangan islam di indonesia
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para walisongo
4 Mengkaji pembaharuan islam di indonesia - Menjelaskan sejarah berdirinya muhammadiyah
- Menjelaskan ide dasar KH.Ahmad Dahlan
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman serta kepedulian sosialnya
- Menjelaskan sejarah berdirinya NU
- Menjelaskan ide dasar KH.Hasyim As’ary
- Menjelaskan peranan KH.Hasyim As’ary dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan
- Meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman As’ary
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan Hasil Analisis
Jika kita analisa dari nilai filosofis yang terkandung dalam asas-asas penyusunan kurikulum, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah tersebut:
1. Telah sesuai antara tujuan dan ruang lingkup pencapaian tujuan materi pendidikan islam – sejarah kebudayaan islam.
2. Telah sesuai antara tujuan pencapaian pendidikan agama islam dengan taraf kemampuan siswa islam.
3. Tidak adanya kecacatan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di lapangan.
Namun, jika dianalisis lebih lanjut, kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah ini memiliki beberapa kekurangan,antara lain:
1. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih bersifat tradisional, masih belum menyentuh aspek rasional.
2. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih disajikan dengan mementingkan memori saja
3. Materi sejarah kebudayaan islam yang diberikan ini masih belum memperhatikan minat dan kebutuhan individu dan sosial.
Senin, 21 Februari 2011
CTL
PEMBAHASAN
A. Urgensi CTL dalam pendidikan Agama Islam
1. Sejauh ini, pembelajaran PAI hanya berpusat pada guru dengan melalui metode ceramah dan hafalan saja bagi siswa. Sehingga siswa cenderung bosan karena hanya dijadikan sebagai objek dalam belajar . Dan jika ini terus berlanjut maka akibatnya adalah tujuan pembelajaran PAI tidak akan tercapai secara penuh. Padahal PAI merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang harus dipelajari siswa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak yang mulia sebagaimana tujuan yang diharapkan dalam tujuan nasional .
2. Dalam kurikulum 2004, setiap pembelajaran diharuskan untuk mencakup tiga ranah , yakni kognitif, Psikomotor dan Afektif. Olehkarenanya diperlukan pendekatan yang tepat untuk mencakup ketiga ranah tersebut.
B. Pengertian Pendekatan Contextual Teaching Learning
Ada beberapa defenisi mengenai CTL ,antaralain :
1. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).
2. Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya :
1. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
2. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
3. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi segala bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
C. Karakteristik CTL
Ada lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL , yaitu sebagai berikut:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.
D. Peranan Guru Dalam Pembelajaran CTL
Peranan guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya yaitu, guru berperan dalam mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered.
Menurut Depdiknas, guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa .
2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.
5) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya.
Dalam pengajaran kontekstual , guru memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu:
1. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman, bukan hanya sekedar hapalan.
E. Komponen-komponen CTL
Ada beberapa komponen pembelajaran CTL yang harus kita ketahui antara lain meliputi :
1. Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu..
2. Menemukan (Inquiry), Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri.
3. Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
4. Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan.
5. Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model , model lain dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
6. Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
7. Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa
F. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CTL
Menurut Zahorik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CTL,antaralain :
Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
Pembelajaran dimulai dari keseluruhan ( global ) menuju bagian-bagiannya secara khusus
Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman,yakni dengan cara:
a. Menyusun konsep
b. Melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan oranglain
c. Merevisi dan mengembangkan konsep
Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
G. CTL DALAM PEMBELAJARAN PAI
Ada beberapa hal yang perlu diketahui guru PAI untuk mengimplementasikan pendekatan CTL dalam pembelajaran PAI, antaralain:
1. CTL adalah pembelajaran berbasis masalah, oleh karena itu, guru harus:
a. Mengobservasi suatu fenomena, misalnya:
1. Menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia ilahi, alam akhirat, dll.
2. Melihat pelaksanaan shalat, puasa, zakat,qurban atau menyantuni fakir miskin
b. Memerintahkan siswa untuk mencatat permasalahan yang muncul
c. Merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada
d. Guru memotivasi siswa agar mereka berani bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat-pendapat yang berbeda.
2. CTL adalah pendekatan yang memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar.
Adapun dalam pembelajaran PAI, guru dapat melakukan penugasan kepada siswa diluar kelas. Misalnya, mengikuti shalat berjamaah, shalat jum’at, mmelihat ibadah qurban dan berkunjung ke pesantren,dll.
3. CTL dapat Memberi aktivitas kelompok
Dalam aktivitas kelompok ini, pembelajaran PAI dapat mendatangkan ahli kekelas, atau bekerja sama dengan kelas lain yang sederajat maupun tidak.
4. CTL dapat membuat aktivitas belajar mandiri
5. Pendekatan CTL harus menyusun refleksi, misalnya merenungkan kembali pengalaman yang baru dipelajari, misalnya pengalaman shalat berjamaah.
A. Urgensi CTL dalam pendidikan Agama Islam
1. Sejauh ini, pembelajaran PAI hanya berpusat pada guru dengan melalui metode ceramah dan hafalan saja bagi siswa. Sehingga siswa cenderung bosan karena hanya dijadikan sebagai objek dalam belajar . Dan jika ini terus berlanjut maka akibatnya adalah tujuan pembelajaran PAI tidak akan tercapai secara penuh. Padahal PAI merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang harus dipelajari siswa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak yang mulia sebagaimana tujuan yang diharapkan dalam tujuan nasional .
2. Dalam kurikulum 2004, setiap pembelajaran diharuskan untuk mencakup tiga ranah , yakni kognitif, Psikomotor dan Afektif. Olehkarenanya diperlukan pendekatan yang tepat untuk mencakup ketiga ranah tersebut.
B. Pengertian Pendekatan Contextual Teaching Learning
Ada beberapa defenisi mengenai CTL ,antaralain :
1. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).
2. Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya :
1. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
2. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
3. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi segala bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
C. Karakteristik CTL
Ada lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL , yaitu sebagai berikut:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.
D. Peranan Guru Dalam Pembelajaran CTL
Peranan guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya yaitu, guru berperan dalam mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered.
Menurut Depdiknas, guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa .
2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.
5) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya.
Dalam pengajaran kontekstual , guru memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu:
1. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman, bukan hanya sekedar hapalan.
E. Komponen-komponen CTL
Ada beberapa komponen pembelajaran CTL yang harus kita ketahui antara lain meliputi :
1. Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu..
2. Menemukan (Inquiry), Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri.
3. Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
4. Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan.
5. Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model , model lain dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
6. Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
7. Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa
F. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CTL
Menurut Zahorik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CTL,antaralain :
Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
Pembelajaran dimulai dari keseluruhan ( global ) menuju bagian-bagiannya secara khusus
Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman,yakni dengan cara:
a. Menyusun konsep
b. Melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan oranglain
c. Merevisi dan mengembangkan konsep
Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
G. CTL DALAM PEMBELAJARAN PAI
Ada beberapa hal yang perlu diketahui guru PAI untuk mengimplementasikan pendekatan CTL dalam pembelajaran PAI, antaralain:
1. CTL adalah pembelajaran berbasis masalah, oleh karena itu, guru harus:
a. Mengobservasi suatu fenomena, misalnya:
1. Menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia ilahi, alam akhirat, dll.
2. Melihat pelaksanaan shalat, puasa, zakat,qurban atau menyantuni fakir miskin
b. Memerintahkan siswa untuk mencatat permasalahan yang muncul
c. Merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada
d. Guru memotivasi siswa agar mereka berani bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat-pendapat yang berbeda.
2. CTL adalah pendekatan yang memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar.
Adapun dalam pembelajaran PAI, guru dapat melakukan penugasan kepada siswa diluar kelas. Misalnya, mengikuti shalat berjamaah, shalat jum’at, mmelihat ibadah qurban dan berkunjung ke pesantren,dll.
3. CTL dapat Memberi aktivitas kelompok
Dalam aktivitas kelompok ini, pembelajaran PAI dapat mendatangkan ahli kekelas, atau bekerja sama dengan kelas lain yang sederajat maupun tidak.
4. CTL dapat membuat aktivitas belajar mandiri
5. Pendekatan CTL harus menyusun refleksi, misalnya merenungkan kembali pengalaman yang baru dipelajari, misalnya pengalaman shalat berjamaah.
Minggu, 30 Januari 2011
QUANTUM TEACHING
BAB I
PENDAHULUAN
Agar tercapainya tujuan pendidikan, peran seorang guru amatlah mempengaruhi. Penguasaan terhadap metodologi pengajaran merupakan salah satu persyaratan bagi seorang pendidik yang profesional. Berbagai pakar pendidik seperti Mahmud Yunus pernah mengatakan bahwa penguasaan terhadap metodologi pengajaran jauh lebih penting daripada pemberian materi pelajaran. Pendapatnya ini berdasarkan hasil penelitiannya terhadap lulusan pesantren bahwa dari seratus lulusan pendidikan pesantren ternyata yang jadi kiyai hanya satu orang.Lulusan pesantern yang telah menghabiskan waktu yang cukup lama memang diakui menguasai secara baik dan mendalam terhadap berbagai teori tata bahasa, ilmu nahu dan lain-lain. Namun semua teori kebahasaan yang dikuasai santri itu tidak disertai dengan kemampuan menggunakan berbagai teori tersebut dalam menulis dalam bahasa Arab secara lancar dan benar. Dengan demikian, berbagai ilmunya itu tidak fungsional dan tidak dapat menolong dirinya dalam menjawab berbagai masalah komunikasi dan lainnya.Sehingga berbagai pengetahuannya hanya berfungsi untuk memahami teks Arab.
Alumni pendidikan pesantren berbeda dengan alumni Gontor ponorogo. Alumni darri lembaga ini selain menguasai tata bahasa Arab dengan baik, juga menguasai cara menggunakannya dalam tulisan dan percakapan dengan baik sehingga bahasa Arab yang digunakan dapat membantu mereka memperlancar berkomunikasi dan dapat membangun rasa percaya diri.
Perbedaan lulusan pendidikan pesantren dengan lulusan pondok modern Gontor dalam menguasai bahasa Arab karena perbedaan penggunaan metode. Di pesantren pengajaran bahasa Arab diadakan terpisah-pisah anatara satu dan yang lainnya. Sehingga mengakibatkan mereka tidak dapat menggunakan bahasa Arab dengan baik secara lisan maupun tulisan.
Dari contoh di atas bahwa perbedaan penggunaan metode dalam pengajaran sangat terhadap hasil pendidikan. Kini saatnya, dunia pendidikan Islam berupaya menggunakan metode pengajaran yang lebih mampu menghasilkan lulusan yang terbina secara seimbang antara perkembangan intelektual dan kecerdasan emosional, serta keterampilan dan fisik yang sehat, sehingga terwujudlah generasi rabbani sebagai khalifah dan imarotul ardhi.
Dalam makalah ini penulis mencoba mengkaji tentang quantum teaching dalam persfektif pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
QUANTUM TEACHING DALAM PERSFEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
A. Karakteristik Quantum Teaching
Sebelum menelaah Quantum Teaching dalam persfektif pendidikan Islam, maka terlebih dahulu harus memahami apa dan bagaimana karakteristik Quantum Teaching itu sendiri?
Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan , penyajian dan fasilitas supercamp. Diciptakan berdasarkan teori-teori Eccelerated Learning (Lozanov), Multiple Inteligence (Gardner), Neuro-Liungistic Programming (Ginder dan Bandler), Experiental Learning, (Hahn) dan Element of Effective Intruction (Hunter).
QuantumTeachingberusaha mengubah suasana belajar yang monoton dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa menjadi suatu kesatuan kekuatan yang integral.QuantumTeaching berisi prinsip-prinsip sistem perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progresif berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit. Dalam prakteknya, model pembelajaran ini bersandar pada asas utama bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkanlah dunia kita ke dunia mereka. Pembelajaran, dengan demikian merupakan kegiatan full content yang melibatkan semua aspek kepribadian siswa (pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh) di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya, serta persepsi masa mendatang. Semua ini harus dikelola sebaik-baiknya, diselaraskan hingga mencapai harmoni (diorkestrasi).
Desain pembelajaran QuantumTeaching bisa terimplementasikan secara menarik dan menyenangkan apabila sejumlah syarat berikut ini terpenuhi, di antaranya:
1) Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum)
2) Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan: “learning is most effective when it’s fun”. “Kegembiraan” berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik.
3) Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan
4) Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya.
5) Sikap guru kepada peserta didik (pengarahan “Apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan
B. Quantum Teaching dalam Pendidikan Islam
Secara eksplisit dalam ilmu pendidikan islam belum dijumpai rumusan teori pengajaran yang mirip dengan Quantum Teaching. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat ilmu pendidikan islam terlambat perkembangannya dibandingkan dengan ilmu-ilmu ke-islaman lainnya seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, hadits dan sebagainya. Namun demikian ini tidak berarti bahwa prinsip-prinsip quantum teaching dan langkah-langkannya secara umum tidak ada dalam islam. Diyakini bahwa islam sebagai agama universal sangat peduli terhadap pemberdayaan manusia secara menyeluruh melalui pendidikan. Didalam al-Quran dan hadits banyak sekali dijumpai ayat-ayat dan matan-matan hadits yang berkaitan dengan motivasi pemberdayaan manusia.
Motivasi yang demikian itu telah pula ditunjukkan dalam sejarah di abad klasik dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-13, yaitu massa kejayaan islam yang ditandai oleh munculnya sejumlah ilmuwan ensiklopedik yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu-ilmu umum, seperti matematika,fisika, astronomi, geologi, kedokteran, optika, dan lain sebagainya. Keadaan demikian tidak mungkin terjadi jika tidak ada system pendidikan dan metodologi pengajaran yang beroprasi didalamnya. Namun sayangnya, penelitian terhadap berbagai pemikiran pendidikan islam yang dikemukakan para muslim belum digali secara sungguh-sungguh.
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa didalam quantum teaching terdapat lima prinsip, yaitu: 1) segalanya berbicara, 2) segalanya bertujuan, 3) pengalaman sebelum pemberian nama, 4) akui setiap usaha, dan 5) rayakan jika layak dirayakan. Kelima prinsip yang terdapat dalam quantum teaching terdapat pula dalam ajaran islam. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Bahwa prinsip segala sesuatu itu berbicara sebagaimana yang terdapat dalam quantum teaching juga ada dalam islam. Menurut islam bahwa segala sesuatu memiliki jiwa atau personalitas. Air, udara, tanah, gunung, tumbuh-tumbuhan,binatang, manusia dan lain sebagainya memiliki jiwa dan personalitas. Oleh karenanya semua itu harus diperlakukan secara baik dan diberikan hak hidupnya. Mereka harus dirawat, disayang, dipelihara dan seterusnya, sehingga semuanya itu bersahabat dan memberi manfaat bagi manusia. Berkenaan dengan ini kita jumpai ayat al-Quran:
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat langit, bumi dan gunung-gumumg, maka semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”( Q.S. Al-Ahzab, 33 : 72).
Ayat ini menunjukkan adanya pengakuan tehadap eksistensi makhluk lainnya selain manusia.
2) Bahwa prinsip yang ada dalam Quantum Teaching, yaitu bahwa segalanya bertujuan adalah juga ada dalam ajaran islam. Di dalam al-quran terdapat ayat yang artinya :
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran, 3 : 191).
Ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang sikap orang-orang yang berakal yang mampu meneliti segala ciptaan Tuhan yang ada dilangit dan dibumi serta dalam pergantian waktu siang dan malam. Dengan berpegang pada prinsip ini, maka seorang yang berakal akan selalu meneliti rahasia, manfaat, hikmah yang terkandung dalam semua ciptaan Tuhan sehingga menemukan berbagai teori dibidang ilmu pengetahuan (sains), juga semakin membawa dirinya dekat dengan Tuhan. Atas dasar ini, maka seluruh ciptaan Tuhan harus digunakan sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan.
3) Bahwa prinsip memberikan pengalaman sebelum pemberian nama sebagaimana terdapat dalam quantum teaching, juga sejalan dengan prinsip yang ada dalam ajaran islam. Dalam ajaran islam seseorang terlebih dahulu disuruh percaya kepada Allah, mengucapkan dua kalimah syahadat, melaksanakan shalat, membaca al-Quran dan mempraktekkan ajaran islam lainnya. Laksanakan dahulu semuanya itu, baru kemudian bertanya mengapa semuanya itu harus dilakukan. Dalam contoh mengajarkan al-Quran, Nabi Muhammad SAW langsung disuruh membaca ayat yang dibawa oleh jibril atas perintah Allah, yaitu surat al-Alaq ayat 1 sampai dengan ayat 5.
Setelah itu baru Nabi memahami ayat-ayat tersebut.Dalam kaitan ini maka metode mengajar membaca al-Quran hendaknya dimulai langsung anak-anak mengulangi dan menirukan lafal ayat-ayat yang dibacakan oleh guru, dengan bacaan yang benar dan baik.Setelah itu baru diberikan penjelasan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai oleh si anak lebih mantap dalam pengajaran, dari pada lebih dahulu mengemukakan teori yang sulit-sulit baru kemudian mempraktekkannya.
4) Bahwa prinsip yang terdapat dalam quantum teaching yaitu akui setiap usaha juga sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam ajaran islam. Didalam ajaran islam terdapat predikat yang diberikan kepada seseorang yang dasarkan pada usahanya.
Misalnya, bagi orang yang mempercayai rukun iman dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya disebut mukmin. Bagi yang melaksanakan ajaran islam disebut muslim. Untuk orang yang bertaqwa disebut muttaqin.Bagi orang yang berbuat baik disebut muhsini dan seterusnya.Berbagai predikat yang demikian itu menunjukkannya.
Dengan cara demikian, maka eksistensi, usaha kepada kepuasan psikologis yang pada gilirannya akan menimbulkan etos kerja yang semakin meningkat.
5) Bahwa prinsip rayakan jika layak dirayakan sebagaimana terdapat dalam quantum teaching juga terdapat dalam ajaran islam. Prinsip ini sejalan dengan adanya berbagai upacara tradisi yang ada dalam islam, seperti tradisi pemberian nama yang baik pada anak, menyembelih hewan aqiqah untuknya dan menikahkannya jika sudah dewasa, adalah merupakan upaya perayaan yang didalamnya mengandung unsur pengakuan terhadap keberadaan seseorang ditengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya langkah-langkah dalam Quantum Teaching yang mampu menggairahkan suasana belajar mengajar yang terdapat dalam istilah tandur sebagaimana telah dijelaskan di atas juga sejalan dengan ajaran islam. Langkah –langkahynayaitu :
1) Tumbuhkan minat. Hal ini sejalan dengan adanya niat dan tujuan yang harus ditanamkan sebelum melakukan suatu pekerjaan, yaitu niat ikhlas semata-mata karena Allah. ( Lihat Q.S. Al-Bayyinah, 98 : 5).
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
2) Alami, yaitu memberikan pengalaman pada seseorang untuk melakukan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan pendidikan akhlak dan sopan santun yang harus dilakukan dengan membiasakan, seperti membiasakan berkata yang baik, menghormati kedua orang tua, mengerjakan shalat, menolong orang lain dan seterusnya.
3) Namai, yaitu berikan identitas atau nama bagi sesuatu yang ditemukan. Hal ini sejalan dengan apa yang di ajarkan Tuhan kepada Nabi Adam mengenai nama-nama yang ada di alam ini, setelah Nabi Adam mengalaminya. (Lihat Q.AS. Al-Baqarah. 2 : 31).
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"
4) Mendemonstrasikan, yakni menunjukkan apa yang telah dihasilkan. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan Nabi Adam dihadapan para Malaikat, ketika ia diminta oleh Tuhan untuk mendemontrasikan hasil didikan-Nya dihadapan para Malaikat. (Lihat Q.S. al-Baqarah, 2:32).
قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
5) Ulangi, yakni tunjukkan apa yang telah diajarkan oleh guru agar betul-betul terlihat hasilnya dan lebih mantap. Hal ini sejalan dengan ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang sesuatu yang diulang-ulang dalam, berbagai tempat dengan tujuan agar lebih mantap.
6) Rayakan, yakni berikan pengakuan. Hal ini sejalan dengan prinsip pemberian predikat kepada orang-orang sesuai dengan usahanya, sebagaimana telah dijelaskan diatas .
C. Quantum Teaching dalam Pendidikan di Madrasah /Pondok Pesantren
Sebagaimana telah dipahami bahwa Quantum Teaching bertujuan mencetak peserta didik yang tidak hanya memiliki keterampilan akademis tetapi juga memiliki keterampilan hidup.Maka metode Quantum Teaching ini sangat tepat jika diterapkan dalam system pendidikan madrasah dalam rangka mencapai loncatan kualitas siswa/santri. Jika dilihat dari segi lingkungan bahwa pendidikan pesantren yang berada dalam satu komplek, dimana siswa belajar dan tinggal tidak terpisah dari lingkungan sekolah maka akan sangat kondusif jika diterapkan metode Quantum Teaching dalam system pendidikannya. Pesantren selama ini dikenal dengan system yang sangat kaku,monoton dan kurang memberikan kebebasan pada siswa berargumentasi sehingga kualitas lulusan yang dihasilkan tidak dapat bersaing dalam kehidupan karena penguasaan ilmu tidak diiringi pengembangan potensi dan kreativitas para santri.
Dengan demikian menerapkan metode Quantum Teaching akan merubah pola pembelajaran sehingga membuat santri lebih terrkesan dan menyenangkan. Maka pendidikan akan menghasilkan lulusan yang bermutu dan berkualitas. Quantum teaching merupakan metode yang menawarkan sebuah proses pembelajaran yang mengubah bermacam-macam intraksi yang ada di dalam dan di sekitar momen santri/siswa .yang mana interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar efektif yang mempengaruhi keberhasilan dan mengembangkan bakat mereka. Seperti dilihat dalam menata konteks “segalanya berbicara” .setiap detail menggambarkan sesuatu tentang diri dan sikap terhadap belajar mengajar. Lingkungan kelas dan lingkungan pesantren bertaburan isyarat dan secara sadar atau tidak santri mengikuti syarat-syarat tersebut seehingga semua isyarat itu mewarnai pengharapan siswa dan pada akhirnya membangun pengalaman belajar santri.
D. Quantum Teaching dalam Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
Dalam pelaksanaan Pendidikan Islam baik di Pesantren, Sekolah Islam maupun sekolah umum, tujuan utamanya adalah membentuk pribadi muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, memiliki etos kerja di masyarakat. Namun jika dilihat Pendidikan Agama Islam di sekolah umum hanya sekedar melengkapi standar kurikulum saja. Pengalaman belajar siswa dalam bidang studi PAI ini tidak memadai untuk mencapai tujuan pendidikan islam. Hal ini karena beberapa factor yaitu sedikitnya waktu dan kurang menariknya pelajaran ini bagi siswa. Untuk itu usaha sadar yang dilakukan guru pendidikan Agama Islam adalah menerapkan metode Quantum Teaching yang mana dengan prinsip-prinsip dalam quantum teaching tersebut akan merubah segalanya ke arah yang lebih baik karena siswa akan senang dan menikmati pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
Dari uraian tentang Quantun Teaching diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
Quantum teaching yang merupakan metode pengajaran mutakhir adalah memadukan dan menyempurnakan metode pengajaran yang telah ada sebelumnya.
Dalam Quantun Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan penciptaan lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan memperoleh suatu penguat (reinforcer) dan akan mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Dalam pembelajaran Quantun Teaching, murid akan lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri. Penerapan pembelajaran Quantun Teaching akan menjadikan interaksi-interaksi yang menggubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka dan orang lain.
.Di dalam Quantun Teaching, proses belajar siswa dimulai/beranjak dari informasi atau sesuatu yang telah ada atau diketahui siswa sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka peajari.
Meskipun secara eksplisit belum ada sarjana Muslim yang mengembangkan metode quantum teaching ini namun dalam dalam al-Qur’an dan Hadits terdapat petunjuk-petunjuk umum yang memungkinkan metode Quantum Teaching tersebut dapat dikembangkan.
Dalam menghasilkan lulusan pendidikan Islam yang terbina seluruh potensinya serta memiliki rasa percaya diri, kreatif,inovatif, kritis dan demokratis, kini sudah saatnya para guru yang mengajar di madrasah-madrasah, sekolah Islam dan Perguruan Tinggi menggunakan metode ini. Dengan demikian maka lulusan pendidikan Islam mampu bersaing dalam era globalisasi yang mulai menerpa seluruh kehidupan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam
DAFTAR PUSTAKA
Yunus, Muhammad, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Yayasan al-Hidayah,1965
Nata, Abuddin Manajemen Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2003
DePorter, Bobbi, dkk, Quantum Teaching, Bandung : Kaifa,2003
Hartono, dkk. PAIKEM, : Pekanbaru : Zanafa, 2008.
Masyhud, Sulthon dan M. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren, Diva Pustaka, Jakarta, 2004
Ismail Thoib, Wacana Baru Pendidikan, Genta Press,Yogyakarta, 2008
Dawan, Ainurrafiq dan Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, Listafariska Putra, 2005
PENDAHULUAN
Agar tercapainya tujuan pendidikan, peran seorang guru amatlah mempengaruhi. Penguasaan terhadap metodologi pengajaran merupakan salah satu persyaratan bagi seorang pendidik yang profesional. Berbagai pakar pendidik seperti Mahmud Yunus pernah mengatakan bahwa penguasaan terhadap metodologi pengajaran jauh lebih penting daripada pemberian materi pelajaran. Pendapatnya ini berdasarkan hasil penelitiannya terhadap lulusan pesantren bahwa dari seratus lulusan pendidikan pesantren ternyata yang jadi kiyai hanya satu orang.Lulusan pesantern yang telah menghabiskan waktu yang cukup lama memang diakui menguasai secara baik dan mendalam terhadap berbagai teori tata bahasa, ilmu nahu dan lain-lain. Namun semua teori kebahasaan yang dikuasai santri itu tidak disertai dengan kemampuan menggunakan berbagai teori tersebut dalam menulis dalam bahasa Arab secara lancar dan benar. Dengan demikian, berbagai ilmunya itu tidak fungsional dan tidak dapat menolong dirinya dalam menjawab berbagai masalah komunikasi dan lainnya.Sehingga berbagai pengetahuannya hanya berfungsi untuk memahami teks Arab.
Alumni pendidikan pesantren berbeda dengan alumni Gontor ponorogo. Alumni darri lembaga ini selain menguasai tata bahasa Arab dengan baik, juga menguasai cara menggunakannya dalam tulisan dan percakapan dengan baik sehingga bahasa Arab yang digunakan dapat membantu mereka memperlancar berkomunikasi dan dapat membangun rasa percaya diri.
Perbedaan lulusan pendidikan pesantren dengan lulusan pondok modern Gontor dalam menguasai bahasa Arab karena perbedaan penggunaan metode. Di pesantren pengajaran bahasa Arab diadakan terpisah-pisah anatara satu dan yang lainnya. Sehingga mengakibatkan mereka tidak dapat menggunakan bahasa Arab dengan baik secara lisan maupun tulisan.
Dari contoh di atas bahwa perbedaan penggunaan metode dalam pengajaran sangat terhadap hasil pendidikan. Kini saatnya, dunia pendidikan Islam berupaya menggunakan metode pengajaran yang lebih mampu menghasilkan lulusan yang terbina secara seimbang antara perkembangan intelektual dan kecerdasan emosional, serta keterampilan dan fisik yang sehat, sehingga terwujudlah generasi rabbani sebagai khalifah dan imarotul ardhi.
Dalam makalah ini penulis mencoba mengkaji tentang quantum teaching dalam persfektif pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
QUANTUM TEACHING DALAM PERSFEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
A. Karakteristik Quantum Teaching
Sebelum menelaah Quantum Teaching dalam persfektif pendidikan Islam, maka terlebih dahulu harus memahami apa dan bagaimana karakteristik Quantum Teaching itu sendiri?
Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan , penyajian dan fasilitas supercamp. Diciptakan berdasarkan teori-teori Eccelerated Learning (Lozanov), Multiple Inteligence (Gardner), Neuro-Liungistic Programming (Ginder dan Bandler), Experiental Learning, (Hahn) dan Element of Effective Intruction (Hunter).
QuantumTeachingberusaha mengubah suasana belajar yang monoton dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa menjadi suatu kesatuan kekuatan yang integral.QuantumTeaching berisi prinsip-prinsip sistem perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progresif berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit. Dalam prakteknya, model pembelajaran ini bersandar pada asas utama bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkanlah dunia kita ke dunia mereka. Pembelajaran, dengan demikian merupakan kegiatan full content yang melibatkan semua aspek kepribadian siswa (pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh) di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya, serta persepsi masa mendatang. Semua ini harus dikelola sebaik-baiknya, diselaraskan hingga mencapai harmoni (diorkestrasi).
Desain pembelajaran QuantumTeaching bisa terimplementasikan secara menarik dan menyenangkan apabila sejumlah syarat berikut ini terpenuhi, di antaranya:
1) Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum)
2) Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan: “learning is most effective when it’s fun”. “Kegembiraan” berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik.
3) Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan
4) Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya.
5) Sikap guru kepada peserta didik (pengarahan “Apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan
B. Quantum Teaching dalam Pendidikan Islam
Secara eksplisit dalam ilmu pendidikan islam belum dijumpai rumusan teori pengajaran yang mirip dengan Quantum Teaching. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat ilmu pendidikan islam terlambat perkembangannya dibandingkan dengan ilmu-ilmu ke-islaman lainnya seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, hadits dan sebagainya. Namun demikian ini tidak berarti bahwa prinsip-prinsip quantum teaching dan langkah-langkannya secara umum tidak ada dalam islam. Diyakini bahwa islam sebagai agama universal sangat peduli terhadap pemberdayaan manusia secara menyeluruh melalui pendidikan. Didalam al-Quran dan hadits banyak sekali dijumpai ayat-ayat dan matan-matan hadits yang berkaitan dengan motivasi pemberdayaan manusia.
Motivasi yang demikian itu telah pula ditunjukkan dalam sejarah di abad klasik dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-13, yaitu massa kejayaan islam yang ditandai oleh munculnya sejumlah ilmuwan ensiklopedik yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu-ilmu umum, seperti matematika,fisika, astronomi, geologi, kedokteran, optika, dan lain sebagainya. Keadaan demikian tidak mungkin terjadi jika tidak ada system pendidikan dan metodologi pengajaran yang beroprasi didalamnya. Namun sayangnya, penelitian terhadap berbagai pemikiran pendidikan islam yang dikemukakan para muslim belum digali secara sungguh-sungguh.
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa didalam quantum teaching terdapat lima prinsip, yaitu: 1) segalanya berbicara, 2) segalanya bertujuan, 3) pengalaman sebelum pemberian nama, 4) akui setiap usaha, dan 5) rayakan jika layak dirayakan. Kelima prinsip yang terdapat dalam quantum teaching terdapat pula dalam ajaran islam. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Bahwa prinsip segala sesuatu itu berbicara sebagaimana yang terdapat dalam quantum teaching juga ada dalam islam. Menurut islam bahwa segala sesuatu memiliki jiwa atau personalitas. Air, udara, tanah, gunung, tumbuh-tumbuhan,binatang, manusia dan lain sebagainya memiliki jiwa dan personalitas. Oleh karenanya semua itu harus diperlakukan secara baik dan diberikan hak hidupnya. Mereka harus dirawat, disayang, dipelihara dan seterusnya, sehingga semuanya itu bersahabat dan memberi manfaat bagi manusia. Berkenaan dengan ini kita jumpai ayat al-Quran:
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat langit, bumi dan gunung-gumumg, maka semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”( Q.S. Al-Ahzab, 33 : 72).
Ayat ini menunjukkan adanya pengakuan tehadap eksistensi makhluk lainnya selain manusia.
2) Bahwa prinsip yang ada dalam Quantum Teaching, yaitu bahwa segalanya bertujuan adalah juga ada dalam ajaran islam. Di dalam al-quran terdapat ayat yang artinya :
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran, 3 : 191).
Ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang sikap orang-orang yang berakal yang mampu meneliti segala ciptaan Tuhan yang ada dilangit dan dibumi serta dalam pergantian waktu siang dan malam. Dengan berpegang pada prinsip ini, maka seorang yang berakal akan selalu meneliti rahasia, manfaat, hikmah yang terkandung dalam semua ciptaan Tuhan sehingga menemukan berbagai teori dibidang ilmu pengetahuan (sains), juga semakin membawa dirinya dekat dengan Tuhan. Atas dasar ini, maka seluruh ciptaan Tuhan harus digunakan sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan.
3) Bahwa prinsip memberikan pengalaman sebelum pemberian nama sebagaimana terdapat dalam quantum teaching, juga sejalan dengan prinsip yang ada dalam ajaran islam. Dalam ajaran islam seseorang terlebih dahulu disuruh percaya kepada Allah, mengucapkan dua kalimah syahadat, melaksanakan shalat, membaca al-Quran dan mempraktekkan ajaran islam lainnya. Laksanakan dahulu semuanya itu, baru kemudian bertanya mengapa semuanya itu harus dilakukan. Dalam contoh mengajarkan al-Quran, Nabi Muhammad SAW langsung disuruh membaca ayat yang dibawa oleh jibril atas perintah Allah, yaitu surat al-Alaq ayat 1 sampai dengan ayat 5.
Setelah itu baru Nabi memahami ayat-ayat tersebut.Dalam kaitan ini maka metode mengajar membaca al-Quran hendaknya dimulai langsung anak-anak mengulangi dan menirukan lafal ayat-ayat yang dibacakan oleh guru, dengan bacaan yang benar dan baik.Setelah itu baru diberikan penjelasan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai oleh si anak lebih mantap dalam pengajaran, dari pada lebih dahulu mengemukakan teori yang sulit-sulit baru kemudian mempraktekkannya.
4) Bahwa prinsip yang terdapat dalam quantum teaching yaitu akui setiap usaha juga sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam ajaran islam. Didalam ajaran islam terdapat predikat yang diberikan kepada seseorang yang dasarkan pada usahanya.
Misalnya, bagi orang yang mempercayai rukun iman dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya disebut mukmin. Bagi yang melaksanakan ajaran islam disebut muslim. Untuk orang yang bertaqwa disebut muttaqin.Bagi orang yang berbuat baik disebut muhsini dan seterusnya.Berbagai predikat yang demikian itu menunjukkannya.
Dengan cara demikian, maka eksistensi, usaha kepada kepuasan psikologis yang pada gilirannya akan menimbulkan etos kerja yang semakin meningkat.
5) Bahwa prinsip rayakan jika layak dirayakan sebagaimana terdapat dalam quantum teaching juga terdapat dalam ajaran islam. Prinsip ini sejalan dengan adanya berbagai upacara tradisi yang ada dalam islam, seperti tradisi pemberian nama yang baik pada anak, menyembelih hewan aqiqah untuknya dan menikahkannya jika sudah dewasa, adalah merupakan upaya perayaan yang didalamnya mengandung unsur pengakuan terhadap keberadaan seseorang ditengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya langkah-langkah dalam Quantum Teaching yang mampu menggairahkan suasana belajar mengajar yang terdapat dalam istilah tandur sebagaimana telah dijelaskan di atas juga sejalan dengan ajaran islam. Langkah –langkahynayaitu :
1) Tumbuhkan minat. Hal ini sejalan dengan adanya niat dan tujuan yang harus ditanamkan sebelum melakukan suatu pekerjaan, yaitu niat ikhlas semata-mata karena Allah. ( Lihat Q.S. Al-Bayyinah, 98 : 5).
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
2) Alami, yaitu memberikan pengalaman pada seseorang untuk melakukan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan pendidikan akhlak dan sopan santun yang harus dilakukan dengan membiasakan, seperti membiasakan berkata yang baik, menghormati kedua orang tua, mengerjakan shalat, menolong orang lain dan seterusnya.
3) Namai, yaitu berikan identitas atau nama bagi sesuatu yang ditemukan. Hal ini sejalan dengan apa yang di ajarkan Tuhan kepada Nabi Adam mengenai nama-nama yang ada di alam ini, setelah Nabi Adam mengalaminya. (Lihat Q.AS. Al-Baqarah. 2 : 31).
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"
4) Mendemonstrasikan, yakni menunjukkan apa yang telah dihasilkan. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan Nabi Adam dihadapan para Malaikat, ketika ia diminta oleh Tuhan untuk mendemontrasikan hasil didikan-Nya dihadapan para Malaikat. (Lihat Q.S. al-Baqarah, 2:32).
قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
5) Ulangi, yakni tunjukkan apa yang telah diajarkan oleh guru agar betul-betul terlihat hasilnya dan lebih mantap. Hal ini sejalan dengan ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang sesuatu yang diulang-ulang dalam, berbagai tempat dengan tujuan agar lebih mantap.
6) Rayakan, yakni berikan pengakuan. Hal ini sejalan dengan prinsip pemberian predikat kepada orang-orang sesuai dengan usahanya, sebagaimana telah dijelaskan diatas .
C. Quantum Teaching dalam Pendidikan di Madrasah /Pondok Pesantren
Sebagaimana telah dipahami bahwa Quantum Teaching bertujuan mencetak peserta didik yang tidak hanya memiliki keterampilan akademis tetapi juga memiliki keterampilan hidup.Maka metode Quantum Teaching ini sangat tepat jika diterapkan dalam system pendidikan madrasah dalam rangka mencapai loncatan kualitas siswa/santri. Jika dilihat dari segi lingkungan bahwa pendidikan pesantren yang berada dalam satu komplek, dimana siswa belajar dan tinggal tidak terpisah dari lingkungan sekolah maka akan sangat kondusif jika diterapkan metode Quantum Teaching dalam system pendidikannya. Pesantren selama ini dikenal dengan system yang sangat kaku,monoton dan kurang memberikan kebebasan pada siswa berargumentasi sehingga kualitas lulusan yang dihasilkan tidak dapat bersaing dalam kehidupan karena penguasaan ilmu tidak diiringi pengembangan potensi dan kreativitas para santri.
Dengan demikian menerapkan metode Quantum Teaching akan merubah pola pembelajaran sehingga membuat santri lebih terrkesan dan menyenangkan. Maka pendidikan akan menghasilkan lulusan yang bermutu dan berkualitas. Quantum teaching merupakan metode yang menawarkan sebuah proses pembelajaran yang mengubah bermacam-macam intraksi yang ada di dalam dan di sekitar momen santri/siswa .yang mana interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar efektif yang mempengaruhi keberhasilan dan mengembangkan bakat mereka. Seperti dilihat dalam menata konteks “segalanya berbicara” .setiap detail menggambarkan sesuatu tentang diri dan sikap terhadap belajar mengajar. Lingkungan kelas dan lingkungan pesantren bertaburan isyarat dan secara sadar atau tidak santri mengikuti syarat-syarat tersebut seehingga semua isyarat itu mewarnai pengharapan siswa dan pada akhirnya membangun pengalaman belajar santri.
D. Quantum Teaching dalam Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
Dalam pelaksanaan Pendidikan Islam baik di Pesantren, Sekolah Islam maupun sekolah umum, tujuan utamanya adalah membentuk pribadi muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, memiliki etos kerja di masyarakat. Namun jika dilihat Pendidikan Agama Islam di sekolah umum hanya sekedar melengkapi standar kurikulum saja. Pengalaman belajar siswa dalam bidang studi PAI ini tidak memadai untuk mencapai tujuan pendidikan islam. Hal ini karena beberapa factor yaitu sedikitnya waktu dan kurang menariknya pelajaran ini bagi siswa. Untuk itu usaha sadar yang dilakukan guru pendidikan Agama Islam adalah menerapkan metode Quantum Teaching yang mana dengan prinsip-prinsip dalam quantum teaching tersebut akan merubah segalanya ke arah yang lebih baik karena siswa akan senang dan menikmati pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
Dari uraian tentang Quantun Teaching diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
Quantum teaching yang merupakan metode pengajaran mutakhir adalah memadukan dan menyempurnakan metode pengajaran yang telah ada sebelumnya.
Dalam Quantun Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan penciptaan lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan memperoleh suatu penguat (reinforcer) dan akan mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Dalam pembelajaran Quantun Teaching, murid akan lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri. Penerapan pembelajaran Quantun Teaching akan menjadikan interaksi-interaksi yang menggubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka dan orang lain.
.Di dalam Quantun Teaching, proses belajar siswa dimulai/beranjak dari informasi atau sesuatu yang telah ada atau diketahui siswa sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka peajari.
Meskipun secara eksplisit belum ada sarjana Muslim yang mengembangkan metode quantum teaching ini namun dalam dalam al-Qur’an dan Hadits terdapat petunjuk-petunjuk umum yang memungkinkan metode Quantum Teaching tersebut dapat dikembangkan.
Dalam menghasilkan lulusan pendidikan Islam yang terbina seluruh potensinya serta memiliki rasa percaya diri, kreatif,inovatif, kritis dan demokratis, kini sudah saatnya para guru yang mengajar di madrasah-madrasah, sekolah Islam dan Perguruan Tinggi menggunakan metode ini. Dengan demikian maka lulusan pendidikan Islam mampu bersaing dalam era globalisasi yang mulai menerpa seluruh kehidupan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam
DAFTAR PUSTAKA
Yunus, Muhammad, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Yayasan al-Hidayah,1965
Nata, Abuddin Manajemen Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2003
DePorter, Bobbi, dkk, Quantum Teaching, Bandung : Kaifa,2003
Hartono, dkk. PAIKEM, : Pekanbaru : Zanafa, 2008.
Masyhud, Sulthon dan M. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren, Diva Pustaka, Jakarta, 2004
Ismail Thoib, Wacana Baru Pendidikan, Genta Press,Yogyakarta, 2008
Dawan, Ainurrafiq dan Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, Listafariska Putra, 2005
Sabtu, 29 Januari 2011
INDAHNYA JADI PEREMPUAN
Karena engkau seorang wanita
Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan di bawah ini:
Wanita auratnya lebih susah di jaga ( lebih banyak) di banding lelaki.
Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar ruamh tetapi tidak sebaliknya.
Wanita sanksinya ( apabila menjadi sanksi) kurang berbanding lelaki
Wanita menerima warisan lebih sedikit di banding laki-laki
Wanita wajib taat pada suaminya, sementara suami tidak perlu taat pada isteri
Wanita kurang dalam beribadat karana adanya massalah dan nifas yang tak ada pada lelaki.
Itu sebabnya mereka tidak henti- hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA”. Pernah kah kita lihat sebaliknya(kenyataannya).
Benda yang mahal harganya akan di jaga dan di belai serta di simpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan di biar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorrang wanita.
Wanita perlu taat pada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat pada ibunya 3 kali lebih utama dari pada bapaknnya.
Wanita menrima warisan lebih sedikit dari pada lelaki, tetapi tahukah harta harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu di serahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/ wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anaknya.
Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melhirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia di do’akan oleh segala mahluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jikaia mati karena melahirkan adalah syahid dan surge menantinya.
Di akhirat kelak, seoran lelaki akan di pertanggung jawabkan terhadap 4 wanita,yaitu: isterinya,ibunya, anak perempuanya dan saudara perempuannya. Artinya bagi seorang wanita tanggung jawab terhapdapnya di tanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
Seorang wanita boleh memasuki pintu syurrga meluli pintu surga yang mana saja yang di sukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu ; sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
Seorang laki- laki wajib berjihad fuisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung jawabnyakepada ALLAH, maka ia akan turut menrima pahala setara seperti pahala orang perrgi jihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
MassyaALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita… kan
Ada sabda rosullullah bahwa ketika kita memiliki duua atau lebih anak perempuan, maampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah yang baik maka surge adalah jaminannya.( untuk anak laki-laki berlaku kaidah yang berbeda.
Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tuanikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya syurga menantimu.
Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan di bawah ini:
Wanita auratnya lebih susah di jaga ( lebih banyak) di banding lelaki.
Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar ruamh tetapi tidak sebaliknya.
Wanita sanksinya ( apabila menjadi sanksi) kurang berbanding lelaki
Wanita menerima warisan lebih sedikit di banding laki-laki
Wanita wajib taat pada suaminya, sementara suami tidak perlu taat pada isteri
Wanita kurang dalam beribadat karana adanya massalah dan nifas yang tak ada pada lelaki.
Itu sebabnya mereka tidak henti- hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA”. Pernah kah kita lihat sebaliknya(kenyataannya).
Benda yang mahal harganya akan di jaga dan di belai serta di simpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan di biar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorrang wanita.
Wanita perlu taat pada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat pada ibunya 3 kali lebih utama dari pada bapaknnya.
Wanita menrima warisan lebih sedikit dari pada lelaki, tetapi tahukah harta harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu di serahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/ wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anaknya.
Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melhirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia di do’akan oleh segala mahluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jikaia mati karena melahirkan adalah syahid dan surge menantinya.
Di akhirat kelak, seoran lelaki akan di pertanggung jawabkan terhadap 4 wanita,yaitu: isterinya,ibunya, anak perempuanya dan saudara perempuannya. Artinya bagi seorang wanita tanggung jawab terhapdapnya di tanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
Seorang wanita boleh memasuki pintu syurrga meluli pintu surga yang mana saja yang di sukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu ; sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
Seorang laki- laki wajib berjihad fuisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung jawabnyakepada ALLAH, maka ia akan turut menrima pahala setara seperti pahala orang perrgi jihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
MassyaALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita… kan
Ada sabda rosullullah bahwa ketika kita memiliki duua atau lebih anak perempuan, maampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah yang baik maka surge adalah jaminannya.( untuk anak laki-laki berlaku kaidah yang berbeda.
Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tuanikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya syurga menantimu.
Rabu, 26 Januari 2011
MANAJEMEN KELAS
Manajemen kelas merupakan berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Manajemen kelas sangat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, di dalamnya mencakup pengaturan orang (pesrta didik) dan fasilitas yang ada.
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas.
Dalam kenyataan sehari-hari kedua jenis kegiatan itu menyatu dalam kegiatan atau tingkah laku guru sehingga sukar dibedakan. Namun demikian, pembedaan seperti itu sangat perlu, terutama apabila kita ingin menanggulangi secara tepat permasalahan yang berkaitan dengan kelas.
Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.
Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting.
Usman dalam salah satu bukunya mengemukakan bahwa suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur murid dan sarana pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran.
Di sini jelas sekali betapa pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif pula.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga
terciptanyaa suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang optimal menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif.
Setidaknya ada tujuh pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk pengelolaan kelas.
Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan..
BAB II PEMBAHASAN
1.PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Berbagai definisi tentang pengelolaan kelas yang dapat diterima oleh para ahli pendidikan, yaitu :
a. Perangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan menguragkan tingkah laku yang tidak diinginkan.
b. Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio emosional kelas yang positif.
c. Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Dari ketiga definisi diatas, masing-masing mempunyai asumsi yang berbeda-beda. Para ahli menggabungkan ketiga dimensi itu menjadi definisi yang bersifat pluralistik, yaitu bahwa pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, menghubungkan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
2. MASALAH-MASALAH PENGELOLAAN KELAS
Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan didalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis juga, yaitu yang menyangkut pengajaran dan yang menyangkut pengelolaan kelas. Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan. Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengajaran dan masalah pengelolaan harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan.
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
1. Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok;
2. Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
3. Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Dalam salah satu tulisannya Raka Joni mengupas tentang pengelolaan kelas. Menurutnya pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai guru. Pengelolaan kelas berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1. Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
• Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak (memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
• Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
• Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang.
• Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa.
1. Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari perhatian.
2. Jika guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
3. Jika guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
4. Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2. Masalah Kelompok :
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
1. Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
2. Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
3. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
4. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
5. Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu. Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
6. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung. Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja. Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
7. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
3. PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan
1. Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Kendati demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
2. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding).
Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
Selain itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat; memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.
Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.
3. Group Process Approach
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness.
4. Pendekatan Otoriter
Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
a. perintah dan larangan
b. penekanan dan penguasaan
c. penghukuman dan pengancaman
d. Pendekatan perintah dan larangan
5. Pendekatan Permisif
Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan
pengajar yang memaksimalkan kebebasan pembelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga pembelajar bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan pembelajar. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri pembelajar.
a. Tindakan pendekatan pengalihan dan pemasabodohan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh pembelajar:
•Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
•Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan .
•Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya
•Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain
•Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
b. Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan. Sekali lagi pengajar memandang pembelajar telah mampu meiakiikan sesuatu dengan prosedur yang benar. “Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas. Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama pembeiajar bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun. Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja pembelajar belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi pembelajar merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu. Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah. Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul. Pihak pengajar dan pembelajar tampak bebas, kurang memikat.
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
Masalah-masalah yang sudah dijelaskan diatas merupakan masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah individual peserta didik, sedangkan yang menyangkut kelompok yaitu kelas kurang kohesif atau kurangnya kepaduan antar sesama. Hal ini biasanya dikarenakan alasan jenis kelamin, suku, tingkatan, sosial ekonomi, dan sebagainya. Seringkali ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan norma-norma yang telah disepakati sebelumnya yang dilakukan oleh kelompok, terkadang kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya, kelompok juga cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap, bahkan ada juga siswa yang sengaja malas atau semangat kerjanya rendah sebagai semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair.
Pendekatan dalam manajemen kelas oleh guru dapat dilakukan dengan berbagai ciri, diantaranya yaitu pendekatan otoriter. Pada pendekatan ini guru merasa bahwa siswa perlu diawasi dan diatur. Pendekatan intimidasi dilakukan untuk mengawasi siswa dan menertibkan siswa dengan cara intimidasi. Selanjutnya yaitu pendekatan permisif, yaitu guru melakukan pendekatan dengan memberikan kebebasan kepada siswa mengenai apa yang ingin dilakukan siswa, sedangkan guru hanya memantau. Jika guru menggunakan pendekatan resep masakan berarti siswa harus mengikuti dengan tertib dan tepat hal-hal yang sudah ditentukan, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Guru juga bisa menggunakan pendekatan pengajaran yang bisa dilakukan dengan menyusun rencana pengajaran dengan tepat untuk menghindari permasalahan perilaku siswa yang tidak diharapkan.
Selain itu, ada juga pendekatan modifikasi perilaku yang mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa. Pendekatan iklim sosio-emosional lebih mengutamakan hubungan sosial yang terjadi antara guru dan murid, yaitu saling menjalin hubungan yang positif antara guru dan siswa. Yang terakhir adalah pendekatan sistem proses kelompok atau dinamika kelompok yang berusaha meningkatkan dan memelihara kelompok kelas yang efektif dan produktif.
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas.
Dalam kenyataan sehari-hari kedua jenis kegiatan itu menyatu dalam kegiatan atau tingkah laku guru sehingga sukar dibedakan. Namun demikian, pembedaan seperti itu sangat perlu, terutama apabila kita ingin menanggulangi secara tepat permasalahan yang berkaitan dengan kelas.
Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.
Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting.
Usman dalam salah satu bukunya mengemukakan bahwa suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur murid dan sarana pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran.
Di sini jelas sekali betapa pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif pula.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga
terciptanyaa suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang optimal menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif.
Setidaknya ada tujuh pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk pengelolaan kelas.
Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan..
BAB II PEMBAHASAN
1.PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Berbagai definisi tentang pengelolaan kelas yang dapat diterima oleh para ahli pendidikan, yaitu :
a. Perangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan menguragkan tingkah laku yang tidak diinginkan.
b. Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio emosional kelas yang positif.
c. Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Dari ketiga definisi diatas, masing-masing mempunyai asumsi yang berbeda-beda. Para ahli menggabungkan ketiga dimensi itu menjadi definisi yang bersifat pluralistik, yaitu bahwa pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, menghubungkan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
2. MASALAH-MASALAH PENGELOLAAN KELAS
Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan didalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis juga, yaitu yang menyangkut pengajaran dan yang menyangkut pengelolaan kelas. Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan. Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengajaran dan masalah pengelolaan harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan.
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
1. Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok;
2. Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
3. Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Dalam salah satu tulisannya Raka Joni mengupas tentang pengelolaan kelas. Menurutnya pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai guru. Pengelolaan kelas berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1. Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
• Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak (memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
• Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
• Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang.
• Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa.
1. Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari perhatian.
2. Jika guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
3. Jika guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
4. Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2. Masalah Kelompok :
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
1. Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
2. Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
3. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
4. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
5. Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu. Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
6. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung. Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja. Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
7. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
3. PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan
1. Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Kendati demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
2. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding).
Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
Selain itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat; memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.
Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.
3. Group Process Approach
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness.
4. Pendekatan Otoriter
Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
a. perintah dan larangan
b. penekanan dan penguasaan
c. penghukuman dan pengancaman
d. Pendekatan perintah dan larangan
5. Pendekatan Permisif
Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan
pengajar yang memaksimalkan kebebasan pembelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga pembelajar bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan pembelajar. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri pembelajar.
a. Tindakan pendekatan pengalihan dan pemasabodohan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh pembelajar:
•Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
•Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan .
•Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya
•Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain
•Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
b. Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan. Sekali lagi pengajar memandang pembelajar telah mampu meiakiikan sesuatu dengan prosedur yang benar. “Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas. Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama pembeiajar bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun. Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja pembelajar belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi pembelajar merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu. Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah. Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul. Pihak pengajar dan pembelajar tampak bebas, kurang memikat.
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
Masalah-masalah yang sudah dijelaskan diatas merupakan masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah individual peserta didik, sedangkan yang menyangkut kelompok yaitu kelas kurang kohesif atau kurangnya kepaduan antar sesama. Hal ini biasanya dikarenakan alasan jenis kelamin, suku, tingkatan, sosial ekonomi, dan sebagainya. Seringkali ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan norma-norma yang telah disepakati sebelumnya yang dilakukan oleh kelompok, terkadang kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya, kelompok juga cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap, bahkan ada juga siswa yang sengaja malas atau semangat kerjanya rendah sebagai semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair.
Pendekatan dalam manajemen kelas oleh guru dapat dilakukan dengan berbagai ciri, diantaranya yaitu pendekatan otoriter. Pada pendekatan ini guru merasa bahwa siswa perlu diawasi dan diatur. Pendekatan intimidasi dilakukan untuk mengawasi siswa dan menertibkan siswa dengan cara intimidasi. Selanjutnya yaitu pendekatan permisif, yaitu guru melakukan pendekatan dengan memberikan kebebasan kepada siswa mengenai apa yang ingin dilakukan siswa, sedangkan guru hanya memantau. Jika guru menggunakan pendekatan resep masakan berarti siswa harus mengikuti dengan tertib dan tepat hal-hal yang sudah ditentukan, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Guru juga bisa menggunakan pendekatan pengajaran yang bisa dilakukan dengan menyusun rencana pengajaran dengan tepat untuk menghindari permasalahan perilaku siswa yang tidak diharapkan.
Selain itu, ada juga pendekatan modifikasi perilaku yang mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa. Pendekatan iklim sosio-emosional lebih mengutamakan hubungan sosial yang terjadi antara guru dan murid, yaitu saling menjalin hubungan yang positif antara guru dan siswa. Yang terakhir adalah pendekatan sistem proses kelompok atau dinamika kelompok yang berusaha meningkatkan dan memelihara kelompok kelas yang efektif dan produktif.
Langganan:
Postingan (Atom)